Tampilkan postingan dengan label Rumah Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Kenangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2016

MENJADI HUJAN

September silam, menarik sekali rencana Tuhan, membiarkan kita berpapasan membaca tulisan mata penuh canda tawa. Kita menghabiskan semusim dalam sekejap. 

Apakah kau merasakan sesuatu yang tertinggal atau semua hanya menjadi hujan?

Kiranya aku, mungkin akan kau sebut hujan. Sebab, Pesan singkatmu semalam seakan basah tak pernah mengering tanpa menyesali kehadirannya turun ke bumi. Mungkin kau pernah menghitung rintik-rintiknya atau memang masih menghitungnya.

Maafkan aku!

Andai memang benar, menjadi hujan. Hujan yang tanpa sengaja menghujani hatimu, hujan yang membuatmu nyaman, hujan yang membuatmu tak ingin merasakan kemarau dan hujan yang terus kau harapkan membasahi hatimu. Jika itu alasanmu, maka aku akan tetap menjadi hujan. Hujan yang banyak orang tidak menginginkannya serta hujan yang banyak orang membencinya. Dengan demikian, aku hanya untukmu yang menyukai hujan karena yang menginginkanku hanya dirimu, hatimu.

Senin, 07 November 2016

CATATAN TERPINGGIRKAN

Dengarkan baik-baik!!!

Aku telah dirajam pertanyaan kejam, kala mentari pagi berkembang sampai senja menjurang malam. Kehidupanku tak sesempurna yang kau bayangkan, aku bukanlah pangeran yang sedang membangun kayangan. Sejak kau ajari aku menyapa kehilangan, hidupku berantakan dan aku betah merasakan. Aku tak pernah segan mengatakan bahwasanya aku adalah penikmat sepi yang meringkuk di balik jeruji, mengemis waktu tuk mengembalikan yang telah tercuri atau menanti mati. Jangan kau mengkhawatirkan keberadaanku yang berantakan melintasi waktu. Biarlah aku bertahan di balik celah kesepian ini, memeluk kenangan dan mimpi yang telah dipatahkan takdir.

Akulah pemuda bernasib malang, merayakan kehilangan dengan hidup berantakan. Setiap hari harus menelan kerelaan dan berupaya cerdas menggenapi waktu agar tetap hidup menciptakan jejak. Seperti yang kau tahu, mataku adalah kamera yang kini sudah tak memiliki hari baik lagi. Lensanya pudar karena tak lagi kurawat seperti dulu saat bersamamu. Tak perlu kau datang memberi tisu kepadaku yang tak berguna sama sekali. Sebab, kerusakannya tak berbentuk. Hanya menjadikanku pelamun yang nyaman termakamkan kenangan.

Aku tak ingin merapikan hidup. Tersebab bosan mengkadar pinta tanpa penanda. Aku memilih kusam tak beraturan tanpa arah, karena itu jauh lebih menyenangkan. Jangan takut, aku takkan memberontak takdir yang tak tercatat. Percayalah, biarpun harus kuarungi hidup dengan berantakan, itu adalah pilihanku. Kau tak perlu menjadi penjahit demi menyelamatkanku. Sebab, kita hanya dipertemukan untuk menjadi sebuah kenangan. Kau dan aku adalah hasil dari kreativitas Tuhan yang merancangnya dengan berbagai balutan. Seperti butir hujan, cahaya mentari, rumput ilalang dan debu. Jangan kau kasihani aku dengan perhatianmu, aku tak membutuhkannya.

Bagiku, semuanya gelap dan hancur. Jariku saja takkan mampu berhitung, berapa lamakah aku harus menanggung?

Minggu, 06 November 2016

AMINKANLAH!!!

Sejak pertama kali kita diperbudak jarak, aku mulai menghibur diri dengan sajak “pernah dan masih”. Hidupku hanya puisi yang membicarakan tentang kemarau dan hujan. Aku telah dikutuk menggigil dalam menyembunyikan luka atas rindu yang hilang alamat. Aku berusaha menyinggahi alam mimpi guna melipat jarak yang masih bernyawa. Bagaikan pintu yang kehilangan ketuk dan ruang tamu yang lupa arti kedatangan serta menjadikan dua sisi asing yang saling menikmati kesakitan.

