Sabtu, 08 Oktober 2016

LARUT

Di ujung dini hari ku terusik
Bayangan masa lalu yang ku cemburui
Drama singkat nan kritis berujung ironis
Tak lagi ku temui sintaksis hati yang praktis
Semua cukup pasif akal sehat tak lagi aktif
Asaku menipis serentak hati pun terhiris

Aku mulai beradaptasi dengan kebiasaan
Menawar kemungkinan menjemput mimpi yang hilang
Padamu jejak kenangan aku membangkang
Menginginkan terulang malah terjurang

Kejamnya kelam mengantarku pada ketidakwarasan
Tiada malam ku lalui dengan tenang
Hampir setiapnya ku sudahi bersama igauan
Lelah dan bimbang tiada perbandingan
Aku betah terhukum tanpa penghakiman
Menjadikan suram lengkap dengan kesepian
Yang tak pernah habis ku ceritakan

Jumat, 07 Oktober 2016

MEMAAFKAN HARAPAN MEMATAHKAN HATI SENDIRI


Aku bukanlah pelupa yang hebat
Hanya manusia biasa yang gemar menulis tentangmu
Kadang aku hanya berbicara dengan jarum jam
Tanpa hiraukan tanda tanya alam pikiran

Aku telah dibuat gila oleh harapku sendiri
Menjadi bebal dan tak lagi berpikir rasional
Aku gemar menipu diri sebab harapan yang tak mati
Menjebakku dengan kertas-kertas mimpi dalam ilusi memainkan hati

Aku patut membenci diri
Memilah tragedi yang tak pasti
Ah... salahkah harapan yang ada?  
"dia tidak salah. Tidak ada harapan yang lahir dengan status bersalah. Sama sekali tidak"
Pikirku yang sembunyi pun berbisik
Baiknya, aku memutuskan untuk memaafkan
Meskipun harus mematahkan hati sendiri

NIKMAT BERDURI

Wahai pemikat...
Salahku juga menggenggammu begitu erat
Membiarkan duri tajammu menancap hebat
Tanpa debat kurawat tanpa sekat
Menawar harap tanpa sebab ucap

Wahai pemikat...
Tak ingin ku ralat hati yang terpikat
Dalam pekat cinta ku terjerat
Mudahnya melekat hingga lupa tanpa sebab
Kau buat singkat jiwa yang terikat

Wahai pemikat...
Aku yang terlalu jadi penikmat
Terlena ketat tanpa sempat mengungkap
Sungguh hebat kau buat luka tanpa sekat
Meracuni hakikat hingga ku tersia harap
Di ujung sempat ku terbuang tanpa tempat

Kamis, 06 Oktober 2016

KETIDAKTAHUAN

Mendeskripsikan hati...
Sama rumitnya soal matematika, rumus fisika dan memahami hasil gabungan zat kimia
Ini tentang batin
Bila dipresentasikan kejadian demi kejadian
Kemungkinan hanya semesta berperan
Aku sendiri tidak paham dengan keadaan dan mungkin sama sepertimu
Aku mencoba untuk menelaah lebih jauh dari dua sisi berkombinasi
Antara proses kognisi dan praduga hati.

Inilah aku...
Yang tidak pernah kamu ekspektasikan
Yang tidak pernah semesta duga menuntut pemahaman
Yang diskenariokan mendeskripsikan kompleksnya struktur sintaksis hati
Kamu tahu atau pura-pura tidak tahu

Aku ingin kita meyakini
Kita dirancang substansi di luar konsep pertemuan dan perpisahan
Kisah kita hanyalah nasib
Saat kamu menatapku aku dapat merekam dengan baik
Ada rahasia yang masih kamu bentengi
Mungkin kita sama merasakan
Hanya saja kita terlalu lugu untuk ungkapkan



