Tampilkan postingan dengan label Bahasa Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Rindu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2016

GERIMIS YANG KRITIS

Hasil gambar untuk lelaki gerimis
Ranting pilu menulis kembali puisiku di dahan haru. Seperti rindu, sebagai rindu, pada jejak sebutanku di punggung senja kemarin kala itu tangkai kenangan berangsur-angsur menggeming mendesak rindu nan temu. Diamku menjadi lena yang membius aroma puitis jejak romantis pada bait-bait puisi yang tertulis, ibarat sampan kecil yang menjelajahi lautan gerimis dan ayat-ayat rinduku seperti tersihir pada sesuatu yang hadir, bayangmu.

Seiring dengan lamunanku, terbiar pula musim yang mengikuti perangkap sunyi yang kemayu. Tibalah waktu mendadak menjadikanku kasmaran karena dimanja rindu. Keresahan belum usai, pun tak terbatas waktu dan kali ini rindu ingin berjihad hebat melawan waktu dan jarak. Demi sebuah sapa atau sekedar menunaikan janji temu, karena rasa sesak detak rindu itu terletak sejajar di sebelah dada tempat pengabdian rasa bermuara.

Apatah benar kemungkinan temu itu menjejaki kita di tepian pasir bergaram? Ahk... aku hanya sekedar berharap tanpa titik lugas. Nyatanya prihal temu kosong, hanyalah sebatas bayang yang mengobrak-abrik tataan rindu yang mandiri.

Perlahan-lahan aku mulai mencoba menjadi manusia setabah tanah, meski harus melenyapkan prosa tanpa suara. Hanya sesumbar rindu saja, aku berpura-pura tegar mengkhatamkan puisi sendu. Lagi-lagi rindu sedang bersenandung, padahal atmosfer syaraf-syaraf kepalaku tak stabil seperti dulu. Dan pada akhirnya si pejemput puisi itupun paham, tentang si penyair penjelajah laut gerimis, suram dan tenggelam. Jasadnya dibawa malaikat inspirasi dan ruhnya tersangkut di punggung sepi.

Seandainya rindu ini adalah dongeng, mungkin aku tidak sekarat sedemikian bentuk bagaikan terkutuk, menunggu dipungut Tuhan dengan segera. Rasanya tak cukup puas memandangi wajahmu melalui album facebook atau di instagram milikmu, hanya menjadikan inti hati ini tak kelar disetubuhi duri.

Kau tahu? Rindu ini tak terbatasi, selalu hadir di hati larut di dalamnya. Kepunyaanku hanya waktu yang mati serupa jarum yang berdetik pada jam dinding batu. Aku pernah bermimpi, kau berbisik padaku tentang dongeng negri bunga, warna dan cahaya. Di sana ada taman di bawah kerlip gemintang. Di sana kau memintaku memungut sepercik cahaya berwarna biru yang mempunyai cerita tentang keindahan puisi. Akupun terbangun linglung, sebab makna telah terserap habis yang kau hadirkan dalam mimpi semu.

Lagi-lagi rindu menjadikanku penyair gerimis yang kritis tanpa mengenal rapi setiap baris yang tertulis.

Sabtu, 19 November 2016

BUDAK JARAK

Hasil gambar untuk budak jarak


Puan...

Sekiranya kita mustahil mewujudkan hal yang semulanya nihil, adakalanya kita harus memafkan kolaborasi antara jarak dan rindu. Ketika ragu memorak-porandakan hati, hidup dalam kata-kata menggantungkan harapan, menunggu semesta menyetujui keinginan serupa yang sampai kini tiada pertanda.

Memang benar, kita adalah budak jarak yang memanipulasi benci guna beradaptasi mengindahkan bayangan untuk melarikan sendunya kenangan. Merasakan hidup bagai denting piano yang melesat tapi tersesat, tersebab irama gemuruh hati yang tak pekat. Menjadi manusia serupa buta, menerka-nerka semesta yang kerap bercanda, selepas jangkar terlepas setelah kapal berlayar.

