Hanya Rumah Kenangan, Bahasa Rindu, Budak Jarak, Amarah, Ucap Mata, dan Aroma Takdir.
Sabtu, 01 April 2017
Minggu, 26 Maret 2017
MENGAMINI DIAM
SENASIB ANGIN #5 JILID 2
Detak-detik
waktu yang menghitung jarak menganyam sejumlah pertanyaan. Dingin
menyapaku hingga terjaga ingatan, lirihku bernada sendu mencari tahu rindu temu
yang kaumau. Bagaikan pengharapan tanpa sepengetahuan, membuatku terpaku
sendiri menahan hentak yang menyakitkan. Ada sesuatu yang terbaca dari ucap mata
dan masih tampak jelas mengeja makna yang entah.
Apa kabar diammu? Masihkah
berdamai menanti peluk di depan pintu kepulangan? Maafkanlah yang terlalu
membiarkan kemarau rindumu menanti hujan sebegitu lamanya. Membiarkanmu cemburu
ketika melihat purnama dan senja menyatu pada janji pertemuan yang mereka
tunaikan. Bahkan untuk sekadar mengakui saja tak pernah melayangkan bahasa terindah.
Mungkin saja kaubosan dengan cara yang melelahkan itu. Mungkin kaubutuh
kepastian namun buram yang kaudapatkan. Jika waktu telah menuntutmu untuk
menghukum sebuah diam itu, tentu Ia bersedia dihakimi. Mungkin itu yang terbaik
ketika pena takdir kehabisan tinta untuk mencatat semuanya di atas kertas
kehidupan.
Bersama diammu, aku berusaha menyembunyikan
satu guratan luka dalam sepersekian kedipan mata, namun, aku terlalu mengenalmu. Ucap
mataku tak beralih sedetikpun seakan paham dengan suara dalam kepalaku yang tak
pernah sepi memanggilmu bahkan selalu riuh, dan
senantiasa gaduh. Kegaduhan yang ada mengekalkan rahasia
rindu yang beda di semesta kata-kata pena. Ketidakwarasan ini memang selalu
kunikmati karena dengan cara apalagi aku bisa menghibur diri ketika diam dalam
bentuk bicara yang kita pilih.
Aku
tak pernah tahu pasti bagaimana kabar rindu diammu sekarang. Mungkinkah ada
gerimis yang turun di matamu karena masalalu. Mungkin juga kaubertanya enyah
tentang rindu yang salah kaueja milik siapa. Hanya itu yang bisa kuterka ketika
kenangan jingga menyapa dengan nyala
suar mega dahsyat.
Rindu itu memang benar, prihal yang tak perlu
diberi nama. Biarkan saja rindu bersembunyi di balik debar sambil
berandai-andai. Biarlah bisikan debarnya terus-menerus melarung tanya lima kali
dalam lima waktu. Biarkan saja menjadi desau angin yang gerimis di
sunyi malam berkelip bintang bersama selengkung bulan. Biarkan saja hening
tanpa sapa, rindu mencuri wajah dalam bayang imaji mata. Terima kasih kautelah mengajariku
tentang diam. Namun janganlah sesekali bertanya ketika diamku berumur panjang.
Aku takut memberi jawaban padamu karena jawaban yang ada hanya membuatmu harus
menunggu.
Tentang rindu, dan
diam di antara kita, mungkin, berbeda harapan. Namun, bukan
berarti semua tak punya pinta. Meskipun diam saja semua akan terus bernyawa
menjalarkan segala perasaan. Rindu akan pasrah menyambut nasib karena tiada
yang lebih menyakitkan bila setabah karang. Sebab, rindu bukan sekadar arti kata yang di dalam
ensiklopedia. Rindu adalah segala-galanya harapan bagi insan yang tercekal peta
kehidupan. Bersama rindu yang mendekam inilah aku diam tak terkata. Hidup dalam
segudang tanya yang menulis kalimatnya dalam kepala. Kaujuga demikian, kan? Menyuarakannya
dalam kepala menulisi kata demi kata dengan tanya yang serupa.
Masihkah kaubetah diam
karena banyak diam yang berkepanjangan? Semoga kaubetah, dan tak lupa pada
sungguh yang kaubutuh dari hati yang utuh. Mungkin kautak menginginkan jiwa
yang bersungguh ini karena prihal menunggumu bukan memaknai itu. Biarlah nanti
palung hatimu yang menjejakinya untuk mencari tahu kenyamanan tempat di mana
kaumemilih menetap. Rindukan berpadu
meski butuh waktu, dan tak menentu pada siapa memilih temu.
Bersambung.......
Tanjungpinang,
20 Maret 2017
Kamis, 09 Maret 2017
BETAH
SENASIB ANGIN #4
“Hai,
adakah ingatan yang ingin kaubagi ceritanya? Aku melihatmu hampir setiap hari
selalu mengisyaratkan mata menatap jauh tanpa batas” tanyaku.
