Minggu, 29 Januari 2017

MENGENAL KARENA TAKDIR, MENCINTAI KARENA JODOH



Hasil gambar untuk ilusi pelaminan
Semua ini tentang cinta yang akan menjadi bagian setiap tulisan-tulisanku.Tentang cinta yang meminta kita untuk tetap diam. Tentang cinta yang meminta kita untuk tetap mencintaiNya. Kita punya waktu untuk menjadi akrab dan berdampingan, tapi tidak untuk menceritakan tentang cinta yang sedang kita rasakan. Ada sikap yang terkadang membuat kita nyaman, saling bertatap muka, dan membagi cerita untuk saling menguatkan satu sama lain. Kita percaya bahwa sesungguhnya cinta bukan dari mana kita bertemu dan bagaimana kita bersama, tapi dari cara kita mendekat kepadaNya si pemilik cinta. Seandainya jodoh pasti akan kita temukan sebuah jalan untuk menuju rumah yang kita impikan bersama dalam doa karena kita adalah kata yang belum ada rupanya. Pernikahan pun hanya sebuah wacana yang selalu kita bicarakan ketika menghadapNya untuk sebuah rencana masa depan. Dan semoga kita membicarakan hal yang sama.

Cinta yang aku rasakan memang tanpa kepastian namun itu bukanlah sesuatu yang menghalangiku untuk tetap merasakan cinta. Lihat saja dari tatapan kita ketika berpapasan, ada sesuatu yang tak bisa kita hindari, sesuatu yang belum kita mengerti, namun menjadi sesuatu yang begitu berarti. Ah…sudahlah, mungkin itu hanya firasatku tapi ada benarnya juga -bisa sajakan kita saling mencintai tapi gengsi- karena perbedaan angka dalam jumlah yang tidak sama atau mungkin hanya aku saja yang merasakan cinta tersebut. Entahlah, aku tidak punya jawaban yang tepat untuk semua itu jika ada orang lain yang bertanya tentang kita.

Aku tidak ingin banyak berkomentar tentang cinta yang sedang aku rasakan. Saat ini yang aku lakukan hanya berusaha dengan segala kemampuanku menyelesaikan semua yang sudah dimulai. Biarkanlah kita bergerak untuk saling mendekat dengan bekal doa dan berharap Allah menjaganya, meskipun belum tentu aku yang kausebut di dalam doamu. Namun aku tidak takut, aku tetap berusaha memantaskan diri sampai tiba hari yang memersatukan kita. Aku akan terus berusaha sebisaku, semoga Allah meyakinkan hatimu untuk menerjemahkan cinta dalam bentuk pernikahan meskipun dengan segala perbedaan yang ada. Bagiku bukanlah suatu masalah besar untuk memersiapkan diri sebagai dua anak manusia yang saling mengenal karena takdir dan mencintai karena jodoh.


Saat ini kita memang tidak beruntung, jika benar kita adalah sesuatu yang diinginkanNya maka kauharus menunggu lama. Maafkan aku yang membuatmu sekiranya ragu karena aku tidak pernah mengatakan cinta. Kauperlu tahu alasannya, aku tidak ingin mengotori hati kita hanya karena cemburu yang tidak pantas digugat. Aku ingin kita menjadi hati yang siap tanpa gugatan, bukankah itu adalah pengalaman disaat kita saling berbagi cerita tentang cinta di masa lalu. Cinta yang sempat membuat kita hilang arah dan berpikir patah hati adalah hukuman. Oleh karena itu, aku tidak ingin cinta yang sedang aku rasakan ini membuat kita merasakan hal yang sama seperti di masa lalu.

Apalah artinya cinta jika terlalu tergesah-gesah mengatakannya, justru di antara kita ada yang kecewa?

Cinta bukanlah sekadar kata-kata romantis yang tersusun dengan sistematis pun tidak mengenal usia. Cinta, cukup kau dan aku yang menjadi bukti jika diberi kesempatan untuk menjadi kita. Begitulah cinta yang masih kurahasiakan padamu. Cinta yang sama sekali belum pernah kukatakan bahwa aku mencintaimu karena aku ingin membuktikan kesetian cintaku kepada Allah terlebih dahulu sebelum aku menghalalkanmu dalam sumpah kita atas cinta dan kesetian dihadapan penghulu. Oleh karena itu aku menitip rasa ini kepada Allah agar nanti aku pun siap, andai kita berjodoh pasti akan bertemu dan duduk bersama di kursi bak Raja dan Ratu sejagad atau pun di antara kita hanya sebagai tamu yang datang memberi doa restu.

Sabtu, 10 Desember 2016

MAAFKAN KISAHNYA!!!



