Sabtu, 25 Februari 2017

KEAJAIBAN WAKTU

SENASIB ANGIN #2

Hasil gambar untuk Wanita sendiri di senja
Add caption
Ada perundingan antara hati dengan pikiranmu. Semua perundingan hanya bertumpu pada sekumpulan rindu dan menunggu. Sebuah Monolog singkat yang membuatmu sesak. Kemudian yang kaudapati hanyalah nasib senasib angin yang dengan mudahnya menghujani kedua bola matamu.

Kau masih menunggu. Seseorang yang pernah menjanjikanmu sebuah istana terindah di hatinya. Namun seseorang itu seolah berlibur kabur tanpa enggan mengukur dosis rindumu yang babakbelur. Segenap hati dan pikiranmu pun hancur merasakan nasib senasib angin. Namun kau tetap mencoba untuk terus mencatat namanya di setiap halaman baru bukumu, sebagai lembar alasan bahwa kau masih menunggu. Kau tak pernah peduli meskipun yang membaca buku itu hanyalah rindu.

Sebenarnya kau tahu, prihal menunggu tak ubahnya dengan rasa secangkir kopi yang menagih gula untuk diaduk kembali. Namun kau tak peduli, bahkan kau sanggup menjadi kemarau yang bersikeras terjaga hingga larut menunggu hujan tanpa kepastian. Lantas hujan yang menjadi penantianmu hanya bayangnya yang merintik di kepala dan mengalir di kelopak matamu. Tinggallah Rindu dalam dahaga temu yang menjadi menu waktu yang terus-menerus menawar getir pilu padamu.

Kau kehilangan, lantas perayaan yang menjadi kenangan tak cukup juga mengubah perasaanmu. Padahal kau tak berpura-pura sadar. Namun segenap hati yang terus bicara atas pesakitan tak mengubah alam pikiranmu untuk tetap berpegang teguh, menunggu. Bebanmu yang begitu berat, tapi kau tak pucat memahatnya meskipun tidurmu tak lagi nyenyak.

Kau selalu bersedia siap dengan berjuta harap akan segera cepat kau temui sebuah jawab. Namun yang kau dapat hanyalah menatap bayangan yang menetap membuat bibirmu gagap berucap. Kau tak menemukan cara apapun untuk menyelamatkan perasaanmu yang kehilangan alamat. Sungguh, kau bisa sesabar itu hidup dalam bujuk semu merasakan nasib senasib angin.

Ketidahtahuannya tentang dirimu yang kerap membantah prihal melupakan, tak juga sanggup membuatmu menghindar dari harapan yang sejak lama terabaikan. Pahit perpisahan tak lagi jadi pertimbangan, bahkan janjinya yang hilang tak kau beri nama penghianatan. Sungguh, kisahmu tak kau sebut malang meski kau telah hidup berjalan pincang terpatahkan harapan. Kau selalu membicarakannya padaNya, tentang harapan yang cemas dan kerinduan yang mengangankan pertemuan.

Kerinduan yang kau rasakan sama persis dengan cuaca yang membekukan peluk ketika dingin dan melelehkan airmata saat kemarau. Kerinduan dan harapanmu yang telah menyatu itu seringkali bertentangan dengan pikiranmu yang sudah bosan. Namun hatimu masih menguatkan hingga monolog perundingan pun tak berkesudahan, sebab kau tak mampu memberi keputusan untuk langkah yang terasingkan tujuan.

Kau tak peduli dengan pertengkaran hati dan pikiranmu. Rindu memang tak kenal waktu. Hanya mampu diucap oleh mata ketika yang datang hanya sebatas wajahnya yang merona lalu hilang. Pada bayangnya itu pula kau salah mengeja makna sehingga tanpa sungkan kau meminjam kesedihan berkepanjangan.

Sudah terlalu lama kau menderita. Penderitaan yang ada kau jadikan indah. Matamu yang tak pernah lelah berkaca-kaca, merasakan nasib senasib angin. Namun semua itu justru membuat rindu dan prihal menunggumu betah menginap dalam sajak doa yang kau harapkan keajaiban waktu dari-Nya.

Tanjungpinang, 24 Februari 2017

Bersambung.....




Jumat, 17 Februari 2017

SENASIB ANGIN (SENJA)



Bolehkah sejenak aku masuk ke duniamu?