Sejenak
suasana menjadi hening. Keadaan tak berubah. Mungkin saja caraku menyapamu
salah hingga kau tak berkenan menjawab, hanya menoleh sejenak lalu kembali
berpaling. Mengapa tidak memilih pergi saja, atau mengusirku?
Sepertinya
kau malu atau memang sengaja tak ingin mengadu. Tak apa, karena aku adalah
orang yang tak pantas tahu. Mungkin ada baiknya kita berteman seperti ini, berteman
dengan keadaan, menikmatinya dalam diam, dan mungkin juga perasaan yang sama
–rindu dan menunggu.
Setiap
harinya selalu begitu. Kau dengan kesibukan menatap jauh, dan aku hanya disibukkan
memerhatikanmu. Jarak yang terlipat tak membuat kita saling bicara.
Rasanya begitu menarik, mengenalimu
dalam situasi seperti ini, dan kau mengenaliku dengan keadaan yang begini.
Nyata namun tak ada, ada namun tak nyata. Sebetah itukah kita?
Apa
yang sebenarnya sedang terjadi denganmu? Aku menghirup aroma rindumu yang
sedang menuggu seseorang. Mungkin saja ada seseorang yang begitu berartinya
bagimu. Seseorang yang pernah bahkan masih menjanjikan sesuatu padamu. Hanya
saja ada jarak yang tak terlipat atau temu yang alpa, bahkan bisa jadi kau
tersia sendiri menanggung tanpa kepastiannya. Isyarat matamu bercerita seperti
itu. Aku hanya berpesan “bersabarlah” meskipun kau tak peduli.
Bolehkah
aku bercerita sedikit saja?
“Aku
pernah mendengarkan sebuah cerita dari seorang teman perempuanku. Dia telah
menyesali sebuah kata ‘sepakat’. Sepakat yang membuat dirinya betah melipur
lara dengan tanya tanpa suara. Dia mengakui cintanya, tapi tak juga tiba
seseorang yang sudah mengajarinya untuk sepakat, bahkan hingga bertahun-tahun
lamanya. Dia memilih bertahan karena rasa cintanya yang begitu besar. Membuat
dirinya tak berkutik melawan arah yang menggantungkan harapan. Padahal dia
sadar bahwa jarak sudah berbicara banyak tentang kisahnya, tetapi dia tetap
memilih tersenyum, dan bertahan. Dia tidak mengurung dirinya, dan larut dalam
kesedihan yang berkepanjangan. Perempuan itu juga bercerita, dan berpesan
kepadaku, jauh lebih baik memulai rindu, dan menunggu tanpa memulai cinta, daripada
memulai cinta, dan sepakat tapi yang didapat hanya gelap yang pekat menganakkan
rindu dalam sebuah tunggu” begitulah ceritanya.
Cerita
itu sepertinya hampir sama denganmu. Mungkin kau telah sepakat untuk mengikat
hingga takdir tak tercatat. Aku mungkin sedikit beruntung darimu, karena yang
aku rasakan hanya prihal rindu, dan menunggu tanpa sepakat, bahkan tanpa
sepengetahuan. Namun keberuntungan itu tak juga mampu meredamkan rasa yang
menggebu. Tetap saja hujan di mataku sesekali deras bila malam mengingatkanku
tentang sebuah nama.
Demikianlah
rindu dan menunggu. Baik dengan kesepakatan atau tidak, sesekali pasti di dalam
hidup ini menjadi mendung yang menghujani mata. Namun tanpa disadari kita tetap
saja masih betah. Begitulah perasaan, jika tanpa alasan, maka ia tetap juga
betah menetap.
Terima
kasih untuk sore ini. Kau betah mendengar celotehku meskipun enggan menoleh dan
berkata satu katapun. Setidaknya aku sudah berbagi supaya senja tidak bosan
melihat kita yang selama ini memiilih diam. Semoga saja di lain waktu,
kau berubah pikiran dan kita bisa bertukar cerita tentang kabar-kabar
sunyi prihal rindu, dan menunggu.
***
Aku
sudah menyiapkan banyak pertanyaan. Demi rindu yang kunantikan dalam sebuah
tunggu yang masih kupertahankan. Aku masih berjuang untuk sebuah kepastian di
depan pintu keberangkatan sebelum benar-benar aku menuju ke rumahmu. Kita
pernah –berbagi untuk sebuah cerita yang mengundang kenangan– saling
menguatkan.