Kamu mulai ragu melupakannya.Hening yang sekejap di ruang bercahaya remang, kamu mencoba untuk tidak membiarkan airmatamu tumpah lebih banyak lagi. Kamu yang sudah terbiasa merasakan hal serupa di setiap malamnya, kali ini seakan tersiksa oleh bayang-bayang sesal yang mulai menghujani seluruh tubuhmu. Dilema itu mulai menghakimi dalam keinginan yang sejak lama ingin lekas kamu tuntaskan, melupakannya. Namun, sebungkus cerita yang menjadi kisahmu dalam sepuluh tahun berpetualang bersamanya dengan situasi yang beragam-ragam, menjadikanmu lumpuh untuk beranjak jauh dari beranda kenangan. Kamu kembali berpikir tentang melupakan yang pada dasarnya hanya ada dalam cerita dongeng. Pada akhirnya kamupun menunda keinginan yang sejatinya memang takkan pernah terjadi sama sekali.

Di malam itu, kamu mulai berbicara sendiri kepada dinding kamar yang kerap menemani kesedihanmu. Bagimu tidak perlu lagi menjelaskan kepadanya tentang bagaimana sakitnya melawan ketiadaan yang menampar keinginan. Mungkin terlalu banyak barang kenangan yang membentuk lingkaran di kepalamu. Bayang-bayang yang senantiasa tanpa ragu mewarisi kisah yang tertulis di buku biru yang sudah kalian letakkan jauh-jauh dari kehidupan masing-masing.

Haruskah melupakan, sedangkan kisahnya sudah melekat tanpa sekat. Mungkin saja waktu itu kalian terlalu cepat mengikat sehingga kalian tidak sependapat lagi dalam melunaskan ambisi yang sempat jadi alasan sebuah pengharapan. Mungkin juga sampai detik ini kalian masih terheran, entah apa penyebabnya sehingga perbedaan menjadi penguasa perdebatan dan mungkin saja kalian gagal paham dengan apa yang sudah kalian rancang. Akhirnya, hanya bisa terdiam dan menanggung perasaan dalam bahasa yang hanya menjadi tulisan. Begitulah cara kalian dalam menerka takdir, menulis dengan sederhana berharap sama-sama membacanya.

Kamu yang kiranya mulai patah hati. Kini semakin akrab dengan alam dalam keadaan apapun. Kamu menjelma menjadi sesosok pendiam yang malu menceritakan kisahnya pada teman dan orang-orang terdekatmu. Semua dimulai semenjak takdir mengutus perubahan yang sama sekali kamu tidak menduganya dan ketika takdir berubah, kamu hanya menghadiri senja untuk menghibur hati yang sudah mulai berantakan ruangnya. Senja yang hanya mampu menceritakan kembali kisah kalian yang telah usang dan membuatmu nyaman hidup dalam lamunan sambil mengangkat tangan untuk sebuah pengharapan yang hilang. Tentu saja, nafasmu masih menjadi saksi dan detak jantungmu masih menjadi bukti meskipun di senja itu yang tersisa hanya segumpal kisah yang tertinggal dalam keadaan setengah mati. Namun, rindu yang sudah mendekam di hatimu menjadi kekuatan hati yang sejatinya telah patah.

Di sisi lainnya juga kamu betah menjadi orang asing yang menikmati angin, hujan, pagi, siang dan malam. Mungkin saja kamu ingin mengkolaborasikan perasaan yang tersia takdir dalam kurun waktu yang kamu sendiri tidak tahu sampai kapan. Takdir yang bisa saja membunuhmu dengan airmata yang menjadi darah, ketika oksigen yang ada hanya memburu kenangan demi kenangan.

Kamu menikmati angin, karena angin telah membawamu kembali ke pondok kecil beratap rusak, tempat di mana kamu bersamanya menikmati senja yang menghubungkan cerita kalian dalam tawa sebuah pengharapan masa silam. Angin yang kamu jadikan alasan untuk tetap tersenyum serta bersyukur karena ingatanmu belum sepenuhnya rusak.

Begitu juga logika hujan yang seringkali membuatmu menangis. Sebab, pasir bergaram yang sempat meninggalkan jejak kalian perlahan-lahan terhapuskan oleh rintiknya tanpa ampun. Kamu memang tidak sedang membenci hujan tapi airmatamu tidak dapat berbohong bahwa kenapa harus hujan, mengapa tidak gerimis. Begitulah hujan yang ingin melihatmu menangis kerena tidak ada jejak yang abadi biarpun kenangan telah bersemayam kekal di kehidupan.

Kamu juga menikmati pagi, karena pagi telah membuatmu hidup kembali meskipun pagi yang kini kamu lalui setiap hari sudah tidak lagi bersama hadirnya. Namun, bagaimana tentangnya, tentang kalian. Pastinya, pagi akan selalu mengisi itu semua dengan tarian indah berbau sendu di kepalamu. Tapi kamu sadar tarian itulah yang membuatmu tetap tersenyum dan memulai aktifitas apapun dengan ekspresi yang tidak banyak orang tahu.

Lalu, bagaimana dengan malam?