Sudah lama kaujatuh cinta pada senja, pada semua pernik langit yang melukiskan keindahan di kala mentari perlahan surut di ujung cakrawala dan menawarkan kebahagian. Begitu pun kaumenyempatkan diri untuk sendiri menghadiri senja hampir setiap hari. Sepertinya kau sedang memahami tentang teori kebencian, impian, kenangan juga kerinduan. Namun semua yang terpapah membuat hatimu berdenyut seolah-olah bernanah. Lantas dalam pikiranmu melogikan fakta, tetap berdiri, dan berbicara diam dengan segelintir tanya tentang sebuah nama yang kausemat dalam doa.

Masih dalam periode senja kelabumu tanpa episode baru. Suatu hari di Februari kala senja yang terus kauhadiri hampir setiap hari, menyapamu dengan merdu, dan kembali menawarkan kebahagian. Tanpa penolakan seribu alasan, sebuah kejadian yang sudah terbiasa kaurasakan nasibnya senasib angin. Kausambut dengan harapan yang jelas sudah kautahu bakal semu. Kaumemang tak bergerak kemanapun akan tetapi; hati dan pikiranmu tetap berlayar melintasi samudera kebencian sekadar bertujuan menjemput kenangan yang menjadi impian bakal terulang.

Masih juga dalam periodemu yang sama dengan episode serupa. Antara ada dan tiada, rindu masih terus mengunjungi hati dan pikiranmu yang sudah tak tertanggungkan lagi rasanya. Senja pun mengingatkanmu untuk tetap tidak lupa memberi kesempatan pada hati dan pikiranmu untuk berlayar kembali di sore hari. Kaupun pasrah dan berserah, membiarkan senja mengatur skenario drama kosongmu yang setiap harinya disaksikan lembayung jingga hingga langit menua renta tak sanggup kaucegah. Kautersenyum, juga sesekali menitikan airmata, dan yang kaurasakan hanya nasib senasib angin.

Masih dalam periode yang sama tanpa episode yang berbeda. Teorimu mulai rapuh dan dalam sekejap hatimu runtuh, mulai merangkai aksara menjadi bicara tentang tanya besar antara hati dan pikiranmu yang janggal. Pertanyaan yang ada tak satupun mampu kaujawab dengan sederhana. Kauhanyut dalam mega rindu akan kenangan yang bergelombang, memintamu berlayar kembali melintasi samudera kebencian. Kau tak bisa menolaknya, hingga jiwamu menyebrang jauh dalam angan pertemuan yang kau rindukan. Pertemuan yang selalu kau harapkan itu adalah pertemuan yang kau sendiri tak tahu pada siapa kau akan bertemu, entah seseorang di masa lalu atau akan ada orang baru.

Alangkah hebatnya senja mengajak hati dan pikiranmu berlayar tak bernahkoda. Kiranya kau akan tersesat di setiap harinya, namun kau selalu kembali dengan selamat menyambut pekat malam yang dahsyat. Semoga kau terus bahagia sebagai pelakon senja drama kosong lembayung jingga, hingga periode kelabumu usai dan kau tata episode baru sampai menuju surge.
Aku pamit untuk kembali keluar dari duniamu, terima kasih telah mengizinkanku masuk sejenak untuk merasakan hal yang sama, merasakan nasib senasib angin.

Tanjung Batu, 16 Februari 2017
Bersambung.......



*Tulisan ini ditulis untuk orang-orang yang menyukai senja dan menikmati setiap pernak-pernik langit jingga. Ada sebagian dari mereka yang menceritakan kepada bahwa betapa berartinya senja di dalam hidupnya yang mampu membuat hidup menjadi damai, tenang, dan membahagiakan meskipun terkadang hanya sebatas kerinduan dan khayalan. Bagi mereka senja adalah tempat menuangakan rasa yang tak berujar kata belaka. Senja tak pernah mengingkari janji bahwa Ia selalu kembali. Sungguh, senja tetap hadir meskipun terkadang badai berusaha menghalanginya, Ia tetap datang tepat waktu dan pergi tanpa ragu. Begitulah senja, indah tanpa perhiasan, mengagumkan, mendamaikan segala rasa serta melapangkan pikiran dan mengajari kita untuk tetap bersyukur padaNya.



Minggu, 29 Januari 2017

MENGENAL KARENA TAKDIR, MENCINTAI KARENA JODOH



Hasil gambar untuk ilusi pelaminan
Semua ini tentang cinta yang akan menjadi bagian setiap tulisan-tulisanku.Tentang cinta yang meminta kita untuk tetap diam. Tentang cinta yang meminta kita untuk tetap mencintaiNya. Kita punya waktu untuk menjadi akrab dan berdampingan, tapi tidak untuk menceritakan tentang cinta yang sedang kita rasakan. Ada sikap yang terkadang membuat kita nyaman, saling bertatap muka, dan membagi cerita untuk saling menguatkan satu sama lain. Kita percaya bahwa sesungguhnya cinta bukan dari mana kita bertemu dan bagaimana kita bersama, tapi dari cara kita mendekat kepadaNya si pemilik cinta. Seandainya jodoh pasti akan kita temukan sebuah jalan untuk menuju rumah yang kita impikan bersama dalam doa karena kita adalah kata yang belum ada rupanya. Pernikahan pun hanya sebuah wacana yang selalu kita bicarakan ketika menghadapNya untuk sebuah rencana masa depan. Dan semoga kita membicarakan hal yang sama.

