Tampilkan postingan dengan label Ucap Mata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ucap Mata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2017

SENASIB ANGIN (SENJA)



Bolehkah sejenak aku masuk ke duniamu?

Sudah lama kaujatuh cinta pada senja, pada semua pernik langit yang melukiskan keindahan di kala mentari perlahan surut di ujung cakrawala dan menawarkan kebahagian. Begitu pun kaumenyempatkan diri untuk sendiri menghadiri senja hampir setiap hari. Sepertinya kau sedang memahami tentang teori kebencian, impian, kenangan juga kerinduan. Namun semua yang terpapah membuat hatimu berdenyut seolah-olah bernanah. Lantas dalam pikiranmu melogikan fakta, tetap berdiri, dan berbicara diam dengan segelintir tanya tentang sebuah nama yang kausemat dalam doa.

Masih dalam periode senja kelabumu tanpa episode baru. Suatu hari di Februari kala senja yang terus kauhadiri hampir setiap hari, menyapamu dengan merdu, dan kembali menawarkan kebahagian. Tanpa penolakan seribu alasan, sebuah kejadian yang sudah terbiasa kaurasakan nasibnya senasib angin. Kausambut dengan harapan yang jelas sudah kautahu bakal semu. Kaumemang tak bergerak kemanapun akan tetapi; hati dan pikiranmu tetap berlayar melintasi samudera kebencian sekadar bertujuan menjemput kenangan yang menjadi impian bakal terulang.

Masih juga dalam periodemu yang sama dengan episode serupa. Antara ada dan tiada, rindu masih terus mengunjungi hati dan pikiranmu yang sudah tak tertanggungkan lagi rasanya. Senja pun mengingatkanmu untuk tetap tidak lupa memberi kesempatan pada hati dan pikiranmu untuk berlayar kembali di sore hari. Kaupun pasrah dan berserah, membiarkan senja mengatur skenario drama kosongmu yang setiap harinya disaksikan lembayung jingga hingga langit menua renta tak sanggup kaucegah. Kautersenyum, juga sesekali menitikan airmata, dan yang kaurasakan hanya nasib senasib angin.

Masih dalam periode yang sama tanpa episode yang berbeda. Teorimu mulai rapuh dan dalam sekejap hatimu runtuh, mulai merangkai aksara menjadi bicara tentang tanya besar antara hati dan pikiranmu yang janggal. Pertanyaan yang ada tak satupun mampu kaujawab dengan sederhana. Kauhanyut dalam mega rindu akan kenangan yang bergelombang, memintamu berlayar kembali melintasi samudera kebencian. Kau tak bisa menolaknya, hingga jiwamu menyebrang jauh dalam angan pertemuan yang kau rindukan. Pertemuan yang selalu kau harapkan itu adalah pertemuan yang kau sendiri tak tahu pada siapa kau akan bertemu, entah seseorang di masa lalu atau akan ada orang baru.

Alangkah hebatnya senja mengajak hati dan pikiranmu berlayar tak bernahkoda. Kiranya kau akan tersesat di setiap harinya, namun kau selalu kembali dengan selamat menyambut pekat malam yang dahsyat. Semoga kau terus bahagia sebagai pelakon senja drama kosong lembayung jingga, hingga periode kelabumu usai dan kau tata episode baru sampai menuju surge.
Aku pamit untuk kembali keluar dari duniamu, terima kasih telah mengizinkanku masuk sejenak untuk merasakan hal yang sama, merasakan nasib senasib angin.

Tanjung Batu, 16 Februari 2017
Bersambung.......



*Tulisan ini ditulis untuk orang-orang yang menyukai senja dan menikmati setiap pernak-pernik langit jingga. Ada sebagian dari mereka yang menceritakan kepada bahwa betapa berartinya senja di dalam hidupnya yang mampu membuat hidup menjadi damai, tenang, dan membahagiakan meskipun terkadang hanya sebatas kerinduan dan khayalan. Bagi mereka senja adalah tempat menuangakan rasa yang tak berujar kata belaka. Senja tak pernah mengingkari janji bahwa Ia selalu kembali. Sungguh, senja tetap hadir meskipun terkadang badai berusaha menghalanginya, Ia tetap datang tepat waktu dan pergi tanpa ragu. Begitulah senja, indah tanpa perhiasan, mengagumkan, mendamaikan segala rasa serta melapangkan pikiran dan mengajari kita untuk tetap bersyukur padaNya.



