Di ujung dini hari ku terusik
Bayangan masa lalu yang ku cemburui
Drama singkat nan kritis berujung ironis
Tak lagi ku temui sintaksis hati yang praktis
Semua cukup pasif akal sehat tak lagi aktif
Asaku menipis serentak hati pun terhiris
Aku mulai beradaptasi dengan kebiasaan
Menawar kemungkinan menjemput mimpi yang hilang
Padamu jejak kenangan aku membangkang
Menginginkan terulang malah terjurang
Kejamnya kelam mengantarku pada ketidakwarasan
Tiada malam ku lalui dengan tenang
Hampir setiapnya ku sudahi bersama igauan
Lelah dan bimbang tiada perbandingan
Aku betah terhukum tanpa penghakiman
Menjadikan suram lengkap dengan kesepian
Yang tak pernah habis ku ceritakan
Hanya Rumah Kenangan, Bahasa Rindu, Budak Jarak, Amarah, Ucap Mata, dan Aroma Takdir.
Sabtu, 08 Oktober 2016
Jumat, 07 Oktober 2016
MEMAAFKAN HARAPAN MEMATAHKAN HATI SENDIRI
Aku bukanlah pelupa yang hebat
Hanya manusia biasa yang gemar menulis tentangmu
Kadang aku hanya berbicara dengan jarum jam
Tanpa hiraukan tanda tanya alam pikiran
Aku telah dibuat gila oleh harapku sendiri
Menjadi bebal dan tak lagi berpikir rasional
Aku gemar menipu diri sebab harapan yang tak mati
Menjebakku dengan kertas-kertas mimpi dalam ilusi memainkan hati
Aku patut membenci diri
Memilah tragedi yang tak pasti
Ah... salahkah harapan yang ada?
"dia tidak salah. Tidak ada harapan yang lahir dengan status bersalah. Sama sekali tidak"
Pikirku yang sembunyi pun berbisik
Baiknya, aku memutuskan untuk memaafkan
Meskipun harus mematahkan hati sendiri
NIKMAT BERDURI
Wahai pemikat...
Salahku juga menggenggammu begitu erat
Membiarkan duri tajammu menancap hebat
Tanpa debat kurawat tanpa sekat
Menawar harap tanpa sebab ucap
Wahai pemikat...
Tak ingin ku ralat hati yang terpikat
Dalam pekat cinta ku terjerat
Mudahnya melekat hingga lupa tanpa sebab
Kau buat singkat jiwa yang terikat
Wahai pemikat...
Aku yang terlalu jadi penikmat
Terlena ketat tanpa sempat mengungkap
Sungguh hebat kau buat luka tanpa sekat
Meracuni hakikat hingga ku tersia harap
Di ujung sempat ku terbuang tanpa tempat
Salahku juga menggenggammu begitu erat
Membiarkan duri tajammu menancap hebat
Tanpa debat kurawat tanpa sekat
Menawar harap tanpa sebab ucap
Wahai pemikat...
Tak ingin ku ralat hati yang terpikat
Dalam pekat cinta ku terjerat
Mudahnya melekat hingga lupa tanpa sebab
Kau buat singkat jiwa yang terikat
Wahai pemikat...
Aku yang terlalu jadi penikmat
Terlena ketat tanpa sempat mengungkap
Sungguh hebat kau buat luka tanpa sekat
Meracuni hakikat hingga ku tersia harap
Di ujung sempat ku terbuang tanpa tempat
Kamis, 06 Oktober 2016
KETIDAKTAHUAN
Mendeskripsikan hati...
Sama rumitnya soal matematika, rumus fisika dan memahami hasil gabungan zat kimia
Ini tentang batin
Bila dipresentasikan kejadian demi kejadian
Kemungkinan hanya semesta berperan
Aku sendiri tidak paham dengan keadaan dan mungkin sama sepertimu
Aku mencoba untuk menelaah lebih jauh dari dua sisi berkombinasi
Antara proses kognisi dan praduga hati.
Inilah aku...