Semenjak jarak mematahkan harap, aku dan puisi sering kali salah paham. Ketika kemilau senja hadir menemani sepi yang menjulang tanya batinku, tak pernah kupahami sepenuhnya bahwa kita memang ditakdirkan sebagai kenangan. Kita adalah lonceng sekolah yang tak lagi berbunyi saat libur dimulai dan sebuah tunggu pun kini menjadi puisi mati.

Kini aku hanya mampu mengucap dengan mata sayu sembari menggenggam payung tuk berlindung. Tak ingin berupaya menculik matahari karena yang terjadi sama, terisak. Menyelundupkan rindu pun tiada gunanya, tak membawa hati bahagia. Terlalu banyak aku mencatat kenangan hingga besar kepalaku mengakar tanpa enggan mengaku terengah-engah mencari temu.

Akankah cinta kita tetap terlihat indah kala senja menyapa sambil menangis di bawah hujan?

Puisiku telah kehabisan kata untuk mewakli rasa. Barangkali kita sama, ingin mengecap indahnya tanpa harus sembunyi. Sulit dipahami, skenario yang ada bagaikan gelas yang membentur lantai. Ini serupa firasat takdir yang berdenting sendiri, tentang sunyi-sunyi yang berujar dan tentang ranting-ranting yang bernyanyi.

Sehelai harap yang kukirimkan dari sisa patahan tersebab jarak tak pernah beralamat lengkap. Padahal, aku ingin menyelipkan rindu yang menyemut dalam milyaran tanya terajam. Seperti seutas tali yang tak pernah tersimpul rapi, demikianlah rinduku yang terulur tanpa ujung bernama temu.

Akulah penulis puisi yang tak lagi punyai pembaca, berulang-ulang sajak kutulis harus kuledakkan sendiri dengan begitu cemas. Berlarik-larik sajak kulebur bersama udara yang kuhirup. Beradu sudah ungkapan takjub mengkerut sebagai ruang kenang bertandang pilu. Aku tak kuasa memisahkan kepayahan yang berkelakar ketika meminjamkan sebilah belati pada sepi yang menggambarkan pesakitan kesendirian ini.


Dimana kehilangan itu berada? Aminkanlah!!!

Kamis, 03 November 2016

BAHASA RINDU

Siapa bilang, melupakan itu gampang?

Andai semudah menghapus tulisan dan mematikan lampu, mungkin saat ini aku sedang tertawa. Sebab, tak perlu lagi menguras tenaga dan pikiran untuk berkerja keras melarikan ingatan. Bahkan saat hujan berceritapun aku tak perlu berpura-pura untuk tidak  membicarakanmu lagi. Namun, sampai detik ini juga aku masih larut dalam kabutnya kisah kita yang terbuang oleh waktu. Aku masih membayangkan mimpi yang dulunya kita jadikan topik percakapan setiap hari. Dan aku masih membicarakannya kepada alam, baik itu siang maupun malam.

Hidup ini sudah kunikmati, walau sekedar berimajinasikan kenangan yang tersusun rapi di perpustakaan hati. Meskipun sekarang ini berharap untuk melupakan tak ubahnya merasakan kesedihan. Aku berupaya menyadarkan penat yang membosankan. Tanpa basa-basi proses melupakan tergenang pasrah memeluk kenangan, menjadikan banjir menjenguk hati yang terkikis kemungkinan. Dan aku mencoba untuk merayu langit agar tidak  menyalahkan hujan, karena aku menikmati setiap derasnya untuk mengetuk pintu takdir sebagai cara menuliskan harapan canggung melupakanmu dalam kerinduan.

Siapa bilang, melupakan itu gampang?