Sabtu, 10 Desember 2016

MAAFKAN KISAHNYA!!!



Kamu mulai ragu melupakannya.Hening yang sekejap di ruang bercahaya remang, kamu mencoba untuk tidak membiarkan airmatamu tumpah lebih banyak lagi. Kamu yang sudah terbiasa merasakan hal serupa di setiap malamnya, kali ini seakan tersiksa oleh bayang-bayang sesal yang mulai menghujani seluruh tubuhmu. Dilema itu mulai menghakimi dalam keinginan yang sejak lama ingin lekas kamu tuntaskan, melupakannya. Namun, sebungkus cerita yang menjadi kisahmu dalam sepuluh tahun berpetualang bersamanya dengan situasi yang beragam-ragam, menjadikanmu lumpuh untuk beranjak jauh dari beranda kenangan. Kamu kembali berpikir tentang melupakan yang pada dasarnya hanya ada dalam cerita dongeng. Pada akhirnya kamupun menunda keinginan yang sejatinya memang takkan pernah terjadi sama sekali.

Di malam itu, kamu mulai berbicara sendiri kepada dinding kamar yang kerap menemani kesedihanmu. Bagimu tidak perlu lagi menjelaskan kepadanya tentang bagaimana sakitnya melawan ketiadaan yang menampar keinginan. Mungkin terlalu banyak barang kenangan yang membentuk lingkaran di kepalamu. Bayang-bayang yang senantiasa tanpa ragu mewarisi kisah yang tertulis di buku biru yang sudah kalian letakkan jauh-jauh dari kehidupan masing-masing.

Haruskah melupakan, sedangkan kisahnya sudah melekat tanpa sekat. Mungkin saja waktu itu kalian terlalu cepat mengikat sehingga kalian tidak sependapat lagi dalam melunaskan ambisi yang sempat jadi alasan sebuah pengharapan. Mungkin juga sampai detik ini kalian masih terheran, entah apa penyebabnya sehingga perbedaan menjadi penguasa perdebatan dan mungkin saja kalian gagal paham dengan apa yang sudah kalian rancang. Akhirnya, hanya bisa terdiam dan menanggung perasaan dalam bahasa yang hanya menjadi tulisan. Begitulah cara kalian dalam menerka takdir, menulis dengan sederhana berharap sama-sama membacanya.

Kamu yang kiranya mulai patah hati. Kini semakin akrab dengan alam dalam keadaan apapun. Kamu menjelma menjadi sesosok pendiam yang malu menceritakan kisahnya pada teman dan orang-orang terdekatmu. Semua dimulai semenjak takdir mengutus perubahan yang sama sekali kamu tidak menduganya dan ketika takdir berubah, kamu hanya menghadiri senja untuk menghibur hati yang sudah mulai berantakan ruangnya. Senja yang hanya mampu menceritakan kembali kisah kalian yang telah usang dan membuatmu nyaman hidup dalam lamunan sambil mengangkat tangan untuk sebuah pengharapan yang hilang. Tentu saja, nafasmu masih menjadi saksi dan detak jantungmu masih menjadi bukti meskipun di senja itu yang tersisa hanya segumpal kisah yang tertinggal dalam keadaan setengah mati. Namun, rindu yang sudah mendekam di hatimu menjadi kekuatan hati yang sejatinya telah patah.

Di sisi lainnya juga kamu betah menjadi orang asing yang menikmati angin, hujan, pagi, siang dan malam. Mungkin saja kamu ingin mengkolaborasikan perasaan yang tersia takdir dalam kurun waktu yang kamu sendiri tidak tahu sampai kapan. Takdir yang bisa saja membunuhmu dengan airmata yang menjadi darah, ketika oksigen yang ada hanya memburu kenangan demi kenangan.

Kamu menikmati angin, karena angin telah membawamu kembali ke pondok kecil beratap rusak, tempat di mana kamu bersamanya menikmati senja yang menghubungkan cerita kalian dalam tawa sebuah pengharapan masa silam. Angin yang kamu jadikan alasan untuk tetap tersenyum serta bersyukur karena ingatanmu belum sepenuhnya rusak.