Yang tidak pernah kamu ekspektasikan
Yang tidak pernah semesta duga menuntut pemahaman
Yang diskenariokan mendeskripsikan kompleksnya struktur sintaksis hati
Kamu tahu atau pura-pura tidak tahu
Aku ingin kita meyakini
Kita dirancang substansi di luar konsep pertemuan dan perpisahan
Kisah kita hanyalah nasib
Saat kamu menatapku aku dapat merekam dengan baik
Ada rahasia yang masih kamu bentengi
Mungkin kita sama merasakan
Hanya saja kita terlalu lugu untuk ungkapkan
Sama rumitnya soal matematika, rumus fisika dan memahami hasil gabungan zat kimia
Ini tentang batin
Bila dipresentasikan kejadian demi kejadian
Kemungkinan hanya semesta berperan
Aku sendiri tidak paham dengan keadaan dan mungkin sama sepertimu
Aku mencoba untuk menelaah lebih jauh dari dua sisi berkombinasi
Antara proses kognisi dan praduga hati.
Inilah aku...
Yang tidak pernah kamu ekspektasikan
Yang tidak pernah semesta duga menuntut pemahaman
Yang diskenariokan mendeskripsikan kompleksnya struktur sintaksis hati
Kamu tahu atau pura-pura tidak tahu
Aku ingin kita meyakini
Kita dirancang substansi di luar konsep pertemuan dan perpisahan
Kisah kita hanyalah nasib
Saat kamu menatapku aku dapat merekam dengan baik
Ada rahasia yang masih kamu bentengi
Mungkin kita sama merasakan
Hanya saja kita terlalu lugu untuk ungkapkan
AKU DAN HATI YANG PATAH
Aku sadar dan belajar merasakan
Patah hati menyita kewarasan
Patah hati merenggut keinginan
Patah hati membunuh harapan
Patah hati meninggalkan pesakitan
Patah hati mengobrak-abrik keindahan
Patah hati buatku betah akan nestapa panjang
Aku hanya pasrah ditikam dengan kejamnya kehilangan
Tersayat belati ketidaktahuan
Tertampar hebat dengan ketiadaan
Terhempas jauh dengan begitu memalukan
Air mata bagai jarum menjahit luka hati terdalam
Dan ikhlas, kujadikan benang pas
Patah hati menyita kewarasan
Patah hati merenggut keinginan
Patah hati membunuh harapan
Patah hati meninggalkan pesakitan
Patah hati mengobrak-abrik keindahan
Patah hati buatku betah akan nestapa panjang
Aku hanya pasrah ditikam dengan kejamnya kehilangan
Tersayat belati ketidaktahuan
Tertampar hebat dengan ketiadaan
Terhempas jauh dengan begitu memalukan
Air mata bagai jarum menjahit luka hati terdalam
Dan ikhlas, kujadikan benang pas
Bukan Pelupa Yang Hebat
Bukan
Pelupa Yang Hebat
Boby Julian
Semua tak sama. Memang benar katamu, “Kita akan berusaha menolak saat senja datang
menghampiri kita”. Awalnya, aku sempat berfikir semua akan baik-baik saja
sebelum dan setelah kita menjadi bagian yang tak lagi utuh. Namun, aku tak bisa
membantah dan kepada entah aku bertanya tolol, sendirian, dan mulai menjejaki
remang hidup yang terasa begitu suram. Tak terhitung berapa banyak senja yang
datang menertawakanku karena melihat kebodohanku menjadi pengingat sejati
tentangmu dan tentang kita. Sebenarnya, aku merasa malu pada semesta karena
ketidakrelaan ini.
Aku masih belum mampu beranjak dari masa lalu kita.
Terus terang saja, aku masih ingat saat terakhir kita bertemu di pesisir yang
disertai ombak-ombak kecil begitu berisik dilengkapi dengan hembusan
angin yang begitu romantis. Akan tetapi, semua itu merupakan malapetaka hebat
yang akhirnya menghujani kita berdua. Saat itu, kau menggenggam tangan ku
begitu erat, sejenak kita larut dalam dekapan. Lalu,
kau menangis sambil menunjukan sesuatu yang telah melingkar di jemarimu. Aku
berusaha tegar melihatnya dan mencoba mengusap setiap air mata yang tumpah di
pipimu. Kau pun mulai berbicara terbata-bata “sayang, inilah yang ingin ku jelaskan padamu di senja terakhir kita
bertemu. Aku tak bisa lagi menunggumu, karena aku harus memenuhi permintaan
kedua orang tuaku. Ini pilihannya bukan pilihanku. Maafkan aku yang tak mampu
menolak”. Aku hanya berusaha lebih tegar saat itu, dengan
perasaan hancur berderai ku memulai kata dengan sangat hati-hati “mungkin, ini jalan yang terbaik untuk kita.
Apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak bisa apa-apa. Bukankah musuh terbesar
pertemuan adalah perpisahan dan harusnya kita sadar, kita memang berbeda,
mungkin inilah jawaban Tuhan agar kita mampu mendewasakan diri dan memahami
suratan dariNya” setelah itu aku pun
pamit melangkah dengan tertatih dan sadar diri bahwa semua sudah berakhir.
Sebulan berlalu, aku sendiri menatap keindahan
semesta ini dengan hati yang tak kunjung pulih. Aku hanya meronta-ronta tanpa
suara memukul diri pada sengketa derita. Andai saja dulunya aku mau saat kau
ingin perkenalkanku kepada orang tuamu mungkin semua takkan seperti ini.
Namun, semua itu bukan tanpa alasan aku menolaknya. Aku sadar, aku belum
pantas. Sebab, kita beda usia dan
sisi lainnya lagi kau berkarir sedangkan aku masih berjuang untuk
menemukan jati diriku. Bagaimana mungkin orang tuamu mau melihat anaknya
menunggu untuk waktu yang cukup lama. Entahlah, aku tidak tahu siapa yang salah
dalam kisah ini yang aku tahu kita ditakdirkan tidak untuk menjadi sepasang
kekasih sebagaimana yang sempat kita impikan bersama.
Kini aku mulai melatih diri, rasanya begitu sakit
setiap kali senja yang ku hadiri hanya sendiri dan paling menyakitkan
lagi ketika angin mengantarkan debu yang menggugah diri akan masa lalu. Seperti
kekonyolan, pada saat itu juga aku berharap embun menyambut malam untuk sekedar memulihkan
keadaan yang ku beri nama kesepian. Ku katakan sekali lagi kepada entah “Semua tak sama, dari senja pergi hingga
menjelang pagi. Aku bukanlah pelupa yang hebat. Sudah
sekian purnama aku tidak lagi melihat senyumnya dan tawa indah dari bibirnya
yang biasanya ku anggap sebagai surga kecil yang mengisi hari-hariku yang
senantiasa menawarkan bahagia dan memberi damai tanpa diminta. Kini, semua
telah tiada bahkan untuk melihat punggungnya saja aku tak mampu lagi”.
Pada
akhirnya, banyak entah yang bertanya prihal aku dan hati yang betah sendiri. Sebenarnya,
tidak ada alasan mengenai hal ini. Kalaupun ada itu hanya sebuah alasan yang ku
paksakan ada. Baiklah, aku akan mencoba untuk mengurai alasan yang ku paksakan
ada. Memang sudah cukup lama rasanya aku tidak lagi berurusan dengan yang
namanya cinta. Aku memutuskan untuk menyendiri setelah yang terakhir kali
bersamaku memilih untuk berhenti menunggu. Jujur saja, dia sedikit banyak
meninggalkan bahagia lengkap dengan luka di dalamnya. Aku dan dia pernah
berjuang bersama dalam doa dan nyata semoga indahnya cinta selamanya utuh.
Tapi, aku mengerti bahwa “selamanya” itu tidak lama. Setelah peristiwa itu aku
mencoba berdamai dengan keadaan. Merelakan yang sebenarnya tidak ku relakan.
Bukankah musuh terbesar seseorang yang sedang ingin melupakan adalah kebiasaan.
Oleh karena itu, aku telah terbiasa menghabiskan waktu bersamanya. Aku terlalu
terbiasa dengan bau harum tubuhnya, tawa indahnya dan kemanjaannya. Butuh waktu
untuk melupakan semua itu. Mungkin dengan alasan inilah, senja akan berhenti
menertawakanku dan purnama takkan membiarkan lagi aku kesepian karena mereka tahu
aku bukanlah pelupa yang hebat.