Kita hanya punyai raut wajah kaku kala rindu menjadi anak jarak yang mengajari kita tuk bertanya dalam sajak-sajak. Ya, memang benarkan Puan, karena hanya dengan sajaklah kita bisa leluasa bercakap. Tak peduli di mana kita meletakkannya atau di mana kita sedang berada membayangkannya.

Seperti pertanyaan di dalam sajakmu:

“Apakah waktu takkan pernah lagi berpihak, saat alamku jadi diam, ketika mata membisu menatap remang kerinduan di ujung kemilauan senja yang menjulang?
Siapakah kita di hari esok Tuan?
Berjanjilah untuk tidak menyerah walaupun hati terlunta-lunta menyambangi peraduan rindu!”

Hambar rasanya setiap lidah berujar. Entah pada siapa harus bersua mengatakan yang ingin kucurah. Aku tidak punya pilihan selain hanya sanggup menerka sambil mengukir skema di dinding kamar tanpa pelita. Hiduppun kian terangkul gelap sampai tak ada satupun jangkrik ingin hadir mengusik senyap dalam perangai sajakmu yang mengajakku bicara dengan sendirinya.

Puan..

Kita hanya diperbudak jarak tentang dongeng perjalanan. Jarak hanyalah sebuah kebetulan dan waktu jadi sebuah alasan. Mungkin kita semakin tidak mengerti tentang pertemuan, ketika kita menikmati kelambu jingga bersama kawanan mega yang berarak pergi jauh sampai ke belahan bumi lainnya. Matahari pun saat itu terusir dan kita akhirnya bertemu malam sambil menanti seekor kupu-kupu hinggap ke dalam toples. Barangkali, kita seperti itu Puan.

Bukan rindu namanya jika langit kita tak terluka. Pernahkah kau sadar tentang tangisan langit yang datang tanpa diundang? Kadang ia menjadi badai terhebat yang sangat ditakuti. Jarum-jarumnya begitu cepat menancap bumi dengan tak beraturan. Bukankah sering kita merasakan apa yang dirasakan langit.

Biarkan saja jarak yang kita benci menjelaskan dengan rinci pengertian rindu, yang tak pernah disampaikan kalbu. Biarkan perjalanan yang berbeda menjadi setetes air, yang menyerupai kita dalam tanya. Biarkanlah kita sesekali berkreasi sambil membaca situasi jeda temu, agar rindu tidak mati sia-sia menangkap hati. Sebab, semenjak menjadi perindu kita tidaklah mahir menipu diri dengan bisikan, karena dagu yang kita miliki pasti akan gagal tumpul akibat runcingnya airmata.

Saat ini kita sedang tertahan meratapi batas yang mengiris, maka izinkanlah jemari kita melepaskan elang terbang menduduki menara tertinggi di riwayat hati. Agar ketajaman mata sanggup memandang kita meskipun dalam keadaan meringis sembari menyair dan merintih, karena kita sedang sadar dalam teriak hati yang berujar perih menggenggam luka nanah yang pedih.

Kau perlu tahu Puan, bagaimana rasanya menjadi aku merasakan jarak semakin meluasi rindu. Aku tak sanggup lagi menguras samudera untuk membuang derita yang bernaung, mengajakku dengan sengit cara seni bertarung. Kita sudah terlanjur melantunkan hati kita yang terpaut, merekat dalam kabut, rindupun membalut, karena jarak kian menuntut.

Seharusnya kita mampu hidup seikhlas matahari yang tulus mencintai bumi. Agar kita mampu mengukur jarak di pantai panjang yang dikulum pasir bergaram, saat menyiratkan sesuatu yang padam, sesuatu yang geram. Memang benar, isyarat mata kala itu seakan perdu bagaikan sekumparan kabut yang kalut, bilamana rindu memadu menjadi bau gaharu. Namun, siapakah yang sanggup diantara kita menelungkupkan tanjung ke arah laut?