Begitu juga logika hujan yang seringkali membuatmu menangis. Sebab, pasir bergaram yang sempat meninggalkan jejak kalian perlahan-lahan terhapuskan oleh rintiknya tanpa ampun. Kamu memang tidak sedang membenci hujan tapi airmatamu tidak dapat berbohong bahwa kenapa harus hujan, mengapa tidak gerimis. Begitulah hujan yang ingin melihatmu menangis kerena tidak ada jejak yang abadi biarpun kenangan telah bersemayam kekal di kehidupan.

Kamu juga menikmati pagi, karena pagi telah membuatmu hidup kembali meskipun pagi yang kini kamu lalui setiap hari sudah tidak lagi bersama hadirnya. Namun, bagaimana tentangnya, tentang kalian. Pastinya, pagi akan selalu mengisi itu semua dengan tarian indah berbau sendu di kepalamu. Tapi kamu sadar tarian itulah yang membuatmu tetap tersenyum dan memulai aktifitas apapun dengan ekspresi yang tidak banyak orang tahu.

Lalu, bagaimana dengan malam?

Mungkin inilah waktu yang paling ingin kamu hindari, waktu yang telah menggagalkanmu melupakan dirinya, waktu yang membuatmu harus menanggung beban perasaan dan waktu yang tidak bersahabat untuk menlancarkan aktifitasmu yang seharusnya dengan mudah  diselesaikan. Malam adalah waktu yang paling kamu takutkan karena airmata biasanya mengalir tanpa disadari, pikiranmu pun berlari-lari kemana-kemana, dan hatimu terguncang kembali dengan kejam mengobrak-abrik isinya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Tapi bisa saja kamu lupa bahwa malam memiliki bagian terpenting dalam hidupmu. Sebab, malam juga selalu membuatmu tertidur pulas dan menyelamatkanmu dari teriakan-teriakan kenangan bahkan terkadang mengajakmu mengakat tangan sedada untuk merajut setiap pengharapan yang mati. Begitulah adanya malam tak selamanya ia kejam.

Pada hakikatnya, kamu telah dirundung pilu yang bertubi-tubi. Kemalangan hati yang tiada hentinya, sesungguhnya menjadikanmu lebih kuat lagi menjalani hidup. Kamu memang perlu melihat ke belakang meskipun itu butuh kesiapan hati untuk meratapi karena dengan begitu kamu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, takdir seperti apa yang telah kamu dapatkan dan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Melihat ke belakang adalah langkah di mana semestinya akan melanjutkan perjalanan bahwa tidak mungkin selamanya hidup akan sama.

Prihal takdir, kamu tidak perlu protes. Hidup ini sejatinya adil, terkadang ia sengaja membiarkanmu larut dalam duka supaya nantinya kamu mampu memantapkan diri ketika bahagia menghampirimu. Bicara tentang takdir memang lucu, takdir memiliki sejumlah paket yang berbeda. Jadi, Jangan pernah menganggap kisah yang tidak sempurna itu mati karena di lain waktu kisah itu tetap menghampiri ingatanmu. Mungkin dengan sengaja dia ingin melihatmu bersedih atau justru ingin melihatmu jadi sesosok yang kuat, tegar, dan tidak menjadi bisu.


Pada akhirnya apa yang harus kamu lakukan, hanya memaafkan. Memaafkan kisahnya yang yang sudah membuat seluruh tubuhmu menikmati pesakitan luar dan dalam. Maafkanlah kisahnya yang sempat membuatmu menangis karena sebuah pengharapan yang dipatahkan takdir. Jangan pernah menyalahkan rindu, cinta, dan seluruh perasaan yang dianugerahkan Tuhan. Sebab, masa depan siapa yang tahu. Mungkin kamu tidak bisa memilikinya, setidaknya kamu memiliki kisahnya. Dan Begitulah kehidupan, kita perlu memaafkan semua yang terjadi karena dengan begitu kita akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Minggu, 27 November 2016

PESAN MALAM

Hasil gambar untuk MALAM SEPI

Malam ini aku mengarunginya dengan sebuah perjalanan kosong tanpa tahu jarak tempuh dan arah tujuan karena yang aku lakukan hanya sekedar ingin menikmati malam. Satu jam sudah lamanya aku berjalan, kini aku sedang berada di pinggir hutan yang lumayan rimba dan aku menghampiri sebuah angin di bawah rindang, angin sedang menangis. Lantas aku pun bertanya “mengapa engkau menangis sahabatku, desirmu begitu menyayat kudengar?”  Angin pun menjawab dengan lirih “Aku kesepian. Aku melewati setiap hamparan lembah hanya keheningan yang kudapat. Ketika aku memilih melewati gurun nan luas hanya keheningan yang menemaniku. Aku kesepian, Tuan”  aku pun terperangah tanpa sepatah kata dan membiarkan angin pergi begitu saja.