Surat Terakhir Buat Bu Guru
Surat Terakhir Buat Bu Guru
Boby Julian
Assalamualaikum Rindu.
Bagaimana kabarmu hari
ini? Aku harap kamu baik-baik saja dan selamat berbahagia ya.
Maafkan aku yang harus
menulis ini dengan sengaja dan dalam keadaan sadar. Sebenarnya, aku tidak tahu
bagaimana cara memulainya. Tapi, jika tidak memulainya mungkin aku akan tetap
disini dan tidak kemana-mana. Oh ya, sebelumnya aku ingin berterimakasih
kepadamu karena selama ini telah menjadi sosok yang begitu istimewa, tidak
hanya menjadi seorang guruku namun menjadi seorang yang berarti dalam hidupku. Hanya saja kita tidak beruntung, di atas semua perbedaan yang
ada membuat kita saling mencintai pada akhirnya Tuhan pun memberi jawaban
terindah bahwa kita tidak untuk dipersatukan.
Hai....
Seseorang yang selalu
ku kirimi isyarat melalui doa malamku. Seseorang yang ku beri nama Rindu. Hadirmu
bagaikan bintang jatuh dalam hidupku. Semenjak surat bersampul biru darimu
ku terima, semenjak itu pula aku jadi pendiam terbaik setiap hari. Ada banyak
hal yang belum bisa ku cerna sama sekali. Seakan tak percaya tapi nyata,
seperti mimpi namun fakta adanya. Padahal, di senja terakhir kita bertemu aku
sudah berusaha menjadi pria yang paling tegar dan meyakini semua akan
baik-baik saja. Rupanya semua itu hanya kemunafikan ku saja yang berusaha
menutup diri dari keterpurukan yang tak ku sadari sejak dulu. Kamu tahu,
mengapa aku sedemikian rapuhnya? Itu disebabkan luka lama senja terakhir kita
belum pulih seutuhnya. Malah kamu datang menghampiri lagi dengan membawa
surat bersampul biru itu. Entahlah, aku tak bisa berkata apa-apa lagi untuk
semua itu bahkan aku tidak tahu apakah aku sanggup menghadiri undanganmu yang merupakan permintaan terakhirmu padaku. Aku tidak pernah
tahu.
Oh ya, dalam surat
ini bolehkah aku bercerita sedikit saja tentang bagaimana aku yang terkapar,
terbakar cemburu dan terasingkan. Hampir setiap malam, dinding kamar jenuh
mendengarkan celoteh ku yang tak berkesudahan. Aku menggumang tanpa kejelasan,
mencekik lidah tanpa prikemanusiaan, dan seakan lupa diri pada kenyataan. Aku bagaikan lilin yang terbakar. Entah setan apa yang telah merasuki diri
ini hingga selimut tebal pun tak mampu lagi menenangkan ku setiap malamnya.
Namun, ketika menjelang pagi aku kembali waras dan tahu diri. Seakan gagah dan
tak mengenal patah hati. Terkadang aku tersenyum dengan sendirinya menyambut
pagi jika sambil mengingat kejadian konyol malam hari.
Dan kini telah sampai
di bagian akhir isi surat ini.
Rindu, maafkan aku yang
begitu hinanya membawa diri. Sebenarnya aku malu, tapi, untuk melapangkan
dada ini agar terlepas dari belenggu yang tak bertepi aku memberanikan diri
menulis surat ini untukmu sebagai balasan surat bersampul biru darimu. Maaf,
aku tidak bisa menghadiri undangan tersebut karena aku tidak ingin menambah luka
lagi dalam hidupku dan tak ingin juga membuat pilu hatimu karena kehadiranku. Biarlah ku titipkan surat ini tepat di hari itu sebagai pengganti aku di hari tersebut. Selamat berbahagia ya. Semoga
kekal abadi selamanya.
Tanjung Batu, 12
Desember 2015
Rabu, 05 Oktober 2016
QTS
"Ada sebab rindu meluap tanpa batas
Bukan untuk memaksa kehendak
Karena semesta memang senang bercanda"
"Perlu kamu tahu!!!
Semesta cukup baik membiarkan mata memandang
Langit cukup sigap melontarkan senyuman
Kenapa lelah harus jadi alasan???