Objek rindu memang selalu jitu, tersebab jarak membombardir. Kini seisi hati kita ketar-ketir. Kita dibuat candu memandu ekor mata mencari arah, betapa bertemu adalah yang selalu ditunggu pada setiap kecilnya kesempatan. Ia selalu menaruh harapan, hampir setiap harinya kita melahap dengan doa-doa yang kemudian menua dalam air mata. Kita juga bertaruh dengan Tuhan, bahwa jarak hanya ujian bukan perpisahan yang melahirkan ketiadaan.

Jarak adalah pengarak rindu dan rindu seperti perantara kita. Mereka seperti kado istimewa dari pencipta. Sebab, melalui jaraklah rindu kita kian merangkak. Walupun kepastian itu belum ada di tangan, tapi rindu bisa kita pertahankan. Bukankah rindu adalah guru yang mengajari kita untuk sabar menunggu?

Biarkan saja rindu melumat hati kita melebihi porsinya. Melampaui sesak gemuruh dada yang mendesak. Entah apalagi yang bisa kita percayai melalui jarak yang membatasi. Manalah kita tahu setiap gerak-gerik yang kita lakukan di detik yang siap berlalu. Mana pula bisa kita menahan ingin dan angan yang terus berhamburan. Kita hanya bisa mengiyakan segala kemungkinan dan menaruh harapan pada doa yang tak pernah terlupakan.

Puan...

Biarkan aku menghafal seluruh bekas langkah, yang kusebut penyebab rindu. Biarkan aku mengingatmu lekat sambil mengeja harap tanpa lambat. Biarkan aku terus berharap, karena jarak memang tidaklah menakutkan. Nyatanya, kau tidak pernah jauh dari tempurung pikiran yang menetap tanpa sekat. Sebab itulah aku jadi pintar menumpuk rindu, agar tidak berserakan lalu tertinggal di belakang.

Tidak hanya aku, kau juga pintar menumpuk rindu. Sebab, jeda temu cukup lama menciptakan resahmu, menggamit sejumlah rasa bahwa jarak seumpama tak nyata demi meyakinkan hati menggenapi nanti.

Puan...

Nikmati saja proses ini.  kita hanya dua anak manusia yang melangkah dalam waktu untuk saling mengerti, memahami dan menerima. Resiko yang kita hadapi memang akan mudah menghempaskan kita, namun kita harus kuat, karena jarak takkan mengubah perasaan.


Kamis, 03 November 2016

BAHASA RINDU

Siapa bilang, melupakan itu gampang?

Andai semudah menghapus tulisan dan mematikan lampu, mungkin saat ini aku sedang tertawa. Sebab, tak perlu lagi menguras tenaga dan pikiran untuk berkerja keras melarikan ingatan. Bahkan saat hujan berceritapun aku tak perlu berpura-pura untuk tidak  membicarakanmu lagi. Namun, sampai detik ini juga aku masih larut dalam kabutnya kisah kita yang terbuang oleh waktu. Aku masih membayangkan mimpi yang dulunya kita jadikan topik percakapan setiap hari. Dan aku masih membicarakannya kepada alam, baik itu siang maupun malam.

Hidup ini sudah kunikmati, walau sekedar berimajinasikan kenangan yang tersusun rapi di perpustakaan hati. Meskipun sekarang ini berharap untuk melupakan tak ubahnya merasakan kesedihan. Aku berupaya menyadarkan penat yang membosankan. Tanpa basa-basi proses melupakan tergenang pasrah memeluk kenangan, menjadikan banjir menjenguk hati yang terkikis kemungkinan. Dan aku mencoba untuk merayu langit agar tidak  menyalahkan hujan, karena aku menikmati setiap derasnya untuk mengetuk pintu takdir sebagai cara menuliskan harapan canggung melupakanmu dalam kerinduan.

Siapa bilang, melupakan itu gampang?

Ketika rindu memanggil, hatiku sama sekali tak bisu. Bercakap dalam hening meskipun tiada lawan kata. Semua aturan memagariku dengan kebiasaan baru, mengenangmu. Kemudian, ribuan puisi kutulis di jantung ku sendiri bahkan matahari dan bulanpun harus bergantian menyaksikan diriku menanggung rindu yang seiringan memutar waktu menunggu bintang jatuh. Begitulah cara Tuhan menghukumku, bagaimana bisa aku melupakanmu sedangkan menuntaskan rindu saja aku tak mampu.