Kemudian aku melanjutkan kembali perjalananku. Telah jauh aku menempuh jalan. Namun tak ku jumpai keramaian di malam, hanya ada hening yang mencekam. Perjalananku semakin jauh tanpa peduli penat kakiku yang mulai nyeri. Lalu, Aku terhenti di sebuah persimpangan kilometer 14. Di sana aku menemukan seekor belibis putih yang sedang menangis. Aku pun bertanya padanya “mengapa engkau menangis di keheningan malam ini?” dan sang belibis pun mengepakkan sayapnya seraya mendekatiku dengan lunglai sembari menjawab “aku menangis karena mengenang kekasihku Tuan. Aku tidak tahu di mana dia berada sekarang. Sudah hampir tujuh purnama aku menantinya di sini, menanti kepulangannya sebagaimana janji pertemuan yang sempat kami utarakan sebelum perpisahan. Aku takut akan kehilangan  Tuan” aku kembali bertanya pada sang belibis “apakah engkau masih meyakini bahwa kekasihmu pasti pulang? sang belibis pun menjawab sembari terisak “aku tidak tahu Tuan, kadang aku meyakini karena kekasihku pernah berjanji. Namun, kadang kala aku merasa putus asa dan hilang rasa percayaku. Sebab, untuk sekedar tahu dia baik-baik saja tidak pernah kudapati beritanya. Aku lelah Tuan, mungkin ini memang sudah nasibku hanya bersandar pada pengharapan tanpa kepastian” sang belibis pun langsung bergegas meninggalkanku. Aku hanya terdiam pun tak sanggup menerka kejadian yang serupa dengan angin setengah jam lalu.

Kini aku hanya memerhatikan alam dan menunda perjalananku di sebuah persimpangan, tempat di mana aku bertemu pada seekor belibis putih yang menangis. Aku pangling bahkan untuk mengingat yang terjadi pun aku tak tahu apa yang sedang aku rasakan, hanya ada ketiadaan di balik wujud diri ini. Mungkin semesta sedang berkelakar menyaksikan aku yang sedari tadi terheran. Namun, kenapa harus hujan yang turun? Aku pun bingung dengan keadaan alam dan semakin bingung dengan maksud hujan membasahiku.

Pada akhirnya aku memilih meneruskan perjalananku di bawah hujan melawan arah. Aku memilih menikmati saja daripada harus menggerutu tanpa sebab. Rupanya hujan begitu menyenangkan dan begitu baik sekali karena telah mengantarku pulang untuk melepaskan segala penatku yang tersesat oleh perjalanan tak bertujuan. Dan kini aku disaksikan oleh dinding kamar saat aku mulai mengeja makna demi makna yang disampaikan malam padaku. Lalu, mengurai arti demi arti yang diucapkan air.

Ternyata benar pesan malam, bahwa aku terlambat sadar akan maya demi maya yang selama ini mencuat isyarat. Aku pun lirih membenarkan firasat diri dalam pikirku yang kini mulai bersenandung bahwa “ada sesosok serupa indah kejora dalam airmata maya telah luruh mencariku. Menatih dan tertatih dalam mengayuh bidak rapuh, dikarenakan aku dalam pengembaraan sunyi. Dia diam seribu bahasa, dalam sekian masa hanya keluhnya yang hadir menemani bukan pengharapannya akan kepulanganku. Oh Puan, maafkan aku yang selama ini tak mengenal arti mayamu. Sesungguhnya yang terjadi adalah aku tidak sedang membunuh kita. Keluh itu adalah pertempuran yang tidak dapat kau menangkan, begitu pun aku merasakan dalam pencarian jalan pulangku”


Kini rasa bersalahku hadir melintasi dalam bayang-bayang dan segenap haru menghukumku menghadirkan sadar bahwa aku memang manusia yang jatuh pada butuh. Jangan anggap aku melupakanmu, tidak sama sekali itu terjadi padaku, Puan. Andai saja kau tahu bahwa kau adalah rajut sempurna pelangi tasbihku mungkin kau akan damai dalam penantianmu. Sesungguhnya begitu besar kasihku padamu, namun tak melebihi kasihku pada Tuhanku. Bersabarlah Puan, Sebab apa yang kita harapkan bila memang ada campur tangan dari Tuhan tanpa maya pun kita akan mengutus kebahagiaan baik itu di dunia maupun akhirat.