AKU DAN HATI YANG PATAH

Aku sadar dan belajar merasakan
Patah hati menyita kewarasan
Patah hati merenggut keinginan
Patah hati membunuh harapan
Patah hati meninggalkan pesakitan
Patah hati mengobrak-abrik keindahan
Patah hati buatku betah akan nestapa panjang
Aku hanya pasrah ditikam dengan kejamnya kehilangan
Tersayat belati ketidaktahuan
Tertampar hebat dengan ketiadaan
Terhempas jauh dengan begitu memalukan
Air mata bagai jarum menjahit luka hati terdalam
Dan ikhlas, kujadikan benang pas

Bukan Pelupa Yang Hebat





Bukan Pelupa Yang Hebat
Boby Julian

Semua tak sama. Memang benar katamu, “Kita akan berusaha menolak saat senja datang menghampiri kita”. Awalnya, aku sempat berfikir semua akan baik-baik saja sebelum dan setelah kita menjadi bagian yang tak lagi utuh. Namun, aku tak bisa membantah dan kepada entah aku bertanya tolol, sendirian, dan mulai menjejaki remang hidup yang terasa begitu suram. Tak terhitung berapa banyak senja yang datang menertawakanku karena melihat kebodohanku menjadi pengingat sejati tentangmu dan tentang kita. Sebenarnya, aku merasa malu pada semesta karena ketidakrelaan ini.
Aku masih belum mampu beranjak dari masa lalu kita. Terus terang saja, aku masih ingat saat terakhir kita bertemu di pesisir yang disertai ombak-ombak kecil begitu berisik dilengkapi dengan hembusan angin yang begitu romantis. Akan tetapi, semua itu merupakan malapetaka hebat yang akhirnya menghujani kita berdua. Saat itu, kau menggenggam tangan ku begitu erat, sejenak kita larut dalam dekapan. Lalu, kau menangis sambil menunjukan sesuatu yang telah melingkar di jemarimu. Aku berusaha tegar melihatnya dan mencoba mengusap setiap air mata yang tumpah di pipimu. Kau pun mulai berbicara terbata-bata “sayang, inilah yang ingin ku jelaskan padamu di senja terakhir kita bertemu. Aku tak bisa lagi menunggumu, karena aku harus memenuhi permintaan kedua orang tuaku. Ini pilihannya bukan pilihanku. Maafkan aku yang tak mampu menolak”. Aku hanya berusaha lebih tegar saat itu, dengan perasaan hancur berderai ku memulai kata dengan sangat hati-hati “mungkin, ini jalan yang terbaik untuk kita. Apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak bisa apa-apa. Bukankah musuh terbesar pertemuan adalah perpisahan dan harusnya kita sadar, kita memang berbeda, mungkin inilah jawaban Tuhan agar kita mampu mendewasakan diri dan memahami suratan dariNya”  setelah itu aku pun pamit melangkah dengan tertatih dan sadar diri bahwa semua sudah berakhir.
Sebulan berlalu, aku sendiri menatap keindahan semesta ini dengan hati yang tak kunjung pulih. Aku hanya meronta-ronta tanpa suara memukul diri pada sengketa derita. Andai saja dulunya aku mau saat kau ingin perkenalkanku kepada orang tuamu mungkin semua takkan seperti ini. Namun, semua itu bukan tanpa alasan aku menolaknya. Aku sadar, aku belum pantas. Sebab, kita beda usia dan sisi lainnya lagi kau berkarir sedangkan aku masih berjuang untuk menemukan jati diriku. Bagaimana mungkin orang tuamu mau melihat anaknya menunggu untuk waktu yang cukup lama. Entahlah, aku tidak tahu siapa yang salah dalam kisah ini yang aku tahu kita ditakdirkan tidak untuk menjadi sepasang kekasih sebagaimana yang sempat kita impikan bersama.
Kini aku mulai melatih diri, rasanya begitu sakit setiap kali senja yang ku hadiri hanya sendiri dan paling menyakitkan lagi ketika angin mengantarkan debu yang menggugah diri akan masa lalu. Seperti kekonyolan, pada saat itu juga aku berharap embun menyambut malam untuk sekedar memulihkan keadaan yang ku beri nama kesepian. Ku katakan sekali lagi kepada entah “Semua tak sama, dari senja pergi hingga menjelang pagi. Aku bukanlah pelupa yang hebat. Sudah sekian purnama aku tidak lagi melihat senyumnya dan tawa indah dari bibirnya yang biasanya ku anggap sebagai surga kecil yang mengisi hari-hariku yang senantiasa menawarkan bahagia dan memberi damai tanpa diminta. Kini, semua telah tiada bahkan untuk melihat punggungnya saja aku tak mampu lagi”.
Pada akhirnya, banyak entah yang bertanya prihal aku dan hati yang betah sendiri. Sebenarnya, tidak ada alasan mengenai hal ini. Kalaupun ada itu hanya sebuah alasan yang ku paksakan ada. Baiklah, aku akan mencoba untuk mengurai alasan yang ku paksakan ada. Memang sudah cukup lama rasanya aku tidak lagi berurusan dengan yang namanya cinta. Aku memutuskan untuk menyendiri setelah yang terakhir kali bersamaku memilih untuk berhenti menunggu. Jujur saja, dia sedikit banyak meninggalkan bahagia lengkap dengan luka di dalamnya. Aku dan dia pernah berjuang bersama dalam doa dan nyata semoga indahnya cinta selamanya utuh. Tapi, aku mengerti bahwa “selamanya” itu tidak lama. Setelah peristiwa itu aku mencoba berdamai dengan keadaan. Merelakan yang sebenarnya tidak ku relakan. Bukankah musuh terbesar seseorang yang sedang ingin melupakan adalah kebiasaan. Oleh karena itu, aku telah terbiasa menghabiskan waktu bersamanya. Aku terlalu terbiasa dengan bau harum tubuhnya, tawa indahnya dan kemanjaannya. Butuh waktu untuk melupakan semua itu. Mungkin dengan alasan inilah, senja akan berhenti menertawakanku dan purnama takkan membiarkan lagi aku kesepian  karena mereka tahu aku bukanlah pelupa yang hebat.