Demi Tuhan, aku merindukan dialog. Sebab, hujan yang kunikmati selama ini tak meninggalkan obrolan. Ia hanya mampu menceritakan butir-butir kenangan dan melukis bayangan wajahmu yang menjelma nyata. Mungkin hanya sekedar menguji hati saja agar tak luntur disiksa rindu ketika debar jantungku mengalah dengan mata tertutup.

Siapa bilang, melupakan itu gampang?

Adapun aku menertawakan diriku sendiri dengan gerak bibir tanpa suara. Menikmati adegan hidup yang salah. Sejak daun jatuh menghadirkan senyuman fatamorgana, sesekali hujan yang deras mendadak menjadi gerimis. Gerimis yang kuanggap sedang memahami kesepianku melebihi puisi. Rasanya, ingin sekali aku dilempar oleh masa lalu agar tak lagi menulis namamu. Sebab, membicarakanmu dengan alam merupakan hukuman terberatku. Sering kali aku tersenyum pada bayangan yang terpantul di genangan air untuk sekedar menarik kembali kata-kataku yang sempat ingin melempar ingatan saat membaca suratmu. Namun mesin waktu menentang arus hidup, hidup tak lagi sama. Kini yang tertinggal hanya serupa foto tua terbingkai rapi dengan cinta yang tak bersisa.

Lalu, aku mulai lirih mengeja namamu tiap pagi dan senja tenggelam. Hanya bisa kuperhatikan bayangan di jendela dengan perasaan yang teramat ngilu. Aku berusaha untuk berhenti membayangkan kenangan walaupun aku bukan matahari yang mampu terbit di tengah hujan. Begitu aku semakin mencoba, semakin tiada pembatas kenangan pula.

Siapa bilang, melupakan itu gampang?

Ah, andai semudah yang kau katakan, aku tak pernah ingin merawat rindu dari matahari terbit sampai menemani laut yang sedang patah hati. Kau tahu dosis paling tinggi membaca pikiran guna menerawang hatimu yang berpaling adalah jadi mentari pagi. Saat hatiku kedinginan bicara tentangmu kepada guling, bantal, bahkan selimut yang teracak-acak. Setiap langkah ini mondar-mandir, tiada lain yang menari di alam pikiranku selain dirimu. Mencarimu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, tetap ku cari meskipun melukai ujung-ujung jemariku.

Mungkin semua ini adalah hadiah dari Tuhan untuk diri ini yang memiliki kegemaran merinduimu. Antara ada dan tiada saat menciummu dalam hujan, saat mendekapmu di malam-malam panjang, dan yang selalu menitipkan sedih pada langit.

Cintaku sederhana, meskipun sering kali menukar rindu dengan menelpon bayangmu untuk sekedar menafsirkan sekerat masa lalu kita yang karat di matamu. Begitulah caraku meneguk sepi, menjadikan kenangan serupa embun yang meresap abadi di sehelai daun.

Rasanya, sudah tak karuan lagi bolak-balik mengingatmu yang kadaluarsa mencintaiku. Andai saja semua rasa itu bisa ku kramasi dengan sebuah perapian, mungkin aku tak sedingin ini memikirkanmu. Namun, rasa itu sama sekali tak mampu kubinasakan dengan apapun. Bahkan aku telah mencoba dengan berbagai cara. Pernah ku larung ke laut lalu tenggelam. Namun, ia timbul lagi. Pernah ku terbangkan mendarat di bulan. Tapi, ia kembali lagi. Pernah juga aku menguburnya di halaman depan. Akan tetapi; dia hidup lagi.