Cinta yang aku rasakan memang tanpa kepastian namun itu bukanlah sesuatu yang menghalangiku untuk tetap merasakan cinta. Lihat saja dari tatapan kita ketika berpapasan, ada sesuatu yang tak bisa kita hindari, sesuatu yang belum kita mengerti, namun menjadi sesuatu yang begitu berarti. Ah…sudahlah, mungkin itu hanya firasatku tapi ada benarnya juga -bisa sajakan kita saling mencintai tapi gengsi- karena perbedaan angka dalam jumlah yang tidak sama atau mungkin hanya aku saja yang merasakan cinta tersebut. Entahlah, aku tidak punya jawaban yang tepat untuk semua itu jika ada orang lain yang bertanya tentang kita.

Aku tidak ingin banyak berkomentar tentang cinta yang sedang aku rasakan. Saat ini yang aku lakukan hanya berusaha dengan segala kemampuanku menyelesaikan semua yang sudah dimulai. Biarkanlah kita bergerak untuk saling mendekat dengan bekal doa dan berharap Allah menjaganya, meskipun belum tentu aku yang kausebut di dalam doamu. Namun aku tidak takut, aku tetap berusaha memantaskan diri sampai tiba hari yang memersatukan kita. Aku akan terus berusaha sebisaku, semoga Allah meyakinkan hatimu untuk menerjemahkan cinta dalam bentuk pernikahan meskipun dengan segala perbedaan yang ada. Bagiku bukanlah suatu masalah besar untuk memersiapkan diri sebagai dua anak manusia yang saling mengenal karena takdir dan mencintai karena jodoh.


Saat ini kita memang tidak beruntung, jika benar kita adalah sesuatu yang diinginkanNya maka kauharus menunggu lama. Maafkan aku yang membuatmu sekiranya ragu karena aku tidak pernah mengatakan cinta. Kauperlu tahu alasannya, aku tidak ingin mengotori hati kita hanya karena cemburu yang tidak pantas digugat. Aku ingin kita menjadi hati yang siap tanpa gugatan, bukankah itu adalah pengalaman disaat kita saling berbagi cerita tentang cinta di masa lalu. Cinta yang sempat membuat kita hilang arah dan berpikir patah hati adalah hukuman. Oleh karena itu, aku tidak ingin cinta yang sedang aku rasakan ini membuat kita merasakan hal yang sama seperti di masa lalu.

Apalah artinya cinta jika terlalu tergesah-gesah mengatakannya, justru di antara kita ada yang kecewa?

Cinta bukanlah sekadar kata-kata romantis yang tersusun dengan sistematis pun tidak mengenal usia. Cinta, cukup kau dan aku yang menjadi bukti jika diberi kesempatan untuk menjadi kita. Begitulah cinta yang masih kurahasiakan padamu. Cinta yang sama sekali belum pernah kukatakan bahwa aku mencintaimu karena aku ingin membuktikan kesetian cintaku kepada Allah terlebih dahulu sebelum aku menghalalkanmu dalam sumpah kita atas cinta dan kesetian dihadapan penghulu. Oleh karena itu aku menitip rasa ini kepada Allah agar nanti aku pun siap, andai kita berjodoh pasti akan bertemu dan duduk bersama di kursi bak Raja dan Ratu sejagad atau pun di antara kita hanya sebagai tamu yang datang memberi doa restu.

Sabtu, 10 Desember 2016

MAAFKAN KISAHNYA!!!



Kamu mulai ragu melupakannya.Hening yang sekejap di ruang bercahaya remang, kamu mencoba untuk tidak membiarkan airmatamu tumpah lebih banyak lagi. Kamu yang sudah terbiasa merasakan hal serupa di setiap malamnya, kali ini seakan tersiksa oleh bayang-bayang sesal yang mulai menghujani seluruh tubuhmu. Dilema itu mulai menghakimi dalam keinginan yang sejak lama ingin lekas kamu tuntaskan, melupakannya. Namun, sebungkus cerita yang menjadi kisahmu dalam sepuluh tahun berpetualang bersamanya dengan situasi yang beragam-ragam, menjadikanmu lumpuh untuk beranjak jauh dari beranda kenangan. Kamu kembali berpikir tentang melupakan yang pada dasarnya hanya ada dalam cerita dongeng. Pada akhirnya kamupun menunda keinginan yang sejatinya memang takkan pernah terjadi sama sekali.