Mungkin inilah waktu yang paling ingin kamu hindari, waktu yang telah menggagalkanmu melupakan dirinya, waktu yang membuatmu harus menanggung beban perasaan dan waktu yang tidak bersahabat untuk menlancarkan aktifitasmu yang seharusnya dengan mudah  diselesaikan. Malam adalah waktu yang paling kamu takutkan karena airmata biasanya mengalir tanpa disadari, pikiranmu pun berlari-lari kemana-kemana, dan hatimu terguncang kembali dengan kejam mengobrak-abrik isinya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Tapi bisa saja kamu lupa bahwa malam memiliki bagian terpenting dalam hidupmu. Sebab, malam juga selalu membuatmu tertidur pulas dan menyelamatkanmu dari teriakan-teriakan kenangan bahkan terkadang mengajakmu mengakat tangan sedada untuk merajut setiap pengharapan yang mati. Begitulah adanya malam tak selamanya ia kejam.

Pada hakikatnya, kamu telah dirundung pilu yang bertubi-tubi. Kemalangan hati yang tiada hentinya, sesungguhnya menjadikanmu lebih kuat lagi menjalani hidup. Kamu memang perlu melihat ke belakang meskipun itu butuh kesiapan hati untuk meratapi karena dengan begitu kamu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, takdir seperti apa yang telah kamu dapatkan dan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Melihat ke belakang adalah langkah di mana semestinya akan melanjutkan perjalanan bahwa tidak mungkin selamanya hidup akan sama.

Prihal takdir, kamu tidak perlu protes. Hidup ini sejatinya adil, terkadang ia sengaja membiarkanmu larut dalam duka supaya nantinya kamu mampu memantapkan diri ketika bahagia menghampirimu. Bicara tentang takdir memang lucu, takdir memiliki sejumlah paket yang berbeda. Jadi, Jangan pernah menganggap kisah yang tidak sempurna itu mati karena di lain waktu kisah itu tetap menghampiri ingatanmu. Mungkin dengan sengaja dia ingin melihatmu bersedih atau justru ingin melihatmu jadi sesosok yang kuat, tegar, dan tidak menjadi bisu.


Pada akhirnya apa yang harus kamu lakukan, hanya memaafkan. Memaafkan kisahnya yang yang sudah membuat seluruh tubuhmu menikmati pesakitan luar dan dalam. Maafkanlah kisahnya yang sempat membuatmu menangis karena sebuah pengharapan yang dipatahkan takdir. Jangan pernah menyalahkan rindu, cinta, dan seluruh perasaan yang dianugerahkan Tuhan. Sebab, masa depan siapa yang tahu. Mungkin kamu tidak bisa memilikinya, setidaknya kamu memiliki kisahnya. Dan Begitulah kehidupan, kita perlu memaafkan semua yang terjadi karena dengan begitu kita akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Minggu, 27 November 2016

PESAN MALAM

Hasil gambar untuk MALAM SEPI

Malam ini aku mengarunginya dengan sebuah perjalanan kosong tanpa tahu jarak tempuh dan arah tujuan karena yang aku lakukan hanya sekedar ingin menikmati malam. Satu jam sudah lamanya aku berjalan, kini aku sedang berada di pinggir hutan yang lumayan rimba dan aku menghampiri sebuah angin di bawah rindang, angin sedang menangis. Lantas aku pun bertanya “mengapa engkau menangis sahabatku, desirmu begitu menyayat kudengar?”  Angin pun menjawab dengan lirih “Aku kesepian. Aku melewati setiap hamparan lembah hanya keheningan yang kudapat. Ketika aku memilih melewati gurun nan luas hanya keheningan yang menemaniku. Aku kesepian, Tuan”  aku pun terperangah tanpa sepatah kata dan membiarkan angin pergi begitu saja.

Kemudian aku melanjutkan kembali perjalananku. Telah jauh aku menempuh jalan. Namun tak ku jumpai keramaian di malam, hanya ada hening yang mencekam. Perjalananku semakin jauh tanpa peduli penat kakiku yang mulai nyeri. Lalu, Aku terhenti di sebuah persimpangan kilometer 14. Di sana aku menemukan seekor belibis putih yang sedang menangis. Aku pun bertanya padanya “mengapa engkau menangis di keheningan malam ini?” dan sang belibis pun mengepakkan sayapnya seraya mendekatiku dengan lunglai sembari menjawab “aku menangis karena mengenang kekasihku Tuan. Aku tidak tahu di mana dia berada sekarang. Sudah hampir tujuh purnama aku menantinya di sini, menanti kepulangannya sebagaimana janji pertemuan yang sempat kami utarakan sebelum perpisahan. Aku takut akan kehilangan  Tuan” aku kembali bertanya pada sang belibis “apakah engkau masih meyakini bahwa kekasihmu pasti pulang? sang belibis pun menjawab sembari terisak “aku tidak tahu Tuan, kadang aku meyakini karena kekasihku pernah berjanji. Namun, kadang kala aku merasa putus asa dan hilang rasa percayaku. Sebab, untuk sekedar tahu dia baik-baik saja tidak pernah kudapati beritanya. Aku lelah Tuan, mungkin ini memang sudah nasibku hanya bersandar pada pengharapan tanpa kepastian” sang belibis pun langsung bergegas meninggalkanku. Aku hanya terdiam pun tak sanggup menerka kejadian yang serupa dengan angin setengah jam lalu.