Surat Terakhir Buat Bu Guru



Surat Terakhir Buat Bu Guru
Boby Julian
Assalamualaikum Rindu.

Bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kamu baik-baik saja dan selamat berbahagia ya.

Maafkan aku yang harus menulis ini dengan sengaja dan dalam keadaan sadar. Sebenarnya, aku tidak tahu bagaimana cara memulainya. Tapi, jika tidak memulainya mungkin aku akan tetap disini dan tidak kemana-mana. Oh ya, sebelumnya aku ingin berterimakasih kepadamu karena selama ini telah menjadi sosok yang begitu istimewa, tidak hanya menjadi seorang guruku namun menjadi seorang yang berarti dalam hidupku. Hanya saja kita tidak beruntung, di atas semua perbedaan yang ada membuat kita saling mencintai pada akhirnya Tuhan pun memberi jawaban terindah bahwa kita tidak untuk dipersatukan.

Hai....

Seseorang yang selalu ku kirimi isyarat melalui doa malamku. Seseorang yang ku beri nama Rindu. Hadirmu bagaikan bintang jatuh dalam hidupku. Semenjak surat bersampul biru darimu ku terima, semenjak itu pula aku jadi pendiam terbaik setiap hari. Ada banyak hal yang belum bisa ku cerna sama sekali. Seakan tak percaya tapi nyata, seperti mimpi namun fakta adanya. Padahal, di senja terakhir kita bertemu aku sudah berusaha menjadi pria yang paling tegar dan meyakini semua akan baik-baik saja. Rupanya semua itu hanya kemunafikan ku saja yang berusaha menutup diri dari keterpurukan yang tak ku sadari sejak dulu. Kamu tahu, mengapa aku sedemikian rapuhnya? Itu disebabkan luka lama senja terakhir kita belum pulih seutuhnya. Malah kamu datang menghampiri lagi dengan membawa surat bersampul biru itu. Entahlah, aku tak bisa berkata apa-apa lagi untuk semua itu bahkan aku tidak tahu apakah aku sanggup menghadiri undanganmu yang merupakan permintaan terakhirmu padaku. Aku tidak pernah tahu.