Minggu, 13 November 2016

SULITKAH MENJADI KITA...!!!

Hasil gambar untuk sulitkah bersatu
Benarkah kau masih sendiri?

Aku pernah mendengar kabar, ada nama yang kau sebut seusai shalatmu. Aku pun sempat melihat di luar sana, banyak sekali yang berlomba meraih perhatianmu. Satu persatu dari mereka mengutarakan niatnya. Dan aku sempat mendengar tak satupun dari mereka kau terima.

Lantas siapakah yang mengisi hatimu?
Benarkah kau masih sendiri?

Aku melihatmu begitu antusias mempersiapkan diri. Di lain waktu, kau terlihat mengagumkan saat bermain dengan anak-anak di Taman. Aku melihat lagi ke arahmu dan tidak ada sesiapa di dekatmu selain anak-anak.

Lantas siapa gerangan yang sering kau sebut dalam doamu?

Aku menjadi terlalu sibuk mencari tahu. Padahal aku hanya orang asing bagimu. Hanya saling tahu nama dan diam-diam membaca baris kata. Tidak ada cara memulai padahal ingin sekali menyapa. Bahkan diantara kita jarang sekali ada pertemuan. Aku tidak begitu yakin kau mengenaliku sejauh aku mengenalimu.

Lantas siapakah sesosok yang kau sebut dalam doamu?

Suatu ketika aku menghampirimu seusai kau bermain dengan anak-anak. Aku memberanikan diri menyapamu memulai tahap dengan lugu. Kau tertawa kecil sembari tersenyum padaku. Kakuku seketika berubah kala kau mengembalikan suara tanyamu. Saat itu juga kita akrab, seakan aku bukanlah orang asing sebelumnya.

Hari demi hari semua berjalan dengan baik. Aku bukan lagi seorang pengintip ketika kau sedang bersama anak-anak di taman TPQ. Kita menjadi sepasang manusia yang leluasa bercerita, berbagi pengetahuan dan saling menguatkan. Entah skenario apa yang sudah ditulis Tuhan hingga kita begitu tenang, berbagai tahap kehidupan kita lalui dengan nyaman. Meskipun kita tidak tahu ikatan apa yang sedang diutus Tuhan. Bisa saja Tuhan ingin melihat kita merespon dengan ketentuanNya.

Lantas siapakah yang selalu kau sebut seusai shalatmu?

Pertanyaan itu tak sengaja ku ucapkan. Aku menjadi gugup dan merasa bersalah. Aku memaki diriku sendiri di dalam hati suasana pun seketika berubah menjadikanku tak berfirasat dan canggungku meninggi, seakan kembali seperti semula saat belum pernah menyapamu.

Kita mendadak jadi pendiam yang bergerak hanya digerakkan keadaan. Rasa takutku melebihi batas kewajaran tanpa bisa melakukan apapun, bahkan sekedar untuk bertanya lagi harus menunggu keadaan memberi kesempatan. Kita bergerak seperti daun-daun yang jatuh. Tidak mampu menggerakkan diri sendiri yang pasrah dihempaskan angin kemanapun perginya. Kemudian kau mulai memecah keheningan, lantas kau bertanya padaku menanyakan hal yang sama. Bagai disambar petir aku menatapmu, kau hanya tersenyum dengan katamu“tak usah menjawab bila tak punya jawaban”. Aku hanya bisa membalas senyummu dan kau pun pamit meninggalkanku sendirian.

Kini aku dirajam dengan pertanyaanku sendiri. Aku mendengar kabar yang selama ini kucari dan aku tidak menemukan jawaban justru harus mencari jawaban diri ini sendiri. Selama ini aku hanya sibuk mencari tahu tentangmu sedangkan untuk mengatahui alasan tersebut aku tidak pernah tahu.