Kini aku hanya memerhatikan alam dan menunda perjalananku di sebuah persimpangan, tempat di mana aku bertemu pada seekor belibis putih yang menangis. Aku pangling bahkan untuk mengingat yang terjadi pun aku tak tahu apa yang sedang aku rasakan, hanya ada ketiadaan di balik wujud diri ini. Mungkin semesta sedang berkelakar menyaksikan aku yang sedari tadi terheran. Namun, kenapa harus hujan yang turun? Aku pun bingung dengan keadaan alam dan semakin bingung dengan maksud hujan membasahiku.

Pada akhirnya aku memilih meneruskan perjalananku di bawah hujan melawan arah. Aku memilih menikmati saja daripada harus menggerutu tanpa sebab. Rupanya hujan begitu menyenangkan dan begitu baik sekali karena telah mengantarku pulang untuk melepaskan segala penatku yang tersesat oleh perjalanan tak bertujuan. Dan kini aku disaksikan oleh dinding kamar saat aku mulai mengeja makna demi makna yang disampaikan malam padaku. Lalu, mengurai arti demi arti yang diucapkan air.

Ternyata benar pesan malam, bahwa aku terlambat sadar akan maya demi maya yang selama ini mencuat isyarat. Aku pun lirih membenarkan firasat diri dalam pikirku yang kini mulai bersenandung bahwa “ada sesosok serupa indah kejora dalam airmata maya telah luruh mencariku. Menatih dan tertatih dalam mengayuh bidak rapuh, dikarenakan aku dalam pengembaraan sunyi. Dia diam seribu bahasa, dalam sekian masa hanya keluhnya yang hadir menemani bukan pengharapannya akan kepulanganku. Oh Puan, maafkan aku yang selama ini tak mengenal arti mayamu. Sesungguhnya yang terjadi adalah aku tidak sedang membunuh kita. Keluh itu adalah pertempuran yang tidak dapat kau menangkan, begitu pun aku merasakan dalam pencarian jalan pulangku”


Kini rasa bersalahku hadir melintasi dalam bayang-bayang dan segenap haru menghukumku menghadirkan sadar bahwa aku memang manusia yang jatuh pada butuh. Jangan anggap aku melupakanmu, tidak sama sekali itu terjadi padaku, Puan. Andai saja kau tahu bahwa kau adalah rajut sempurna pelangi tasbihku mungkin kau akan damai dalam penantianmu. Sesungguhnya begitu besar kasihku padamu, namun tak melebihi kasihku pada Tuhanku. Bersabarlah Puan, Sebab apa yang kita harapkan bila memang ada campur tangan dari Tuhan tanpa maya pun kita akan mengutus kebahagiaan baik itu di dunia maupun akhirat.

Kamis, 24 November 2016

GERIMIS YANG KRITIS

Hasil gambar untuk lelaki gerimis
Ranting pilu menulis kembali puisiku di dahan haru. Seperti rindu, sebagai rindu, pada jejak sebutanku di punggung senja kemarin kala itu tangkai kenangan berangsur-angsur menggeming mendesak rindu nan temu. Diamku menjadi lena yang membius aroma puitis jejak romantis pada bait-bait puisi yang tertulis, ibarat sampan kecil yang menjelajahi lautan gerimis dan ayat-ayat rinduku seperti tersihir pada sesuatu yang hadir, bayangmu.

Seiring dengan lamunanku, terbiar pula musim yang mengikuti perangkap sunyi yang kemayu. Tibalah waktu mendadak menjadikanku kasmaran karena dimanja rindu. Keresahan belum usai, pun tak terbatas waktu dan kali ini rindu ingin berjihad hebat melawan waktu dan jarak. Demi sebuah sapa atau sekedar menunaikan janji temu, karena rasa sesak detak rindu itu terletak sejajar di sebelah dada tempat pengabdian rasa bermuara.

Apatah benar kemungkinan temu itu menjejaki kita di tepian pasir bergaram? Ahk... aku hanya sekedar berharap tanpa titik lugas. Nyatanya prihal temu kosong, hanyalah sebatas bayang yang mengobrak-abrik tataan rindu yang mandiri.

Perlahan-lahan aku mulai mencoba menjadi manusia setabah tanah, meski harus melenyapkan prosa tanpa suara. Hanya sesumbar rindu saja, aku berpura-pura tegar mengkhatamkan puisi sendu. Lagi-lagi rindu sedang bersenandung, padahal atmosfer syaraf-syaraf kepalaku tak stabil seperti dulu. Dan pada akhirnya si pejemput puisi itupun paham, tentang si penyair penjelajah laut gerimis, suram dan tenggelam. Jasadnya dibawa malaikat inspirasi dan ruhnya tersangkut di punggung sepi.