Bukankah kita harus siap dengan keadaan dan kenyataan"
"Sebab kita hanya budak takdir
Bahwa gelap harus dihadapi
dan tentang kehilangan itu pasti"
"Kadang, kita perlu berpikir?
Sambil menatap kosong pada langit
Tentang hidup, masa depan, hati dan harapan"
"Dalam hidup, kita hanya perlu berdamai dengan keadaan"
Bukan untuk memaksa kehendak
Karena semesta memang senang bercanda"
"Perlu kamu tahu!!!
Semesta cukup baik membiarkan mata memandang
Langit cukup sigap melontarkan senyuman
Kenapa lelah harus jadi alasan???
Bukankah kita harus siap dengan keadaan dan kenyataan"
"Sebab kita hanya budak takdir
Bahwa gelap harus dihadapi
dan tentang kehilangan itu pasti"
"Kadang, kita perlu berpikir?
Sambil menatap kosong pada langit
Tentang hidup, masa depan, hati dan harapan"
"Dalam hidup, kita hanya perlu berdamai dengan keadaan"
Boby julian
KITA DAN PERBEDAAN
Aku...
Belajar mencintai dengan bersabar
Sepertimu yang tetap tegar
Meski harapmu, harapku tak nyata
Mata tak pernah berdusta
Kau...
Berusaha untuk meyakini diri
Meski langit hatimu akan runtuh
Sejarah memang bukan milik kita
Sama sekali tidak pernah
Kita...
Bukanlah kisah yang sebenarnya ada
Bukan pula cerita yang mengada-ngada
Hanya luka tak berbentuk terjaga
Menggenapi...
Kita..
Adalah ruang kehilangan tuan
Adalah kerinduan di atas harapan
Hanya doa tak pernah padam
Mendamaikan...
Cinta...
Anugerah yang menawar penantian
Lengkap dengan pesakitan
Begitu kejam ketidaktahuan
Menikam hati kita dalam ketiadaan
Harapan...
Adalah ketidakpastian roda kehidupan
Tersemai indah tak bertaman
Mengharuskan berjuang dalam buruknya keadaan
Dalam cinta dan perbedaan
Belajar mencintai dengan bersabar
Sepertimu yang tetap tegar
Meski harapmu, harapku tak nyata
Mata tak pernah berdusta
Kau...
Berusaha untuk meyakini diri
Meski langit hatimu akan runtuh
Sejarah memang bukan milik kita
Sama sekali tidak pernah
Kita...
Bukanlah kisah yang sebenarnya ada
Bukan pula cerita yang mengada-ngada
Hanya luka tak berbentuk terjaga
Menggenapi...
Kita..
Adalah ruang kehilangan tuan
Adalah kerinduan di atas harapan
Hanya doa tak pernah padam
Mendamaikan...
Cinta...
Anugerah yang menawar penantian
Lengkap dengan pesakitan
Begitu kejam ketidaktahuan
Menikam hati kita dalam ketiadaan
Harapan...
Adalah ketidakpastian roda kehidupan
Tersemai indah tak bertaman
Mengharuskan berjuang dalam buruknya keadaan
Dalam cinta dan perbedaan
Selasa, 04 Oktober 2016
MEMBUMI
Andai pahitnya hidup tak bertepi
Lukanya harapan tak terobati
Bernyawa seakan mati
Hidup bagai termakan caci maki
Sudahlah...
Biarlah...
Penerka memang begitu Semaunya mendosa
Tak pedulikan tahta
Tak peduli jiwa
Membelati baginya biasa
Hidup baginya hanya tertawa
Berdamailah untuk mereka
Abaikan laku-lakunya
Lupakan tawa konyolnya
Lukanya harapan tak terobati
Bernyawa seakan mati
Hidup bagai termakan caci maki
Sudahlah...
Biarlah...
Penerka memang begitu Semaunya mendosa
Tak pedulikan tahta
Tak peduli jiwa
Membelati baginya biasa
Hidup baginya hanya tertawa
Berdamailah untuk mereka
Abaikan laku-lakunya
Lupakan tawa konyolnya
Langganan:
Postingan (Atom)