Ketika rindu memanggil, hatiku sama sekali tak bisu. Bercakap dalam hening meskipun tiada lawan kata. Semua aturan memagariku dengan kebiasaan baru, mengenangmu. Kemudian, ribuan puisi kutulis di jantung ku sendiri bahkan matahari dan bulanpun harus bergantian menyaksikan diriku menanggung rindu yang seiringan memutar waktu menunggu bintang jatuh. Begitulah cara Tuhan menghukumku, bagaimana bisa aku melupakanmu sedangkan menuntaskan rindu saja aku tak mampu.

Demi Tuhan, aku merindukan dialog. Sebab, hujan yang kunikmati selama ini tak meninggalkan obrolan. Ia hanya mampu menceritakan butir-butir kenangan dan melukis bayangan wajahmu yang menjelma nyata. Mungkin hanya sekedar menguji hati saja agar tak luntur disiksa rindu ketika debar jantungku mengalah dengan mata tertutup.

Siapa bilang, melupakan itu gampang?

Adapun aku menertawakan diriku sendiri dengan gerak bibir tanpa suara. Menikmati adegan hidup yang salah. Sejak daun jatuh menghadirkan senyuman fatamorgana, sesekali hujan yang deras mendadak menjadi gerimis. Gerimis yang kuanggap sedang memahami kesepianku melebihi puisi. Rasanya, ingin sekali aku dilempar oleh masa lalu agar tak lagi menulis namamu. Sebab, membicarakanmu dengan alam merupakan hukuman terberatku. Sering kali aku tersenyum pada bayangan yang terpantul di genangan air untuk sekedar menarik kembali kata-kataku yang sempat ingin melempar ingatan saat membaca suratmu. Namun mesin waktu menentang arus hidup, hidup tak lagi sama. Kini yang tertinggal hanya serupa foto tua terbingkai rapi dengan cinta yang tak bersisa.

Lalu, aku mulai lirih mengeja namamu tiap pagi dan senja tenggelam. Hanya bisa kuperhatikan bayangan di jendela dengan perasaan yang teramat ngilu. Aku berusaha untuk berhenti membayangkan kenangan walaupun aku bukan matahari yang mampu terbit di tengah hujan. Begitu aku semakin mencoba, semakin tiada pembatas kenangan pula.

Siapa bilang, melupakan itu gampang?

Ah, andai semudah yang kau katakan, aku tak pernah ingin merawat rindu dari matahari terbit sampai menemani laut yang sedang patah hati. Kau tahu dosis paling tinggi membaca pikiran guna menerawang hatimu yang berpaling adalah jadi mentari pagi. Saat hatiku kedinginan bicara tentangmu kepada guling, bantal, bahkan selimut yang teracak-acak. Setiap langkah ini mondar-mandir, tiada lain yang menari di alam pikiranku selain dirimu. Mencarimu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, tetap ku cari meskipun melukai ujung-ujung jemariku.

Mungkin semua ini adalah hadiah dari Tuhan untuk diri ini yang memiliki kegemaran merinduimu. Antara ada dan tiada saat menciummu dalam hujan, saat mendekapmu di malam-malam panjang, dan yang selalu menitipkan sedih pada langit.

Cintaku sederhana, meskipun sering kali menukar rindu dengan menelpon bayangmu untuk sekedar menafsirkan sekerat masa lalu kita yang karat di matamu. Begitulah caraku meneguk sepi, menjadikan kenangan serupa embun yang meresap abadi di sehelai daun.

Rasanya, sudah tak karuan lagi bolak-balik mengingatmu yang kadaluarsa mencintaiku. Andai saja semua rasa itu bisa ku kramasi dengan sebuah perapian, mungkin aku tak sedingin ini memikirkanmu. Namun, rasa itu sama sekali tak mampu kubinasakan dengan apapun. Bahkan aku telah mencoba dengan berbagai cara. Pernah ku larung ke laut lalu tenggelam. Namun, ia timbul lagi. Pernah ku terbangkan mendarat di bulan. Tapi, ia kembali lagi. Pernah juga aku menguburnya di halaman depan. Akan tetapi; dia hidup lagi.