Maafkan aku yang hanya punya ingatan, karena aku adalah puisi yang ditinggalkan pembaca yang kerap mencatat kenangan cerita kupu-kupu. Izinkan aku mengenangmu dalam rindu yang tak kasat mata, tak terbaca, tak terjemahkan kata dan tak kau pahami maknanya. Rinduku adalah suatu dosa yang kau biarkan sengsara dan bencana yang kau biarkan melanda. Kabarmu telah sunyi dan tak dapat lagi kurajut kalimat dengan sinonim yang tepat untuk bertanya. Padahal, hanya sekedar mengundang kenangan bersamamu bukannya untuk berpesta. Astaga, rupanya permintaanku terlalu besar sehingga kau pun bosan menerka keadaannya.

Kini tak berjarak pandanganku mengarungi jalan melalui jendela kamar. Kuutus puisi rinduku diantara dua bait mencarimu jauh yang jauh. Namun, hanya ada percuma. Ternyata aku hanya sedang berkunjung ke masa silam yang pernah kita menulisnya sepasang nama dengan sebatang ranting di permukaan tanah. Dan hujan yang sedang turun sebegitu deras, serupa takdir embun di pelupuk mata.

Ku peringatkan sekali lagi, siapa bilang melupakan itu gampang?

Aku terlalu mengenalinya, rindu yang tak kenal waktu senantiasa gaduh melukai hati. Bukan cuma halusinasi saja yang mudah membuatku berpuisi, yang mampu diucap mata juga di dalam sajaknya. Bagaimana mungkin airmata rindu meminjamkan kebahagian agar mampu melelang duka yang terlalu pagi berkunjung dalam hidup.


Pada akhirnya, aku hanya menjadi manusia yang dilumat rindu ketika hujan tak kunjung reda dan mengingatmu dalam hal-hal yang sederhana. Merasakan bahagia seperti ditiup angin tanpa sempat menginap sedetikpun. Begitulah aku yang melarut namamu meski harus merasakan perih bermusim-musim lamanya. 

Kamis, 27 Oktober 2016

TERDAMPAR MALAM

Tertidur lagi...
Tanpa mengerti jawaban kisah terindah tanpa hadirnya
Adalah benci menebus malam tak berganti
Merasakan pagi enggan menyapa

Terusik lagi...
Tanpa paham suara pikiran melupakan hadirnya
Adalah bimbang menawar larut tak beralih
Merasakan damai tak lagi mesra

Terucap lagi..
Tanpa sadar menyuarakan bayang hadirnya
Adalah sakit malam tersurat panjang
Menyita waras kehdupan

Terus menjadi-jadi...
Tanpa sukar menjelma hadirnya
Adalah peluk perasa hampa jiwa
Menghadirkan debar maha dahsyat

Semakin terjadi...
Tanpa transisi terangkan hadirnya
Redupkan jiwa tersudut jauh meredam
Adalah suara pikiran malam panjang
Merasakan berat kepala mengangkat tegak sisa kehidupan
 

Jumat, 21 Oktober 2016

CARAKU

Sederhana saja...

Sebentar lagi waktu itu tiba. Aku melihat jam dinding begitu bersemangat menyambutnya. Seakan membuaiku dalam ketidaksabaran memulai hening malam di ruang yang sudah ku siapkan. Meskipun aku sendirian, namun senyumku tidak akan hilang. Karena akan tiba waktu yang mengajakmu bahagia disana. Ingin rasanya segera menghubungimu, memastikan kebahagianmu tak beralih. Akan tetapi; aku memutuskan untuk tidak menghubungi. Bukan karena tidak percaya diri. Tapi, ada cara yang terbaik tuk merajut sesuatu tanpa dusta.

Hanya mampu mengingat tak bisa berucap...

Tiada sikap yang bisa ku tunjukan padamu. Bukannya aku gugup dan takut memulai suara melalui ponselku. Bukan pula tak ingin mencoba membentuk kotak istimewa atau membungkus bening mawar merah yang indah. Untuk apa bila semua itu ada, namun kau tak merasakannya. Lebih baik ku angkat tangan sedada agar mudah kau merasa karena restu maha segalanya. Biarlah terlihat bodoh atau disebut pengecut yang memilih untuk tidak diketahui sama sekali.

Dan teruntukmu, bunga terindahku...