Seandainya rindu ini adalah dongeng, mungkin aku tidak sekarat sedemikian bentuk bagaikan terkutuk, menunggu dipungut Tuhan dengan segera. Rasanya tak cukup puas memandangi wajahmu melalui album facebook atau di instagram milikmu, hanya menjadikan inti hati ini tak kelar disetubuhi duri.

Kau tahu? Rindu ini tak terbatasi, selalu hadir di hati larut di dalamnya. Kepunyaanku hanya waktu yang mati serupa jarum yang berdetik pada jam dinding batu. Aku pernah bermimpi, kau berbisik padaku tentang dongeng negri bunga, warna dan cahaya. Di sana ada taman di bawah kerlip gemintang. Di sana kau memintaku memungut sepercik cahaya berwarna biru yang mempunyai cerita tentang keindahan puisi. Akupun terbangun linglung, sebab makna telah terserap habis yang kau hadirkan dalam mimpi semu.

Lagi-lagi rindu menjadikanku penyair gerimis yang kritis tanpa mengenal rapi setiap baris yang tertulis.

Sabtu, 19 November 2016

BUDAK JARAK

Hasil gambar untuk budak jarak


Puan...

Sekiranya kita mustahil mewujudkan hal yang semulanya nihil, adakalanya kita harus memafkan kolaborasi antara jarak dan rindu. Ketika ragu memorak-porandakan hati, hidup dalam kata-kata menggantungkan harapan, menunggu semesta menyetujui keinginan serupa yang sampai kini tiada pertanda.

Memang benar, kita adalah budak jarak yang memanipulasi benci guna beradaptasi mengindahkan bayangan untuk melarikan sendunya kenangan. Merasakan hidup bagai denting piano yang melesat tapi tersesat, tersebab irama gemuruh hati yang tak pekat. Menjadi manusia serupa buta, menerka-nerka semesta yang kerap bercanda, selepas jangkar terlepas setelah kapal berlayar.

Kita hanya punyai raut wajah kaku kala rindu menjadi anak jarak yang mengajari kita tuk bertanya dalam sajak-sajak. Ya, memang benarkan Puan, karena hanya dengan sajaklah kita bisa leluasa bercakap. Tak peduli di mana kita meletakkannya atau di mana kita sedang berada membayangkannya.

Seperti pertanyaan di dalam sajakmu:

“Apakah waktu takkan pernah lagi berpihak, saat alamku jadi diam, ketika mata membisu menatap remang kerinduan di ujung kemilauan senja yang menjulang?
Siapakah kita di hari esok Tuan?
Berjanjilah untuk tidak menyerah walaupun hati terlunta-lunta menyambangi peraduan rindu!”

Hambar rasanya setiap lidah berujar. Entah pada siapa harus bersua mengatakan yang ingin kucurah. Aku tidak punya pilihan selain hanya sanggup menerka sambil mengukir skema di dinding kamar tanpa pelita. Hiduppun kian terangkul gelap sampai tak ada satupun jangkrik ingin hadir mengusik senyap dalam perangai sajakmu yang mengajakku bicara dengan sendirinya.

Puan..

Kita hanya diperbudak jarak tentang dongeng perjalanan. Jarak hanyalah sebuah kebetulan dan waktu jadi sebuah alasan. Mungkin kita semakin tidak mengerti tentang pertemuan, ketika kita menikmati kelambu jingga bersama kawanan mega yang berarak pergi jauh sampai ke belahan bumi lainnya. Matahari pun saat itu terusir dan kita akhirnya bertemu malam sambil menanti seekor kupu-kupu hinggap ke dalam toples. Barangkali, kita seperti itu Puan.

Bukan rindu namanya jika langit kita tak terluka. Pernahkah kau sadar tentang tangisan langit yang datang tanpa diundang? Kadang ia menjadi badai terhebat yang sangat ditakuti. Jarum-jarumnya begitu cepat menancap bumi dengan tak beraturan. Bukankah sering kita merasakan apa yang dirasakan langit.

Biarkan saja jarak yang kita benci menjelaskan dengan rinci pengertian rindu, yang tak pernah disampaikan kalbu. Biarkan perjalanan yang berbeda menjadi setetes air, yang menyerupai kita dalam tanya. Biarkanlah kita sesekali berkreasi sambil membaca situasi jeda temu, agar rindu tidak mati sia-sia menangkap hati. Sebab, semenjak menjadi perindu kita tidaklah mahir menipu diri dengan bisikan, karena dagu yang kita miliki pasti akan gagal tumpul akibat runcingnya airmata.