Maafkan aku yang hanya punya ingatan, karena aku adalah puisi yang ditinggalkan pembaca yang kerap mencatat kenangan cerita kupu-kupu. Izinkan aku mengenangmu dalam rindu yang tak kasat mata, tak terbaca, tak terjemahkan kata dan tak kau pahami maknanya. Rinduku adalah suatu dosa yang kau biarkan sengsara dan bencana yang kau biarkan melanda. Kabarmu telah sunyi dan tak dapat lagi kurajut kalimat dengan sinonim yang tepat untuk bertanya. Padahal, hanya sekedar mengundang kenangan bersamamu bukannya untuk berpesta. Astaga, rupanya permintaanku terlalu besar sehingga kau pun bosan menerka keadaannya.

Kini tak berjarak pandanganku mengarungi jalan melalui jendela kamar. Kuutus puisi rinduku diantara dua bait mencarimu jauh yang jauh. Namun, hanya ada percuma. Ternyata aku hanya sedang berkunjung ke masa silam yang pernah kita menulisnya sepasang nama dengan sebatang ranting di permukaan tanah. Dan hujan yang sedang turun sebegitu deras, serupa takdir embun di pelupuk mata.

Ku peringatkan sekali lagi, siapa bilang melupakan itu gampang?

Aku terlalu mengenalinya, rindu yang tak kenal waktu senantiasa gaduh melukai hati. Bukan cuma halusinasi saja yang mudah membuatku berpuisi, yang mampu diucap mata juga di dalam sajaknya. Bagaimana mungkin airmata rindu meminjamkan kebahagian agar mampu melelang duka yang terlalu pagi berkunjung dalam hidup.


Pada akhirnya, aku hanya menjadi manusia yang dilumat rindu ketika hujan tak kunjung reda dan mengingatmu dalam hal-hal yang sederhana. Merasakan bahagia seperti ditiup angin tanpa sempat menginap sedetikpun. Begitulah aku yang melarut namamu meski harus merasakan perih bermusim-musim lamanya. 

Kamis, 20 Oktober 2016

KEPADAMU RUANG REDUP (5.45)



Kepadamu ruang redup...

Takkan pernah rajuk membujuk potret kusam masa silam. Mulanya sendu berangin, melayang-layangkan daun yang ingin kembali pada rantingnya yang masih mengangah sigap di atas tuan petuah. Bukan kembali meranting, tapi, ia melayang semakin jauh dan hilang. Begitu malang tuan yang tak berniat membuang harus merayakan kehilangan. Tak kepalangtanggung sumpah-sumpah bencanapun tercaci maki memakan daging hati, melumat seisinya yang bersemikan cinta suci.

Kepadamu ruang redup...

Bunga malam kala itu menumpahkan embun tak berwadah. Mengalir dengan deras membasahi permukaan yang ada. Gubahan sukma tersia pula oleh pinta logika suara, sepasang jiwapun berputus asa kala mendayung perahu di samudera berbeda. Tak kuasa lagi hati menuai diksi tuk memanipulasi cinta yang suci. Bertahan diri menanggung segala derita misteri.

Kepadamu ruang redup...

Kini pusaka cinta suci yang tersemat di hati, mulai berbenah mata. Meratapi lentera hidup yang kini tak bermakna. Ia mencoba Mencari sejumlah obrolan singkat melalui semesta. Dalam keterasingan jiwa yang berduka akan temu yang tak kunjung tiba. Setiap pukul lima empat puluh lima sore menjadi pilihan terbaiknya. Kala manja bersama angin di pesisir yang diramaikan ombak, sering pula dihiasi sepasang merpati bertengger di atas karang yang terselamat akan kebasahan serta dilengkapi dengan langit kemerahan yang meluas ke seluruh penjuru mata angin. Ratapannya singkat, mewakili perasaan hebat yang terguncang dahsyat. Dan kini mulai membengkak dengan senyum kepalsuan.