Oh ya, dalam surat ini bolehkah aku bercerita sedikit saja tentang bagaimana aku yang terkapar, terbakar cemburu dan terasingkan. Hampir setiap malam, dinding kamar jenuh mendengarkan celoteh ku yang tak berkesudahan. Aku menggumang tanpa kejelasan, mencekik lidah tanpa prikemanusiaan, dan seakan lupa diri pada kenyataan. Aku bagaikan lilin yang terbakar. Entah setan apa yang telah merasuki diri ini hingga selimut tebal pun tak mampu lagi menenangkan ku setiap malamnya. Namun, ketika menjelang pagi aku kembali waras dan tahu diri. Seakan gagah dan tak mengenal patah hati. Terkadang aku tersenyum dengan sendirinya menyambut pagi jika sambil mengingat kejadian konyol malam hari.

Dan kini telah sampai di bagian akhir isi surat ini.

Rindu, maafkan aku yang begitu hinanya membawa diri. Sebenarnya aku malu, tapi, untuk melapangkan dada ini agar terlepas dari belenggu yang tak bertepi aku memberanikan diri menulis surat ini untukmu sebagai balasan surat bersampul biru darimu. Maaf, aku tidak bisa menghadiri undangan tersebut karena aku tidak ingin menambah luka lagi dalam hidupku dan tak ingin juga membuat pilu hatimu karena kehadiranku. Biarlah ku titipkan surat ini tepat di hari itu sebagai pengganti aku di hari tersebut. Selamat berbahagia ya. Semoga kekal abadi selamanya.


Tanjung Batu, 12 Desember 2015

Rabu, 05 Oktober 2016

QTS

"Ada sebab rindu meluap tanpa batas
Bukan untuk memaksa kehendak
Karena semesta memang senang bercanda"


"Perlu kamu tahu!!!
Semesta cukup baik membiarkan mata memandang
Langit cukup sigap melontarkan senyuman
Kenapa lelah harus jadi alasan???
Bukankah kita harus siap dengan keadaan dan kenyataan"

"Sebab kita hanya budak takdir
Bahwa gelap harus dihadapi
dan tentang kehilangan itu pasti"

"Kadang, kita perlu berpikir?
Sambil menatap kosong pada langit
Tentang hidup, masa depan, hati dan harapan"

"Dalam hidup, kita hanya perlu berdamai dengan keadaan"


Boby julian

KITA DAN PERBEDAAN

Aku...
Belajar mencintai dengan bersabar
Sepertimu yang tetap tegar
Meski harapmu, harapku tak nyata
Mata tak pernah berdusta

Kau...
Berusaha untuk meyakini diri
Meski langit hatimu akan runtuh
Sejarah memang bukan milik kita
Sama sekali tidak pernah

Kita...
Bukanlah kisah yang sebenarnya ada
Bukan pula cerita yang mengada-ngada
Hanya luka tak berbentuk terjaga
Menggenapi...

Kita..
Adalah ruang kehilangan tuan
Adalah kerinduan di atas harapan
Hanya doa tak pernah padam
Mendamaikan...

Cinta...
Anugerah yang menawar penantian
Lengkap dengan pesakitan
Begitu kejam ketidaktahuan
Menikam hati kita dalam ketiadaan

Harapan...
Adalah ketidakpastian roda kehidupan
Tersemai indah tak bertaman
Mengharuskan berjuang dalam buruknya keadaan
Dalam cinta dan perbedaan

Selasa, 04 Oktober 2016

MEMBUMI

Andai pahitnya hidup tak bertepi
Lukanya harapan tak terobati
Bernyawa seakan mati
Hidup bagai termakan caci maki
Sudahlah...
Biarlah...
Penerka memang begitu Semaunya mendosa
Tak pedulikan tahta
Tak peduli jiwa
Membelati baginya biasa
Hidup baginya hanya tertawa

Berdamailah untuk mereka
Abaikan laku-lakunya
Lupakan tawa konyolnya