Semalam,
aku melihatmu masih enggan bicara meskipun aku memulai cerita tentang seorang
teman perempuanku. Kautahu siapa dia, jika aku harus menjelaskannya lagi
mungkin akan kuberi nama yang tak ubah sebutannya adalah namamu. Pernahkah kau
ingat sebelum, dan setelah diam menjadi teman baik kita, apakah kaudapat
menyiratkan tentang sebuah perasaan yang kujaga untuk siapa. Mungkin hanya aku
yang berpikir demikian sehingga suara di kepalamu tak mampu menerka setiap
bentuk kenangan yang diucap mata.
Aku
mengerti. Bagimu melupakan adalah tindakan yang paling kejam. Kau sadar akan
semua itu namun kau masih dalam naungan yang tak lantas membuatmu keluar.
Demikianlah rindumu yang kesepian pada sebuah tunggu yang terabaikan olehnya.
Kau berusaha menagih pertemuan yang dijanjikan namun yang sering terjadi padamu
adalah ganjil yang tak tergenapi.
Aku
sedang membicarakanmu tentang harapan yang selalu cemas, dan mimpi pertemuan
dalam sebuah tunggu yang betah. Kita sama-sama betah untuk tujuan yang
berbeda dengan prihal yang sama. Arahku padamu yang berlawanan dengan arahmu.
Nyeri yang serupa memaksa kita memelihara kupu-kupu yang terus menari
indah di pelupuk mata. Menghabiskan waktu untuk membayangkan kisah-kisah
senasib angin. Terasa ngilu di dada saat aku mencoba membenarkan firasatmu yang
meniadakan kita.
Aku
ingin tinggal di hatimu tapi aku sadar melodi terindahmu bukanlah aku. Mungkin
kaubutuh waktu untuk kembali mengeja firasatmu. Semoga kau tak lupa, diam dalam
bentuk bicaraku adalah cara bagaimana aku menulis rasa untukmu sampai saat
kaumampu membacanya.
Kau
tak perlu tergesah-gesah memaknaiku karena akan ada percuma jika kau tak
benar-benar paham. Aku tak sehebat dia, jadi kau butuh waktu untuk
menerjemahkan rasa agar firasatmu tak salah. Sebab, aku masih betah menunggu
akan kesiapanmu untuk benar-benar sembuh karena aku tak ingin menjadi penyebab
luka barumu di kemudian hari. Kaupaham keinginan terbesarku adalah mewujudkanmu
yang entah kapan kauberi kesempatan itu padaku. Masih memungkinkan bukan?
Meskipun betahmu masih bersandar pada sepakat yang telah lalu.
Kamis, 02 Maret 2017
MERAHASIAKAN DIRI (SENDIRI)
Senasib Angin #3
Aku
tak melibatkan hati menggarisbahwahi bahwa langit tak sewarna pelangi. Sebab,
kopi dan sepi sudah melengkapi perasaan ini.
Ada cinta yang sulit dieja, ada
rindu yang menjelma segalanya. Lantas, aku hanya memilih diam supaya tak
seorangpun mengira aku jatuh cinta, dan merasa mencintainya, karena cinta tak
selalu merah jambu, kadang hitam pekat juga putih pasi.
Aku
dengan sengaja mengutus rasa cintaku seperti embun, disembunyikan
matahari, dilelapkan bulan, dan dibangunkan fajar tetapi ia akan terus ada.
Supaya cinta ini tetap suci, tak ternodai luka, dan kecewa. Sebelum saat nama
itu kuikat di hari akad.
Aku
sadar, hati dan pikiranku belum rapi. Bayangkan saja, jika sudah sepakat
mengikat tanpa akad lalu ada kelengahan mata saat mendekat tatapan yang lain,
sebagai bentuk yang belum terkunci pasti cemburu kan. Sebab itulah, aku ingin
merawat hati dan pikiranku terlebih dahulu agar tiada pertengkaran seperti
kekanak-kanakan.
Kecemasan
kadang menjadi alasan bahwa aku takut kehilangan seseorang itu. Apalagi dengan
ketidaktahuannya akan rasa cinta ini. Rasanya hanya memiliki tujuan yang entah.
Ada tangis yang tak mampu kutahan. Ketika pekat malam memaksa hati dan pikiran
berkelahi hanya karena perasaan. Namun aku berhasil menghibur diri meskipun
takdir belum tercatat. Bukan karena mantra untuk sebuah lupa rasa tapi segenap
doa-lah yang menentramkan.
Aku
tak berniat sama sekali suatu saat nanti mengusir paksa perasaan ini ketika
hati dan pikiranku bertingkah membicarakan rindu dan menunggu. Sama sekali
tiada niatan ingin menghapus rasa cinta ini meskipun pada akhirnya seseorang
itu bukanlah takdir yang tercatat. Namun semua belum terjawab kan. Lantas,
prihal rindu dan menunggu, sssttt –cukup aku dan Tuhanku yang tahu– jauh lebih
baik kan.