Saat ini kita sedang tertahan meratapi batas yang mengiris, maka izinkanlah jemari kita melepaskan elang terbang menduduki menara tertinggi di riwayat hati. Agar ketajaman mata sanggup memandang kita meskipun dalam keadaan meringis sembari menyair dan merintih, karena kita sedang sadar dalam teriak hati yang berujar perih menggenggam luka nanah yang pedih.

Kau perlu tahu Puan, bagaimana rasanya menjadi aku merasakan jarak semakin meluasi rindu. Aku tak sanggup lagi menguras samudera untuk membuang derita yang bernaung, mengajakku dengan sengit cara seni bertarung. Kita sudah terlanjur melantunkan hati kita yang terpaut, merekat dalam kabut, rindupun membalut, karena jarak kian menuntut.

Seharusnya kita mampu hidup seikhlas matahari yang tulus mencintai bumi. Agar kita mampu mengukur jarak di pantai panjang yang dikulum pasir bergaram, saat menyiratkan sesuatu yang padam, sesuatu yang geram. Memang benar, isyarat mata kala itu seakan perdu bagaikan sekumparan kabut yang kalut, bilamana rindu memadu menjadi bau gaharu. Namun, siapakah yang sanggup diantara kita menelungkupkan tanjung ke arah laut?

Objek rindu memang selalu jitu, tersebab jarak membombardir. Kini seisi hati kita ketar-ketir. Kita dibuat candu memandu ekor mata mencari arah, betapa bertemu adalah yang selalu ditunggu pada setiap kecilnya kesempatan. Ia selalu menaruh harapan, hampir setiap harinya kita melahap dengan doa-doa yang kemudian menua dalam air mata. Kita juga bertaruh dengan Tuhan, bahwa jarak hanya ujian bukan perpisahan yang melahirkan ketiadaan.

Jarak adalah pengarak rindu dan rindu seperti perantara kita. Mereka seperti kado istimewa dari pencipta. Sebab, melalui jaraklah rindu kita kian merangkak. Walupun kepastian itu belum ada di tangan, tapi rindu bisa kita pertahankan. Bukankah rindu adalah guru yang mengajari kita untuk sabar menunggu?

Biarkan saja rindu melumat hati kita melebihi porsinya. Melampaui sesak gemuruh dada yang mendesak. Entah apalagi yang bisa kita percayai melalui jarak yang membatasi. Manalah kita tahu setiap gerak-gerik yang kita lakukan di detik yang siap berlalu. Mana pula bisa kita menahan ingin dan angan yang terus berhamburan. Kita hanya bisa mengiyakan segala kemungkinan dan menaruh harapan pada doa yang tak pernah terlupakan.

Puan...

Biarkan aku menghafal seluruh bekas langkah, yang kusebut penyebab rindu. Biarkan aku mengingatmu lekat sambil mengeja harap tanpa lambat. Biarkan aku terus berharap, karena jarak memang tidaklah menakutkan. Nyatanya, kau tidak pernah jauh dari tempurung pikiran yang menetap tanpa sekat. Sebab itulah aku jadi pintar menumpuk rindu, agar tidak berserakan lalu tertinggal di belakang.

Tidak hanya aku, kau juga pintar menumpuk rindu. Sebab, jeda temu cukup lama menciptakan resahmu, menggamit sejumlah rasa bahwa jarak seumpama tak nyata demi meyakinkan hati menggenapi nanti.

Puan...

Nikmati saja proses ini.  kita hanya dua anak manusia yang melangkah dalam waktu untuk saling mengerti, memahami dan menerima. Resiko yang kita hadapi memang akan mudah menghempaskan kita, namun kita harus kuat, karena jarak takkan mengubah perasaan.


Minggu, 13 November 2016

SULITKAH MENJADI KITA...!!!

Hasil gambar untuk sulitkah bersatu
Benarkah kau masih sendiri?

Aku pernah mendengar kabar, ada nama yang kau sebut seusai shalatmu. Aku pun sempat melihat di luar sana, banyak sekali yang berlomba meraih perhatianmu. Satu persatu dari mereka mengutarakan niatnya. Dan aku sempat mendengar tak satupun dari mereka kau terima.

Lantas siapakah yang mengisi hatimu?
Benarkah kau masih sendiri?

Aku melihatmu begitu antusias mempersiapkan diri. Di lain waktu, kau terlihat mengagumkan saat bermain dengan anak-anak di Taman. Aku melihat lagi ke arahmu dan tidak ada sesiapa di dekatmu selain anak-anak.

Lantas siapa gerangan yang sering kau sebut dalam doamu?

Aku menjadi terlalu sibuk mencari tahu. Padahal aku hanya orang asing bagimu. Hanya saling tahu nama dan diam-diam membaca baris kata. Tidak ada cara memulai padahal ingin sekali menyapa. Bahkan diantara kita jarang sekali ada pertemuan. Aku tidak begitu yakin kau mengenaliku sejauh aku mengenalimu.