Kepadamu ruang redup...

Tiada bunga yang bermekaran ingin layu dalam nafas yang teramat panjang. Bagai pucuk yang tak beranak sama sekali di sekitarnya. Menjadikan sepi merayukan sendu bernuansakan cinta, guna menghitung-hitung hari yang terus berganti. Berharap relung terobati meskipun tiada terikat janji ketika menyuarakan mimpi. Sungguh malangnya nasib dua hati yang kini beradaptasi menghidupkan kembali sejumlah asa yang tersia masa. Menjaga pusaka cinta yang termakan jarak. Tanpa peralihan jiwa, tetap bertahta tanpa sepengetahuan bersama.

Rabu, 19 Oktober 2016

KITA DAN KEADAAN

Bila saja ada yang lebih menyenangkan dari mengingatmu
Mungkin aku tak sebegitu pilu menghabiskan waktu
Bukan niat beralasan tuk merapuh karenamu
Tak sedikitpun niatanku melibatkanmu mendesak waktu mencari temu

Bila mungkin kau tahu tentang aku
Adakah kesamaan diantara kita prihal merindu
Atau kau tak mau membeberkan beban agar senyummu tak hilang
Lengkap dengan deritamu yang kau simpan diam-diam

Pandanganku tak mampu menembus langit biru
Guna menerka jejakmu yang terhapus debu
Yang pernah pamit menyuarakan mimpi jauh
Menghilang untuk sementara waktu dari kehidupanku

Tanpa berita aku menderita tak terkira
Hidup yang harus ku susun rapi berantakan sudah
Barangkali aku terlalu membenci kisahnya
Yang mendebatkanku dengan keadaan yang kau juga tak suka

Suara-suara angin menghampiriku, membadai lara meributkan tanya
Sudahkah terhitung berapa lamanya?
Sudahkah kau merasa diri bagai hampa sejati?
Ataukah kau sedang menikmatinya? Mungkin saja begitu.
Hingga larik hujan tak lagi mampu memberi sajaknya
Langitpun tak mampu bangkit akan redupnya

Hai...
Bagaimana kabar mimpimu?

Kamis, 13 Oktober 2016

SECANGKIR KOPI MASA LALU

Hasil gambar untuk secangkir kopi

Sering kali aku berbicara dengan jarum jam dalam lamunanku, sekedar untuk memastikan tanda tanya raksasa dalam pikiran sambil menikmati secangkir kopi masa lalu yang memberadakanku tepat di lorong beranda kenangan pertama kali kita bertemu.

Sering kali aku berpikir, apa gunanya pertemuan itu? Sesuatu yang melibatkan dua hati terpedaya oleh buaian kasih sayang tak terduga. Tanpa inisiatif, rindu merenovasi hati bila sedetik saja tidak bertemu. Sedangkan kini menjadi suatu perkara hati saat kreatifitas jarak merumuskan kita pada lingkaran yang berbeda tanpa ada perpisahan. Perkara ini hanya kebetulan sama halnya dengan pertemuan kita yang aku anggap kebetulan juga. Lalu, bagaimana dengan "rindu"? Ia seperti anak kecil yang menggemaskan selalu bermain dan bertanya-tanya lugu tanpa pamrih.

Ketidakhadiran yang selalu hadir sering kali membuat secangkir kopi masa laluku lambat habis. Mungkin aku terlalu menikmati hitam pekat pahitnya. Sampai akhirnya aku lupa sudah berapa lama aku menghabiskan waktu berbicara dengan jarum jam. Padahal, yang ku bicarakan hanya sekedar perasaan yang menjadi ibu dari segala harapan tentang pertemuan silam. Namun, itu menjadikanku menipu diri dengan keindahan-keindahan yang semu. Seperti mengendalikan pesawat terbang sesuka hati, merekayasa dunia untuk mengembalikan waktu yang telah jauh berada di belakangku.