Di malam itu, kamu mulai berbicara sendiri kepada dinding kamar yang kerap menemani kesedihanmu. Bagimu tidak perlu lagi menjelaskan kepadanya tentang bagaimana sakitnya melawan ketiadaan yang menampar keinginan. Mungkin terlalu banyak barang kenangan yang membentuk lingkaran di kepalamu. Bayang-bayang yang senantiasa tanpa ragu mewarisi kisah yang tertulis di buku biru yang sudah kalian letakkan jauh-jauh dari kehidupan masing-masing.

Haruskah melupakan, sedangkan kisahnya sudah melekat tanpa sekat. Mungkin saja waktu itu kalian terlalu cepat mengikat sehingga kalian tidak sependapat lagi dalam melunaskan ambisi yang sempat jadi alasan sebuah pengharapan. Mungkin juga sampai detik ini kalian masih terheran, entah apa penyebabnya sehingga perbedaan menjadi penguasa perdebatan dan mungkin saja kalian gagal paham dengan apa yang sudah kalian rancang. Akhirnya, hanya bisa terdiam dan menanggung perasaan dalam bahasa yang hanya menjadi tulisan. Begitulah cara kalian dalam menerka takdir, menulis dengan sederhana berharap sama-sama membacanya.

Kamu yang kiranya mulai patah hati. Kini semakin akrab dengan alam dalam keadaan apapun. Kamu menjelma menjadi sesosok pendiam yang malu menceritakan kisahnya pada teman dan orang-orang terdekatmu. Semua dimulai semenjak takdir mengutus perubahan yang sama sekali kamu tidak menduganya dan ketika takdir berubah, kamu hanya menghadiri senja untuk menghibur hati yang sudah mulai berantakan ruangnya. Senja yang hanya mampu menceritakan kembali kisah kalian yang telah usang dan membuatmu nyaman hidup dalam lamunan sambil mengangkat tangan untuk sebuah pengharapan yang hilang. Tentu saja, nafasmu masih menjadi saksi dan detak jantungmu masih menjadi bukti meskipun di senja itu yang tersisa hanya segumpal kisah yang tertinggal dalam keadaan setengah mati. Namun, rindu yang sudah mendekam di hatimu menjadi kekuatan hati yang sejatinya telah patah.

Di sisi lainnya juga kamu betah menjadi orang asing yang menikmati angin, hujan, pagi, siang dan malam. Mungkin saja kamu ingin mengkolaborasikan perasaan yang tersia takdir dalam kurun waktu yang kamu sendiri tidak tahu sampai kapan. Takdir yang bisa saja membunuhmu dengan airmata yang menjadi darah, ketika oksigen yang ada hanya memburu kenangan demi kenangan.

Kamu menikmati angin, karena angin telah membawamu kembali ke pondok kecil beratap rusak, tempat di mana kamu bersamanya menikmati senja yang menghubungkan cerita kalian dalam tawa sebuah pengharapan masa silam. Angin yang kamu jadikan alasan untuk tetap tersenyum serta bersyukur karena ingatanmu belum sepenuhnya rusak.

Begitu juga logika hujan yang seringkali membuatmu menangis. Sebab, pasir bergaram yang sempat meninggalkan jejak kalian perlahan-lahan terhapuskan oleh rintiknya tanpa ampun. Kamu memang tidak sedang membenci hujan tapi airmatamu tidak dapat berbohong bahwa kenapa harus hujan, mengapa tidak gerimis. Begitulah hujan yang ingin melihatmu menangis kerena tidak ada jejak yang abadi biarpun kenangan telah bersemayam kekal di kehidupan.

Kamu juga menikmati pagi, karena pagi telah membuatmu hidup kembali meskipun pagi yang kini kamu lalui setiap hari sudah tidak lagi bersama hadirnya. Namun, bagaimana tentangnya, tentang kalian. Pastinya, pagi akan selalu mengisi itu semua dengan tarian indah berbau sendu di kepalamu. Tapi kamu sadar tarian itulah yang membuatmu tetap tersenyum dan memulai aktifitas apapun dengan ekspresi yang tidak banyak orang tahu.

Lalu, bagaimana dengan malam?