Apakah aku telah jatuh hati padamu hingga begitu sibuknya aku mencari tahu tentang isi hatimu?

Sekarang aku mulai berpikir tentang hatiku, mulai membicarakannya sendiri dan berusaha menemukan jawaban yang tepat. Adapun suasana terang malamku menjadi gelap dengan sendirinya, mencuat hebat firasat diri yang tak kumengerti sama sekali. Sulitnya menjadi kita yang tak sengaja mempunyai tanya yang sama tak punyai jawaban.


Ke esokkan harinya kita kembali bertemu di tempat yang sama. Raut wajahmu tak berubah tetap penuh kebahagian. Seperti biasa, kita kembali bercerita tapi tidak untuk pertanyaan kemarin. Dan kali ini kau melarangku untuk bercerita. Baiklah, hari ini aku akan menjadi pendiam dan menyimak ceritamu yang katanya:

“suatu hari nanti pasti akan ada seseorang yang baik budinya membuat kita tertarik. Karena hatinya cukup luas sebagai tempat kita untuk tinggal di sana dan cara berpikirnya bijaksana untuk diajak berbicara. Namun, terkadang yang baik juga belum tentu tepat. Pastinya orang baik itu banyak sekali dan hanya ada satu yang tepat diantara mereka. Selebihnya hanya ciptaan yang sengaja Tuhan kenalkan dengan kita. Bisa saja kita tidak tahu siapa yang tepat dari yang terbaik sampai datangnya hari akad. Sekiranya nanti kita bertemu dengan orang baik yang tepat tersebut, sudahkah kita siap meninggalkan yang baik juga atau sekiranya kita sudah bertemu dengan orang tersebut yang sehari-harinya berada di tempat yang sama, dalam lingkaran pertemanan yang serupa, berjalan dalam satu rasa, apakah kita bisa menyadarinya? Adakalanya kita mejalani hidup sebagaimana biasanya kita tidak menduga bahwa akan tinggal bersama, hidup di bawah genting yang sama. Kita tidak pernah menyadari hari esok, bisa saja aku memanggilmu suami atau ada orang lain yang akan kau panggil istri. Kita hanya perlu melepaskan beban di pundak bersama bukan kadar cinta yang menjadi pertanyaan serupa. Apalah arti cinta, bila kelak kau tak pernah di rumah yang kita bangun bersama?”

Sedingin itu kau bercerita dan setelahnya kau berpamit pulang tanpa menawarku pulang bersama. 

Kini tinggallah aku sendirian di taman ini dalam pikir yang mencari hasil proses ceritamu tadi dan lagi-lagi aku kesulitan tuk menemukan apa yang harus aku temukan. Pada akhirnya akupun memlih pulang dan mendekam menyambut malam. Tubuhku bergetar, entah apa yang harus aku lakukan. Aku masih terpikirkan dengan ceritamu, cerita yang tidak kupahami maksudnya. Dan di malam yang semakin larut aku memilih hanya mengirimimu pesan singkat “sulitkah menjadi kita!!!”. Tidak ada jawaban darimu, aku pun memilih memejamkan mata menunggu pagi kembali.

sulitkah menjadi kita

Sabtu, 12 November 2016

PEMUJA RAHASIA

Jangan lupa bahagia J

Sudah berapa kali kamu terjatuh? Mungkin sudah lelah kamu menghitungnya, menduga sudah sampai tujuan tapi ternyata belum. Seperti telah menemukan rumah, rupanya milik orang lain. Jangan takut, ada seseorang yang mungkin tak pernah ada dalam pikiranmu tapi terus mendoakanmu dan memperhatikanmu. Seseorang itu benar ada, percayalah. Hanya saja Tuhan sengaja merahasiakannya. Bisa saja aku atau ada juga yang lain (dengan cara yang sama).

Seseorang tersebut selalu menanti tulisanmu, karena dari situlah ia bisa tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Ia tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang berlebihan akan perasaannya, atau selalu mencari sensasi dalam sapa. Ia sangat gemar sekali membaca setiap halaman tulisanmu dan selalu meyakini pasti akan terus bertambah lembarannya. Ia menyukai cara jatuh cinta seperti itu. Bahkan ia tak pernah bisa menyebut namamu di hadapan temanmu. Sebab itulah ia sengaja membiarkan ruang hatinya kosong. Karena ia sudah merencanakan sesuatu dalam sulaman doanya, setiap kali membaca tulisanmu. Hingga tak perlu repot-repot lagi ia bertanya kesana kemari tentangmu di setiap hari.