Pada akhirnya, secangkir kopi masa lalu yang kunikmati sedari tadi menuang kesimpulan. Bahwa harapan yang ada telah bertransformasi menjadi cinta. Cinta yang seharusnya kulogikakan tanpa pandang malu, gengsi, dan alasan lain yang membuat terpendam. Selama ini aku cenderung membungkam logika yang memang benar adanya suka kurang ajar dalam berkata jujur. Aku terlambat menyadarinya bahwa logika adalah penasihat yang mencegahku sakit hati dari harapan yang menumbuhkan cinta. Dia sungguh realistis meskipun cara menjelaskannya menampar pipi. Sudahlah, terlalu banyak aku berbicara pun takkan berubah keadaan yang ada. Tidak semua orang beruntung dengan harapan.

  

Senin, 10 Oktober 2016

SEPULUH BARIS DALAM DIAM

Bagian tubuhku yang mengasingiku sendiri
Mungkin terlalu muak akan prilaku diri
Yang terus berpartisipasi mematahkan hati sendiri
Membiarkan masa lalu menjadi secangkir kopi
Yang teramat sering merayakan kehilangan
Yang benci tentang pengganti dan sering menghitung mundur untuk kembali

Bagian tubuhku kini tak bersahabat lagi
Mulai bosan dengan percakapan mengenai jarak
Mulai benci pertanyaan mengenai pertemuan
Memakiku dengan sepuluh baris dalam diam




Sabtu, 08 Oktober 2016

LARUT

Di ujung dini hari ku terusik
Bayangan masa lalu yang ku cemburui
Drama singkat nan kritis berujung ironis
Tak lagi ku temui sintaksis hati yang praktis
Semua cukup pasif akal sehat tak lagi aktif
Asaku menipis serentak hati pun terhiris

Aku mulai beradaptasi dengan kebiasaan
Menawar kemungkinan menjemput mimpi yang hilang
Padamu jejak kenangan aku membangkang
Menginginkan terulang malah terjurang

Kejamnya kelam mengantarku pada ketidakwarasan
Tiada malam ku lalui dengan tenang
Hampir setiapnya ku sudahi bersama igauan
Lelah dan bimbang tiada perbandingan
Aku betah terhukum tanpa penghakiman
Menjadikan suram lengkap dengan kesepian
Yang tak pernah habis ku ceritakan