Mungkin inilah waktu yang paling ingin kamu hindari, waktu yang telah menggagalkanmu melupakan dirinya, waktu yang membuatmu harus menanggung beban perasaan dan waktu yang tidak bersahabat untuk menlancarkan aktifitasmu yang seharusnya dengan mudah  diselesaikan. Malam adalah waktu yang paling kamu takutkan karena airmata biasanya mengalir tanpa disadari, pikiranmu pun berlari-lari kemana-kemana, dan hatimu terguncang kembali dengan kejam mengobrak-abrik isinya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Tapi bisa saja kamu lupa bahwa malam memiliki bagian terpenting dalam hidupmu. Sebab, malam juga selalu membuatmu tertidur pulas dan menyelamatkanmu dari teriakan-teriakan kenangan bahkan terkadang mengajakmu mengakat tangan sedada untuk merajut setiap pengharapan yang mati. Begitulah adanya malam tak selamanya ia kejam.

Pada hakikatnya, kamu telah dirundung pilu yang bertubi-tubi. Kemalangan hati yang tiada hentinya, sesungguhnya menjadikanmu lebih kuat lagi menjalani hidup. Kamu memang perlu melihat ke belakang meskipun itu butuh kesiapan hati untuk meratapi karena dengan begitu kamu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, takdir seperti apa yang telah kamu dapatkan dan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Melihat ke belakang adalah langkah di mana semestinya akan melanjutkan perjalanan bahwa tidak mungkin selamanya hidup akan sama.

Prihal takdir, kamu tidak perlu protes. Hidup ini sejatinya adil, terkadang ia sengaja membiarkanmu larut dalam duka supaya nantinya kamu mampu memantapkan diri ketika bahagia menghampirimu. Bicara tentang takdir memang lucu, takdir memiliki sejumlah paket yang berbeda. Jadi, Jangan pernah menganggap kisah yang tidak sempurna itu mati karena di lain waktu kisah itu tetap menghampiri ingatanmu. Mungkin dengan sengaja dia ingin melihatmu bersedih atau justru ingin melihatmu jadi sesosok yang kuat, tegar, dan tidak menjadi bisu.


Pada akhirnya apa yang harus kamu lakukan, hanya memaafkan. Memaafkan kisahnya yang yang sudah membuat seluruh tubuhmu menikmati pesakitan luar dan dalam. Maafkanlah kisahnya yang sempat membuatmu menangis karena sebuah pengharapan yang dipatahkan takdir. Jangan pernah menyalahkan rindu, cinta, dan seluruh perasaan yang dianugerahkan Tuhan. Sebab, masa depan siapa yang tahu. Mungkin kamu tidak bisa memilikinya, setidaknya kamu memiliki kisahnya. Dan Begitulah kehidupan, kita perlu memaafkan semua yang terjadi karena dengan begitu kita akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Minggu, 27 November 2016

PESAN MALAM

Hasil gambar untuk MALAM SEPI

Malam ini aku mengarunginya dengan sebuah perjalanan kosong tanpa tahu jarak tempuh dan arah tujuan karena yang aku lakukan hanya sekedar ingin menikmati malam. Satu jam sudah lamanya aku berjalan, kini aku sedang berada di pinggir hutan yang lumayan rimba dan aku menghampiri sebuah angin di bawah rindang, angin sedang menangis. Lantas aku pun bertanya “mengapa engkau menangis sahabatku, desirmu begitu menyayat kudengar?”  Angin pun menjawab dengan lirih “Aku kesepian. Aku melewati setiap hamparan lembah hanya keheningan yang kudapat. Ketika aku memilih melewati gurun nan luas hanya keheningan yang menemaniku. Aku kesepian, Tuan”  aku pun terperangah tanpa sepatah kata dan membiarkan angin pergi begitu saja.

Kemudian aku melanjutkan kembali perjalananku. Telah jauh aku menempuh jalan. Namun tak ku jumpai keramaian di malam, hanya ada hening yang mencekam. Perjalananku semakin jauh tanpa peduli penat kakiku yang mulai nyeri. Lalu, Aku terhenti di sebuah persimpangan kilometer 14. Di sana aku menemukan seekor belibis putih yang sedang menangis. Aku pun bertanya padanya “mengapa engkau menangis di keheningan malam ini?” dan sang belibis pun mengepakkan sayapnya seraya mendekatiku dengan lunglai sembari menjawab “aku menangis karena mengenang kekasihku Tuan. Aku tidak tahu di mana dia berada sekarang. Sudah hampir tujuh purnama aku menantinya di sini, menanti kepulangannya sebagaimana janji pertemuan yang sempat kami utarakan sebelum perpisahan. Aku takut akan kehilangan  Tuan” aku kembali bertanya pada sang belibis “apakah engkau masih meyakini bahwa kekasihmu pasti pulang? sang belibis pun menjawab sembari terisak “aku tidak tahu Tuan, kadang aku meyakini karena kekasihku pernah berjanji. Namun, kadang kala aku merasa putus asa dan hilang rasa percayaku. Sebab, untuk sekedar tahu dia baik-baik saja tidak pernah kudapati beritanya. Aku lelah Tuan, mungkin ini memang sudah nasibku hanya bersandar pada pengharapan tanpa kepastian” sang belibis pun langsung bergegas meninggalkanku. Aku hanya terdiam pun tak sanggup menerka kejadian yang serupa dengan angin setengah jam lalu.