Ia sedang berjuang melangkah mencari jalan. Ia sedang mempersiakan sebuah hadiah untukmu. Ia masih sedang belajar ini dan itu, agar ketika ia datang dalam keadaan yang benar-benar siap untuk membahagiakanmu. Begitu sederhanakan, seseorang yang tidak mengaplikasikan namamu pada publik atas mencintai dengan hati yang siap dipatahkan takdir.

Teruslah menulis, karena suatu hari nanti salah satu tulisanmu akan ia upayakan untuk mewujudkannya.


Bersedialah untuk bersabar JJ  Pemuja Rahasia

Kamis, 10 November 2016

DIAM

Apa kabar diammu?

Seminggu yang lalu, aku menyempatkan diri membaca tulisanmu di instagram. Terus terang saja, aku terharu dan sangat menyukai diksinya. Ketika aku membacanya ada kehidupan di dalamnya. Aku mengagumi yang menikmati semesta tanpa menyampingkan rasa syukur dan berdamai pada kisahnya. Begitu romantis caramu membelai semesta hingga aku begitu iri memahaminya.

Aku mencemburuimu, maukah kau mengajakku belajar berdamai dengan semesta?

Aku ingin merasakan bagaimana menjadi langit, samudera, senja dan angin. Aku ingin sesekali kau mengajakku bersama, melukis jejak di tempat biasanya kau menikmati semesta. Aku ingin merasakan bagaimana indahnya menyambut kenangan datang dan membiarkannya pamit pulang. Aku ingin mengenal jingga lebih dekat lagi, supaya, aku tak rapuh mencium aroma takdir. Aku ingin langit mengenaliku bukan hanya sebagai mendung, tapi juga pelangi. Dan aku ingin menikmati senandung ombak yang mengindahkan suasana apapun.

Maaf, jika aku mencemburuimu lebih dari sederhana dengan cara yang bisa saja kau anggap salah. Selama ini aku hanya mengenal hujan dan kemarau, tidak lebih dari itu. Kadang untuk mengenal krikil-krikil pun aku gelisah karena ada kebencian yang tidak ingin aku rasakan. Namun, Semenjak sajakmu menuansakan irama kebesaran Tuhan seketika aku membaca dengan kadar paham yang kuupayakan benar dan sekarang aku berada di tahap pembenahan.


Pada akhirnya aku sadar, semesta itu luas tidak hanya hujan dan kemarau atau krikil-krikil itu. Kau menulisnya dengan sederhana aku membacanya penuh makna. Jika aku boleh menuang opini sederhana, maka aku hanya berujar “begitu menarik sekali rencana Tuhan melengkapi semesta dengan isi bertajuk beda, indahnya tanpa batas kata keindahan hanya saja kekeliruan sering melanda pemahaman”. Terima kasih diammu.diamdiam

Kamis, 03 November 2016

TERLAMBAT SADAR

Bila hendak mengunjungi lebih dari sedih
Mematikanmu dalam angan terdahulu, percuma
Begitu sesal yang kau terima meniadakan cara
Perekam jejakku nyeri tak sudah-sudah

Kau telah berusaha pintar mengelabui rasa
Kau biarkan daku mengeja kita menjelma luka
Lama sudah tak ku sapa...
Rupanya kau terjamah rasa, berpura-pura

Kini melodi paling indahku pun menjadi pelangi di langit malam
Andai waktu bisa diputar kembali..
Maukah kau tak berpura-pura lagi?
Lupakanlah dirimu yang mati suri, hiduplah kembali!!

Kemarilah!
Akan ku jawab keherananmu ketika rasa bukan menjadi alasan
Jangan larang aku menghitung gerimis kita yang sama
Karena aku ingin mendengar suara selain kemarin

Jika saat ini aku bertanya
Masihkah ada kenginginan dalam hidupmu untuk mati-matian melupakanku?
Meniadakan kita?
Apakah jawabmu sama sepertiku?