Kamis, 06 Oktober 2016

Bukan Pelupa Yang Hebat





Bukan Pelupa Yang Hebat
Boby Julian

Semua tak sama. Memang benar katamu, “Kita akan berusaha menolak saat senja datang menghampiri kita”. Awalnya, aku sempat berfikir semua akan baik-baik saja sebelum dan setelah kita menjadi bagian yang tak lagi utuh. Namun, aku tak bisa membantah dan kepada entah aku bertanya tolol, sendirian, dan mulai menjejaki remang hidup yang terasa begitu suram. Tak terhitung berapa banyak senja yang datang menertawakanku karena melihat kebodohanku menjadi pengingat sejati tentangmu dan tentang kita. Sebenarnya, aku merasa malu pada semesta karena ketidakrelaan ini.
Aku masih belum mampu beranjak dari masa lalu kita. Terus terang saja, aku masih ingat saat terakhir kita bertemu di pesisir yang disertai ombak-ombak kecil begitu berisik dilengkapi dengan hembusan angin yang begitu romantis. Akan tetapi, semua itu merupakan malapetaka hebat yang akhirnya menghujani kita berdua. Saat itu, kau menggenggam tangan ku begitu erat, sejenak kita larut dalam dekapan. Lalu, kau menangis sambil menunjukan sesuatu yang telah melingkar di jemarimu. Aku berusaha tegar melihatnya dan mencoba mengusap setiap air mata yang tumpah di pipimu. Kau pun mulai berbicara terbata-bata “sayang, inilah yang ingin ku jelaskan padamu di senja terakhir kita bertemu. Aku tak bisa lagi menunggumu, karena aku harus memenuhi permintaan kedua orang tuaku. Ini pilihannya bukan pilihanku. Maafkan aku yang tak mampu menolak”. Aku hanya berusaha lebih tegar saat itu, dengan perasaan hancur berderai ku memulai kata dengan sangat hati-hati “mungkin, ini jalan yang terbaik untuk kita. Apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak bisa apa-apa. Bukankah musuh terbesar pertemuan adalah perpisahan dan harusnya kita sadar, kita memang berbeda, mungkin inilah jawaban Tuhan agar kita mampu mendewasakan diri dan memahami suratan dariNya”  setelah itu aku pun pamit melangkah dengan tertatih dan sadar diri bahwa semua sudah berakhir.
Sebulan berlalu, aku sendiri menatap keindahan semesta ini dengan hati yang tak kunjung pulih. Aku hanya meronta-ronta tanpa suara memukul diri pada sengketa derita. Andai saja dulunya aku mau saat kau ingin perkenalkanku kepada orang tuamu mungkin semua takkan seperti ini. Namun, semua itu bukan tanpa alasan aku menolaknya. Aku sadar, aku belum pantas. Sebab, kita beda usia dan sisi lainnya lagi kau berkarir sedangkan aku masih berjuang untuk menemukan jati diriku. Bagaimana mungkin orang tuamu mau melihat anaknya menunggu untuk waktu yang cukup lama. Entahlah, aku tidak tahu siapa yang salah dalam kisah ini yang aku tahu kita ditakdirkan tidak untuk menjadi sepasang kekasih sebagaimana yang sempat kita impikan bersama.
Kini aku mulai melatih diri, rasanya begitu sakit setiap kali senja yang ku hadiri hanya sendiri dan paling menyakitkan lagi ketika angin mengantarkan debu yang menggugah diri akan masa lalu. Seperti kekonyolan, pada saat itu juga aku berharap embun menyambut malam untuk sekedar memulihkan keadaan yang ku beri nama kesepian. Ku katakan sekali lagi kepada entah “Semua tak sama, dari senja pergi hingga menjelang pagi. Aku bukanlah pelupa yang hebat. Sudah sekian purnama aku tidak lagi melihat senyumnya dan tawa indah dari bibirnya yang biasanya ku anggap sebagai surga kecil yang mengisi hari-hariku yang senantiasa menawarkan bahagia dan memberi damai tanpa diminta. Kini, semua telah tiada bahkan untuk melihat punggungnya saja aku tak mampu lagi”.
Pada akhirnya, banyak entah yang bertanya prihal aku dan hati yang betah sendiri. Sebenarnya, tidak ada alasan mengenai hal ini. Kalaupun ada itu hanya sebuah alasan yang ku paksakan ada. Baiklah, aku akan mencoba untuk mengurai alasan yang ku paksakan ada. Memang sudah cukup lama rasanya aku tidak lagi berurusan dengan yang namanya cinta. Aku memutuskan untuk menyendiri setelah yang terakhir kali bersamaku memilih untuk berhenti menunggu. Jujur saja, dia sedikit banyak meninggalkan bahagia lengkap dengan luka di dalamnya. Aku dan dia pernah berjuang bersama dalam doa dan nyata semoga indahnya cinta selamanya utuh. Tapi, aku mengerti bahwa “selamanya” itu tidak lama. Setelah peristiwa itu aku mencoba berdamai dengan keadaan. Merelakan yang sebenarnya tidak ku relakan. Bukankah musuh terbesar seseorang yang sedang ingin melupakan adalah kebiasaan. Oleh karena itu, aku telah terbiasa menghabiskan waktu bersamanya. Aku terlalu terbiasa dengan bau harum tubuhnya, tawa indahnya dan kemanjaannya. Butuh waktu untuk melupakan semua itu. Mungkin dengan alasan inilah, senja akan berhenti menertawakanku dan purnama takkan membiarkan lagi aku kesepian  karena mereka tahu aku bukanlah pelupa yang hebat.