Jangan lupa untuk tetap tersenyum ya, semoga semua harapanmu terwujud, mimpi-mimpi indahmu terjamah, dan jadilah pribadi yang luar biasa dengan lembaran angka hidup yang baru ini.
Selamat ulang tahun...

Kamis, 20 Oktober 2016

KEPADAMU RUANG REDUP (5.45)



Kepadamu ruang redup...

Takkan pernah rajuk membujuk potret kusam masa silam. Mulanya sendu berangin, melayang-layangkan daun yang ingin kembali pada rantingnya yang masih mengangah sigap di atas tuan petuah. Bukan kembali meranting, tapi, ia melayang semakin jauh dan hilang. Begitu malang tuan yang tak berniat membuang harus merayakan kehilangan. Tak kepalangtanggung sumpah-sumpah bencanapun tercaci maki memakan daging hati, melumat seisinya yang bersemikan cinta suci.

Kepadamu ruang redup...

Bunga malam kala itu menumpahkan embun tak berwadah. Mengalir dengan deras membasahi permukaan yang ada. Gubahan sukma tersia pula oleh pinta logika suara, sepasang jiwapun berputus asa kala mendayung perahu di samudera berbeda. Tak kuasa lagi hati menuai diksi tuk memanipulasi cinta yang suci. Bertahan diri menanggung segala derita misteri.

Kepadamu ruang redup...

Kini pusaka cinta suci yang tersemat di hati, mulai berbenah mata. Meratapi lentera hidup yang kini tak bermakna. Ia mencoba Mencari sejumlah obrolan singkat melalui semesta. Dalam keterasingan jiwa yang berduka akan temu yang tak kunjung tiba. Setiap pukul lima empat puluh lima sore menjadi pilihan terbaiknya. Kala manja bersama angin di pesisir yang diramaikan ombak, sering pula dihiasi sepasang merpati bertengger di atas karang yang terselamat akan kebasahan serta dilengkapi dengan langit kemerahan yang meluas ke seluruh penjuru mata angin. Ratapannya singkat, mewakili perasaan hebat yang terguncang dahsyat. Dan kini mulai membengkak dengan senyum kepalsuan.

Kepadamu ruang redup...

Tiada bunga yang bermekaran ingin layu dalam nafas yang teramat panjang. Bagai pucuk yang tak beranak sama sekali di sekitarnya. Menjadikan sepi merayukan sendu bernuansakan cinta, guna menghitung-hitung hari yang terus berganti. Berharap relung terobati meskipun tiada terikat janji ketika menyuarakan mimpi. Sungguh malangnya nasib dua hati yang kini beradaptasi menghidupkan kembali sejumlah asa yang tersia masa. Menjaga pusaka cinta yang termakan jarak. Tanpa peralihan jiwa, tetap bertahta tanpa sepengetahuan bersama.

Rabu, 19 Oktober 2016

KITA DAN KEADAAN

Bila saja ada yang lebih menyenangkan dari mengingatmu
Mungkin aku tak sebegitu pilu menghabiskan waktu
Bukan niat beralasan tuk merapuh karenamu
Tak sedikitpun niatanku melibatkanmu mendesak waktu mencari temu

Bila mungkin kau tahu tentang aku
Adakah kesamaan diantara kita prihal merindu
Atau kau tak mau membeberkan beban agar senyummu tak hilang
Lengkap dengan deritamu yang kau simpan diam-diam

Pandanganku tak mampu menembus langit biru
Guna menerka jejakmu yang terhapus debu
Yang pernah pamit menyuarakan mimpi jauh
Menghilang untuk sementara waktu dari kehidupanku

Tanpa berita aku menderita tak terkira
Hidup yang harus ku susun rapi berantakan sudah
Barangkali aku terlalu membenci kisahnya
Yang mendebatkanku dengan keadaan yang kau juga tak suka

Suara-suara angin menghampiriku, membadai lara meributkan tanya
Sudahkah terhitung berapa lamanya?
Sudahkah kau merasa diri bagai hampa sejati?
Ataukah kau sedang menikmatinya? Mungkin saja begitu.
Hingga larik hujan tak lagi mampu memberi sajaknya
Langitpun tak mampu bangkit akan redupnya

Hai...
Bagaimana kabar mimpimu?