Kini aku hanya memerhatikan alam dan menunda perjalananku di sebuah persimpangan, tempat di mana aku bertemu pada seekor belibis putih yang menangis. Aku pangling bahkan untuk mengingat yang terjadi pun aku tak tahu apa yang sedang aku rasakan, hanya ada ketiadaan di balik wujud diri ini. Mungkin semesta sedang berkelakar menyaksikan aku yang sedari tadi terheran. Namun, kenapa harus hujan yang turun? Aku pun bingung dengan keadaan alam dan semakin bingung dengan maksud hujan membasahiku.

Pada akhirnya aku memilih meneruskan perjalananku di bawah hujan melawan arah. Aku memilih menikmati saja daripada harus menggerutu tanpa sebab. Rupanya hujan begitu menyenangkan dan begitu baik sekali karena telah mengantarku pulang untuk melepaskan segala penatku yang tersesat oleh perjalanan tak bertujuan. Dan kini aku disaksikan oleh dinding kamar saat aku mulai mengeja makna demi makna yang disampaikan malam padaku. Lalu, mengurai arti demi arti yang diucapkan air.

Ternyata benar pesan malam, bahwa aku terlambat sadar akan maya demi maya yang selama ini mencuat isyarat. Aku pun lirih membenarkan firasat diri dalam pikirku yang kini mulai bersenandung bahwa “ada sesosok serupa indah kejora dalam airmata maya telah luruh mencariku. Menatih dan tertatih dalam mengayuh bidak rapuh, dikarenakan aku dalam pengembaraan sunyi. Dia diam seribu bahasa, dalam sekian masa hanya keluhnya yang hadir menemani bukan pengharapannya akan kepulanganku. Oh Puan, maafkan aku yang selama ini tak mengenal arti mayamu. Sesungguhnya yang terjadi adalah aku tidak sedang membunuh kita. Keluh itu adalah pertempuran yang tidak dapat kau menangkan, begitu pun aku merasakan dalam pencarian jalan pulangku”


Kini rasa bersalahku hadir melintasi dalam bayang-bayang dan segenap haru menghukumku menghadirkan sadar bahwa aku memang manusia yang jatuh pada butuh. Jangan anggap aku melupakanmu, tidak sama sekali itu terjadi padaku, Puan. Andai saja kau tahu bahwa kau adalah rajut sempurna pelangi tasbihku mungkin kau akan damai dalam penantianmu. Sesungguhnya begitu besar kasihku padamu, namun tak melebihi kasihku pada Tuhanku. Bersabarlah Puan, Sebab apa yang kita harapkan bila memang ada campur tangan dari Tuhan tanpa maya pun kita akan mengutus kebahagiaan baik itu di dunia maupun akhirat.

Kamis, 24 November 2016

GERIMIS YANG KRITIS

Hasil gambar untuk lelaki gerimis
Ranting pilu menulis kembali puisiku di dahan haru. Seperti rindu, sebagai rindu, pada jejak sebutanku di punggung senja kemarin kala itu tangkai kenangan berangsur-angsur menggeming mendesak rindu nan temu. Diamku menjadi lena yang membius aroma puitis jejak romantis pada bait-bait puisi yang tertulis, ibarat sampan kecil yang menjelajahi lautan gerimis dan ayat-ayat rinduku seperti tersihir pada sesuatu yang hadir, bayangmu.

Seiring dengan lamunanku, terbiar pula musim yang mengikuti perangkap sunyi yang kemayu. Tibalah waktu mendadak menjadikanku kasmaran karena dimanja rindu. Keresahan belum usai, pun tak terbatas waktu dan kali ini rindu ingin berjihad hebat melawan waktu dan jarak. Demi sebuah sapa atau sekedar menunaikan janji temu, karena rasa sesak detak rindu itu terletak sejajar di sebelah dada tempat pengabdian rasa bermuara.