Lantas siapakah sesosok yang kau sebut dalam doamu?

Suatu ketika aku menghampirimu seusai kau bermain dengan anak-anak. Aku memberanikan diri menyapamu memulai tahap dengan lugu. Kau tertawa kecil sembari tersenyum padaku. Kakuku seketika berubah kala kau mengembalikan suara tanyamu. Saat itu juga kita akrab, seakan aku bukanlah orang asing sebelumnya.

Hari demi hari semua berjalan dengan baik. Aku bukan lagi seorang pengintip ketika kau sedang bersama anak-anak di taman TPQ. Kita menjadi sepasang manusia yang leluasa bercerita, berbagi pengetahuan dan saling menguatkan. Entah skenario apa yang sudah ditulis Tuhan hingga kita begitu tenang, berbagai tahap kehidupan kita lalui dengan nyaman. Meskipun kita tidak tahu ikatan apa yang sedang diutus Tuhan. Bisa saja Tuhan ingin melihat kita merespon dengan ketentuanNya.

Lantas siapakah yang selalu kau sebut seusai shalatmu?

Pertanyaan itu tak sengaja ku ucapkan. Aku menjadi gugup dan merasa bersalah. Aku memaki diriku sendiri di dalam hati suasana pun seketika berubah menjadikanku tak berfirasat dan canggungku meninggi, seakan kembali seperti semula saat belum pernah menyapamu.

Kita mendadak jadi pendiam yang bergerak hanya digerakkan keadaan. Rasa takutku melebihi batas kewajaran tanpa bisa melakukan apapun, bahkan sekedar untuk bertanya lagi harus menunggu keadaan memberi kesempatan. Kita bergerak seperti daun-daun yang jatuh. Tidak mampu menggerakkan diri sendiri yang pasrah dihempaskan angin kemanapun perginya. Kemudian kau mulai memecah keheningan, lantas kau bertanya padaku menanyakan hal yang sama. Bagai disambar petir aku menatapmu, kau hanya tersenyum dengan katamu“tak usah menjawab bila tak punya jawaban”. Aku hanya bisa membalas senyummu dan kau pun pamit meninggalkanku sendirian.

Kini aku dirajam dengan pertanyaanku sendiri. Aku mendengar kabar yang selama ini kucari dan aku tidak menemukan jawaban justru harus mencari jawaban diri ini sendiri. Selama ini aku hanya sibuk mencari tahu tentangmu sedangkan untuk mengatahui alasan tersebut aku tidak pernah tahu.

Apakah aku telah jatuh hati padamu hingga begitu sibuknya aku mencari tahu tentang isi hatimu?

Sekarang aku mulai berpikir tentang hatiku, mulai membicarakannya sendiri dan berusaha menemukan jawaban yang tepat. Adapun suasana terang malamku menjadi gelap dengan sendirinya, mencuat hebat firasat diri yang tak kumengerti sama sekali. Sulitnya menjadi kita yang tak sengaja mempunyai tanya yang sama tak punyai jawaban.


Ke esokkan harinya kita kembali bertemu di tempat yang sama. Raut wajahmu tak berubah tetap penuh kebahagian. Seperti biasa, kita kembali bercerita tapi tidak untuk pertanyaan kemarin. Dan kali ini kau melarangku untuk bercerita. Baiklah, hari ini aku akan menjadi pendiam dan menyimak ceritamu yang katanya:

“suatu hari nanti pasti akan ada seseorang yang baik budinya membuat kita tertarik. Karena hatinya cukup luas sebagai tempat kita untuk tinggal di sana dan cara berpikirnya bijaksana untuk diajak berbicara. Namun, terkadang yang baik juga belum tentu tepat. Pastinya orang baik itu banyak sekali dan hanya ada satu yang tepat diantara mereka. Selebihnya hanya ciptaan yang sengaja Tuhan kenalkan dengan kita. Bisa saja kita tidak tahu siapa yang tepat dari yang terbaik sampai datangnya hari akad. Sekiranya nanti kita bertemu dengan orang baik yang tepat tersebut, sudahkah kita siap meninggalkan yang baik juga atau sekiranya kita sudah bertemu dengan orang tersebut yang sehari-harinya berada di tempat yang sama, dalam lingkaran pertemanan yang serupa, berjalan dalam satu rasa, apakah kita bisa menyadarinya? Adakalanya kita mejalani hidup sebagaimana biasanya kita tidak menduga bahwa akan tinggal bersama, hidup di bawah genting yang sama. Kita tidak pernah menyadari hari esok, bisa saja aku memanggilmu suami atau ada orang lain yang akan kau panggil istri. Kita hanya perlu melepaskan beban di pundak bersama bukan kadar cinta yang menjadi pertanyaan serupa. Apalah arti cinta, bila kelak kau tak pernah di rumah yang kita bangun bersama?”

Sedingin itu kau bercerita dan setelahnya kau berpamit pulang tanpa menawarku pulang bersama. 