Kamis, 13 Oktober 2016

SECANGKIR KOPI MASA LALU

Hasil gambar untuk secangkir kopi

Sering kali aku berbicara dengan jarum jam dalam lamunanku, sekedar untuk memastikan tanda tanya raksasa dalam pikiran sambil menikmati secangkir kopi masa lalu yang memberadakanku tepat di lorong beranda kenangan pertama kali kita bertemu.

Sering kali aku berpikir, apa gunanya pertemuan itu? Sesuatu yang melibatkan dua hati terpedaya oleh buaian kasih sayang tak terduga. Tanpa inisiatif, rindu merenovasi hati bila sedetik saja tidak bertemu. Sedangkan kini menjadi suatu perkara hati saat kreatifitas jarak merumuskan kita pada lingkaran yang berbeda tanpa ada perpisahan. Perkara ini hanya kebetulan sama halnya dengan pertemuan kita yang aku anggap kebetulan juga. Lalu, bagaimana dengan "rindu"? Ia seperti anak kecil yang menggemaskan selalu bermain dan bertanya-tanya lugu tanpa pamrih.

Ketidakhadiran yang selalu hadir sering kali membuat secangkir kopi masa laluku lambat habis. Mungkin aku terlalu menikmati hitam pekat pahitnya. Sampai akhirnya aku lupa sudah berapa lama aku menghabiskan waktu berbicara dengan jarum jam. Padahal, yang ku bicarakan hanya sekedar perasaan yang menjadi ibu dari segala harapan tentang pertemuan silam. Namun, itu menjadikanku menipu diri dengan keindahan-keindahan yang semu. Seperti mengendalikan pesawat terbang sesuka hati, merekayasa dunia untuk mengembalikan waktu yang telah jauh berada di belakangku.

Pada akhirnya, secangkir kopi masa lalu yang kunikmati sedari tadi menuang kesimpulan. Bahwa harapan yang ada telah bertransformasi menjadi cinta. Cinta yang seharusnya kulogikakan tanpa pandang malu, gengsi, dan alasan lain yang membuat terpendam. Selama ini aku cenderung membungkam logika yang memang benar adanya suka kurang ajar dalam berkata jujur. Aku terlambat menyadarinya bahwa logika adalah penasihat yang mencegahku sakit hati dari harapan yang menumbuhkan cinta. Dia sungguh realistis meskipun cara menjelaskannya menampar pipi. Sudahlah, terlalu banyak aku berbicara pun takkan berubah keadaan yang ada. Tidak semua orang beruntung dengan harapan.

  

Rabu, 05 Oktober 2016

QTS

"Ada sebab rindu meluap tanpa batas
Bukan untuk memaksa kehendak
Karena semesta memang senang bercanda"


"Perlu kamu tahu!!!
Semesta cukup baik membiarkan mata memandang
Langit cukup sigap melontarkan senyuman
Kenapa lelah harus jadi alasan???
Bukankah kita harus siap dengan keadaan dan kenyataan"

"Sebab kita hanya budak takdir
Bahwa gelap harus dihadapi
dan tentang kehilangan itu pasti"

"Kadang, kita perlu berpikir?
Sambil menatap kosong pada langit
Tentang hidup, masa depan, hati dan harapan"

"Dalam hidup, kita hanya perlu berdamai dengan keadaan"


Boby julian

Selasa, 02 Agustus 2016

WANITA SENJA




Dia terperangah menatap langit merah
Tatapannya kosong membahana
Mengadu nasib dalam kebisuan
Melontar segala harapan yang tersiakan

Dalam hidupnya penuh dilema
Teriringi kemalangan hati bertubi-tubi
Hanya kesepian..
Tiada bait cerita tuk bahagia
Meski senyumnya tak beri isyarat kecewa
Kepada senja ia menumpahkan segalanya