Apatah benar kemungkinan temu itu menjejaki kita di tepian pasir bergaram? Ahk... aku hanya sekedar berharap tanpa titik lugas. Nyatanya prihal temu kosong, hanyalah sebatas bayang yang mengobrak-abrik tataan rindu yang mandiri.

Perlahan-lahan aku mulai mencoba menjadi manusia setabah tanah, meski harus melenyapkan prosa tanpa suara. Hanya sesumbar rindu saja, aku berpura-pura tegar mengkhatamkan puisi sendu. Lagi-lagi rindu sedang bersenandung, padahal atmosfer syaraf-syaraf kepalaku tak stabil seperti dulu. Dan pada akhirnya si pejemput puisi itupun paham, tentang si penyair penjelajah laut gerimis, suram dan tenggelam. Jasadnya dibawa malaikat inspirasi dan ruhnya tersangkut di punggung sepi.

Seandainya rindu ini adalah dongeng, mungkin aku tidak sekarat sedemikian bentuk bagaikan terkutuk, menunggu dipungut Tuhan dengan segera. Rasanya tak cukup puas memandangi wajahmu melalui album facebook atau di instagram milikmu, hanya menjadikan inti hati ini tak kelar disetubuhi duri.

Kau tahu? Rindu ini tak terbatasi, selalu hadir di hati larut di dalamnya. Kepunyaanku hanya waktu yang mati serupa jarum yang berdetik pada jam dinding batu. Aku pernah bermimpi, kau berbisik padaku tentang dongeng negri bunga, warna dan cahaya. Di sana ada taman di bawah kerlip gemintang. Di sana kau memintaku memungut sepercik cahaya berwarna biru yang mempunyai cerita tentang keindahan puisi. Akupun terbangun linglung, sebab makna telah terserap habis yang kau hadirkan dalam mimpi semu.

Lagi-lagi rindu menjadikanku penyair gerimis yang kritis tanpa mengenal rapi setiap baris yang tertulis.

Sabtu, 19 November 2016

BUDAK JARAK

Hasil gambar untuk budak jarak


Puan...

Sekiranya kita mustahil mewujudkan hal yang semulanya nihil, adakalanya kita harus memafkan kolaborasi antara jarak dan rindu. Ketika ragu memorak-porandakan hati, hidup dalam kata-kata menggantungkan harapan, menunggu semesta menyetujui keinginan serupa yang sampai kini tiada pertanda.

Memang benar, kita adalah budak jarak yang memanipulasi benci guna beradaptasi mengindahkan bayangan untuk melarikan sendunya kenangan. Merasakan hidup bagai denting piano yang melesat tapi tersesat, tersebab irama gemuruh hati yang tak pekat. Menjadi manusia serupa buta, menerka-nerka semesta yang kerap bercanda, selepas jangkar terlepas setelah kapal berlayar.

Kita hanya punyai raut wajah kaku kala rindu menjadi anak jarak yang mengajari kita tuk bertanya dalam sajak-sajak. Ya, memang benarkan Puan, karena hanya dengan sajaklah kita bisa leluasa bercakap. Tak peduli di mana kita meletakkannya atau di mana kita sedang berada membayangkannya.

Seperti pertanyaan di dalam sajakmu:

“Apakah waktu takkan pernah lagi berpihak, saat alamku jadi diam, ketika mata membisu menatap remang kerinduan di ujung kemilauan senja yang menjulang?
Siapakah kita di hari esok Tuan?
Berjanjilah untuk tidak menyerah walaupun hati terlunta-lunta menyambangi peraduan rindu!”

Hambar rasanya setiap lidah berujar. Entah pada siapa harus bersua mengatakan yang ingin kucurah. Aku tidak punya pilihan selain hanya sanggup menerka sambil mengukir skema di dinding kamar tanpa pelita. Hiduppun kian terangkul gelap sampai tak ada satupun jangkrik ingin hadir mengusik senyap dalam perangai sajakmu yang mengajakku bicara dengan sendirinya.

Puan..

Kita hanya diperbudak jarak tentang dongeng perjalanan. Jarak hanyalah sebuah kebetulan dan waktu jadi sebuah alasan. Mungkin kita semakin tidak mengerti tentang pertemuan, ketika kita menikmati kelambu jingga bersama kawanan mega yang berarak pergi jauh sampai ke belahan bumi lainnya. Matahari pun saat itu terusir dan kita akhirnya bertemu malam sambil menanti seekor kupu-kupu hinggap ke dalam toples. Barangkali, kita seperti itu Puan.