Kini tinggallah aku sendirian di taman ini dalam pikir yang mencari hasil proses ceritamu tadi dan lagi-lagi aku kesulitan tuk menemukan apa yang harus aku temukan. Pada akhirnya akupun memlih pulang dan mendekam menyambut malam. Tubuhku bergetar, entah apa yang harus aku lakukan. Aku masih terpikirkan dengan ceritamu, cerita yang tidak kupahami maksudnya. Dan di malam yang semakin larut aku memilih hanya mengirimimu pesan singkat “sulitkah menjadi kita!!!”. Tidak ada jawaban darimu, aku pun memilih memejamkan mata menunggu pagi kembali.

sulitkah menjadi kita

Sabtu, 12 November 2016

PEMUJA RAHASIA

Jangan lupa bahagia J

Sudah berapa kali kamu terjatuh? Mungkin sudah lelah kamu menghitungnya, menduga sudah sampai tujuan tapi ternyata belum. Seperti telah menemukan rumah, rupanya milik orang lain. Jangan takut, ada seseorang yang mungkin tak pernah ada dalam pikiranmu tapi terus mendoakanmu dan memperhatikanmu. Seseorang itu benar ada, percayalah. Hanya saja Tuhan sengaja merahasiakannya. Bisa saja aku atau ada juga yang lain (dengan cara yang sama).

Seseorang tersebut selalu menanti tulisanmu, karena dari situlah ia bisa tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Ia tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang berlebihan akan perasaannya, atau selalu mencari sensasi dalam sapa. Ia sangat gemar sekali membaca setiap halaman tulisanmu dan selalu meyakini pasti akan terus bertambah lembarannya. Ia menyukai cara jatuh cinta seperti itu. Bahkan ia tak pernah bisa menyebut namamu di hadapan temanmu. Sebab itulah ia sengaja membiarkan ruang hatinya kosong. Karena ia sudah merencanakan sesuatu dalam sulaman doanya, setiap kali membaca tulisanmu. Hingga tak perlu repot-repot lagi ia bertanya kesana kemari tentangmu di setiap hari.

Ia sedang berjuang melangkah mencari jalan. Ia sedang mempersiakan sebuah hadiah untukmu. Ia masih sedang belajar ini dan itu, agar ketika ia datang dalam keadaan yang benar-benar siap untuk membahagiakanmu. Begitu sederhanakan, seseorang yang tidak mengaplikasikan namamu pada publik atas mencintai dengan hati yang siap dipatahkan takdir.

Teruslah menulis, karena suatu hari nanti salah satu tulisanmu akan ia upayakan untuk mewujudkannya.


Bersedialah untuk bersabar JJ  Pemuja Rahasia

Kamis, 10 November 2016

DIAM

Apa kabar diammu?

Seminggu yang lalu, aku menyempatkan diri membaca tulisanmu di instagram. Terus terang saja, aku terharu dan sangat menyukai diksinya. Ketika aku membacanya ada kehidupan di dalamnya. Aku mengagumi yang menikmati semesta tanpa menyampingkan rasa syukur dan berdamai pada kisahnya. Begitu romantis caramu membelai semesta hingga aku begitu iri memahaminya.

Aku mencemburuimu, maukah kau mengajakku belajar berdamai dengan semesta?

Aku ingin merasakan bagaimana menjadi langit, samudera, senja dan angin. Aku ingin sesekali kau mengajakku bersama, melukis jejak di tempat biasanya kau menikmati semesta. Aku ingin merasakan bagaimana indahnya menyambut kenangan datang dan membiarkannya pamit pulang. Aku ingin mengenal jingga lebih dekat lagi, supaya, aku tak rapuh mencium aroma takdir. Aku ingin langit mengenaliku bukan hanya sebagai mendung, tapi juga pelangi. Dan aku ingin menikmati senandung ombak yang mengindahkan suasana apapun.

Maaf, jika aku mencemburuimu lebih dari sederhana dengan cara yang bisa saja kau anggap salah. Selama ini aku hanya mengenal hujan dan kemarau, tidak lebih dari itu. Kadang untuk mengenal krikil-krikil pun aku gelisah karena ada kebencian yang tidak ingin aku rasakan. Namun, Semenjak sajakmu menuansakan irama kebesaran Tuhan seketika aku membaca dengan kadar paham yang kuupayakan benar dan sekarang aku berada di tahap pembenahan.


Pada akhirnya aku sadar, semesta itu luas tidak hanya hujan dan kemarau atau krikil-krikil itu. Kau menulisnya dengan sederhana aku membacanya penuh makna. Jika aku boleh menuang opini sederhana, maka aku hanya berujar “begitu menarik sekali rencana Tuhan melengkapi semesta dengan isi bertajuk beda, indahnya tanpa batas kata keindahan hanya saja kekeliruan sering melanda pemahaman”. Terima kasih diammu.diamdiam