Jangan mengutus hujan tanpa mendung, jawablah!!
Sebelum gemuruh angin selesai berkemas
Menggugurkan bulu mataku membaca kita
Hati yang patah........

Jumat, 21 Oktober 2016

CARAKU

Sederhana saja...

Sebentar lagi waktu itu tiba. Aku melihat jam dinding begitu bersemangat menyambutnya. Seakan membuaiku dalam ketidaksabaran memulai hening malam di ruang yang sudah ku siapkan. Meskipun aku sendirian, namun senyumku tidak akan hilang. Karena akan tiba waktu yang mengajakmu bahagia disana. Ingin rasanya segera menghubungimu, memastikan kebahagianmu tak beralih. Akan tetapi; aku memutuskan untuk tidak menghubungi. Bukan karena tidak percaya diri. Tapi, ada cara yang terbaik tuk merajut sesuatu tanpa dusta.

Hanya mampu mengingat tak bisa berucap...

Tiada sikap yang bisa ku tunjukan padamu. Bukannya aku gugup dan takut memulai suara melalui ponselku. Bukan pula tak ingin mencoba membentuk kotak istimewa atau membungkus bening mawar merah yang indah. Untuk apa bila semua itu ada, namun kau tak merasakannya. Lebih baik ku angkat tangan sedada agar mudah kau merasa karena restu maha segalanya. Biarlah terlihat bodoh atau disebut pengecut yang memilih untuk tidak diketahui sama sekali.

Dan teruntukmu, bunga terindahku...

Jangan lupa untuk tetap tersenyum ya, semoga semua harapanmu terwujud, mimpi-mimpi indahmu terjamah, dan jadilah pribadi yang luar biasa dengan lembaran angka hidup yang baru ini.
Selamat ulang tahun...

Minggu, 16 Oktober 2016

?!!


Hitam....
                     Pekat....
                                        Pahit....
                                                          Lingkaran......
                                                 Nikmat.........
                                                  

Senin, 10 Oktober 2016

BUKAN BUNGA YANG TERLUKA

Cahaya cintamu kini berkilauan
Bagaikan butiran permata terapung di permukaan
Berharap bahtera menyambut suci
Hati yang terdampar sepi
Terapung rindu yang terbuai jauh
Hanyut berlayar menuju harap dermaga kasih
Padanya semoga kau utarakan kemungkinan
Berpangku keyakinan atas ketetapan Tuhan

Kau tetap menyemai meski kasihmu lunglai
Biarpun langit hatimu berhujan badai
Kau anyam kembali lara yang terurai
Syukurmu tak terbatas masa atas cinta yang kau semat dalam doa
Kau ukir cinta dalam hampa bahagia
Biarlah berlayar jauh membahana tanpa temu dermaga

Kaulah sengketa dalam doa samudera harap, lautan semesta
Kau tetap tersenyum...
Kau tetap tak mengapa...
Tak penting bagimu merajut alasan-alasan
Biarlah adanya harap berbunga kelak
Dengan semerbak bahagia, bersemi damai ke singgahsana kehidupan
Layarmu kian berkembang mewangi
Di tepian akhir kau temu dermaga titipan Ilahi 

Selasa, 04 Oktober 2016

MEMBUMI

Andai pahitnya hidup tak bertepi
Lukanya harapan tak terobati
Bernyawa seakan mati
Hidup bagai termakan caci maki
Sudahlah...
Biarlah...
Penerka memang begitu Semaunya mendosa
Tak pedulikan tahta
Tak peduli jiwa
Membelati baginya biasa
Hidup baginya hanya tertawa

Berdamailah untuk mereka
Abaikan laku-lakunya
Lupakan tawa konyolnya

Selasa, 02 Agustus 2016

CATATAN SEMU



Bisa apa?
Hanya ada catatan tentangmu
Ku jadikan penawar sepiku
Pelengkap doa setiap ingin tidur
Hanya itu kurajut setiap malam

Karenamu aku mampu tersenyum
Aku mampu belajar memahami mimpi burukku
Aku mampu menepis kekosongan yang setia padaku

Karenamu juga aku sadar
Lebih baik mengais derita tanpa cerita
Aku memilih kita melalui ini dengan senyuman
Sebab cinta bukan milik kita

Kita hampir saja lupa
Kala manja membuai hati kita berdua
Bisa apa?
Hanya bisa menulisnya dengan sederhana