Bukan rindu namanya jika langit kita tak terluka. Pernahkah kau sadar tentang tangisan langit yang datang tanpa diundang? Kadang ia menjadi badai terhebat yang sangat ditakuti. Jarum-jarumnya begitu cepat menancap bumi dengan tak beraturan. Bukankah sering kita merasakan apa yang dirasakan langit.

Biarkan saja jarak yang kita benci menjelaskan dengan rinci pengertian rindu, yang tak pernah disampaikan kalbu. Biarkan perjalanan yang berbeda menjadi setetes air, yang menyerupai kita dalam tanya. Biarkanlah kita sesekali berkreasi sambil membaca situasi jeda temu, agar rindu tidak mati sia-sia menangkap hati. Sebab, semenjak menjadi perindu kita tidaklah mahir menipu diri dengan bisikan, karena dagu yang kita miliki pasti akan gagal tumpul akibat runcingnya airmata.

Saat ini kita sedang tertahan meratapi batas yang mengiris, maka izinkanlah jemari kita melepaskan elang terbang menduduki menara tertinggi di riwayat hati. Agar ketajaman mata sanggup memandang kita meskipun dalam keadaan meringis sembari menyair dan merintih, karena kita sedang sadar dalam teriak hati yang berujar perih menggenggam luka nanah yang pedih.

Kau perlu tahu Puan, bagaimana rasanya menjadi aku merasakan jarak semakin meluasi rindu. Aku tak sanggup lagi menguras samudera untuk membuang derita yang bernaung, mengajakku dengan sengit cara seni bertarung. Kita sudah terlanjur melantunkan hati kita yang terpaut, merekat dalam kabut, rindupun membalut, karena jarak kian menuntut.

Seharusnya kita mampu hidup seikhlas matahari yang tulus mencintai bumi. Agar kita mampu mengukur jarak di pantai panjang yang dikulum pasir bergaram, saat menyiratkan sesuatu yang padam, sesuatu yang geram. Memang benar, isyarat mata kala itu seakan perdu bagaikan sekumparan kabut yang kalut, bilamana rindu memadu menjadi bau gaharu. Namun, siapakah yang sanggup diantara kita menelungkupkan tanjung ke arah laut?

Objek rindu memang selalu jitu, tersebab jarak membombardir. Kini seisi hati kita ketar-ketir. Kita dibuat candu memandu ekor mata mencari arah, betapa bertemu adalah yang selalu ditunggu pada setiap kecilnya kesempatan. Ia selalu menaruh harapan, hampir setiap harinya kita melahap dengan doa-doa yang kemudian menua dalam air mata. Kita juga bertaruh dengan Tuhan, bahwa jarak hanya ujian bukan perpisahan yang melahirkan ketiadaan.

Jarak adalah pengarak rindu dan rindu seperti perantara kita. Mereka seperti kado istimewa dari pencipta. Sebab, melalui jaraklah rindu kita kian merangkak. Walupun kepastian itu belum ada di tangan, tapi rindu bisa kita pertahankan. Bukankah rindu adalah guru yang mengajari kita untuk sabar menunggu?

Biarkan saja rindu melumat hati kita melebihi porsinya. Melampaui sesak gemuruh dada yang mendesak. Entah apalagi yang bisa kita percayai melalui jarak yang membatasi. Manalah kita tahu setiap gerak-gerik yang kita lakukan di detik yang siap berlalu. Mana pula bisa kita menahan ingin dan angan yang terus berhamburan. Kita hanya bisa mengiyakan segala kemungkinan dan menaruh harapan pada doa yang tak pernah terlupakan.

Puan...

Biarkan aku menghafal seluruh bekas langkah, yang kusebut penyebab rindu. Biarkan aku mengingatmu lekat sambil mengeja harap tanpa lambat. Biarkan aku terus berharap, karena jarak memang tidaklah menakutkan. Nyatanya, kau tidak pernah jauh dari tempurung pikiran yang menetap tanpa sekat. Sebab itulah aku jadi pintar menumpuk rindu, agar tidak berserakan lalu tertinggal di belakang.

Tidak hanya aku, kau juga pintar menumpuk rindu. Sebab, jeda temu cukup lama menciptakan resahmu, menggamit sejumlah rasa bahwa jarak seumpama tak nyata demi meyakinkan hati menggenapi nanti.

Puan...

Nikmati saja proses ini.  kita hanya dua anak manusia yang melangkah dalam waktu untuk saling mengerti, memahami dan menerima. Resiko yang kita hadapi memang akan mudah menghempaskan kita, namun kita harus kuat, karena jarak takkan mengubah perasaan.