Merahasiakan
diri memang tak semudah yang dibayangkan. Apalagi merahasiakan perasaan, tapi
Tuhan tidak tidur, Dia yang mengatur. Sebab itu aku tak terengah-engah mengejar
cinta. Aku sudah terbiasa memeluk cinta dengan kata, menggenggam dengan kalimat, dan berujar dengan doa. Semua selalu kusemogakan meskipun demikian tak
terkabulkan, akan tetapi; semua itu adalah ketentuan-Nya.
Aku
sudah jauh-jauh hari bersedia meyiapkan diri. Jika harapan yang kutata tak jadi
nyata, maka aku akan ikhlas lahir dan batin. Biarlah cinta yang tak lekang
meskipun harus menatap kebahagian punggung yang tak dirindukan. Aku akan
berkemas merapikan cinta yang berantakan demi cinta yang tak kurindukan.
Demikianlah aku yang jatuh cinta, merasakan nasib senasib angin dan
merahasiakan diri demi menentramkan hati, dan pikiran.
Bicara
tentang senasib angin, aku tidak akan lupa denganmu. Wanita tangguh yang
kutemui di senja lembayung jingga yang berlayar mengarungi samudera kebencian
setelah kehilangan harapan. Jika kau membaca tulisan ini, pasti kau akan tahu
bahwa ada seseorang juga yang bernasib sama, itu adalah aku.
Aku
sama sepertimu, tak mampu menuang perasaan, dan hanya mampu menata kata per kata dari
sepi ke sunyi. Rindu berkisah selalu bercerita. Tentang ranting-ranting yang
bernyanyi, tentang rintik-rintik yang bersenandung. Ketika hari hampir selesai
menemani siang, aku hanya bersiap sendiri menyambut badai malam. Sebuah hal
yang serupa kau rasakan, merasakan nasib senasib angin.
Kau
sedang menunggu, apa bedanya denganku, juga menunggu. Sungguh, kau tak sendiri
merasakan getir hidup yang membebani hati dan pikiran. Monolog yang kauciptakan
pun sama denganku, lebih sedih dari sedih, berunding tanpa ujung dan berujar
tanpa pasti. Bukan janji atau sumpah mati, hanya meyakini hati dan pikiran tentang
sebuah keyakinan kepada-Nya.
Kau
menanggung rindu, sedangkan aku mendambakannya. Kau masih berharap dengan
harapan yang telah patah. Begitu pun aku yang berharap dengan patahan harapan
yang kutata. Jika dulu, bahkan mungkin sampai sekarang, aku sering hadir di
senjamu. Aku tak berniat untuk mengganggu, sama sekali tidak. Hanya sekadar
kebetulan mendapati undangan yang sama dari lembayung jingga. Begitulah awal
saat waktu mengizinkanknku masuk ke duniamu meskipun tanpa kesepakatan darimu.
Kau
tak perlu takut. Sekali lagi kuperingatkan, jangan takut. Aku memang berada di
tempat yang tak begitu dekat denganmu tapi aku punya mata yang beralamatkan
kau. Aku memang tak berdialog denganmu, tapi prihal tentang rindu, dan menunggu
aku selalu berdialog dengan Tuhan, dan tentangmu selalu kutanyakan
“mengapa
gadis itu begitu betah mengasingkan diri, padahal ada aku di sekitarnya
merasakan nasib yang sama, senasib angin?” aku selalu berujar begitu, di
sela-sela doa-ku yang merahasiakan diri.
Maaf,
aku tak bermaksud lebih dengan melibatkanmu dalam kesibukanku setiap kali
mengangkat tangan sedada. Tentu tentangmu yang kualamatkan ke Tuhan adalah sebuah
kebahagian untukmu. Siapa tahu Tuhan mengabulkan doaku, meskipun doamu tidak.
Sebab, kebahagian memang menjadi rahasia Tuhan.
Tanjungpinang, 26 Februari 2017
Bersambung.....
Sabtu, 25 Februari 2017
KEAJAIBAN WAKTU
SENASIB ANGIN #2
Ada
perundingan antara hati dengan pikiranmu. Semua perundingan hanya bertumpu pada
sekumpulan rindu dan menunggu. Sebuah Monolog singkat yang membuatmu sesak.
Kemudian yang kaudapati hanyalah nasib senasib angin yang dengan mudahnya
menghujani kedua bola matamu.
| Add caption |
Kau
masih menunggu. Seseorang yang pernah menjanjikanmu sebuah istana terindah di
hatinya. Namun seseorang itu seolah berlibur kabur tanpa enggan mengukur dosis
rindumu yang babakbelur. Segenap hati dan pikiranmu pun hancur merasakan nasib
senasib angin. Namun kau tetap mencoba untuk terus mencatat namanya di setiap
halaman baru bukumu, sebagai lembar alasan bahwa kau masih menunggu. Kau tak
pernah peduli meskipun yang membaca buku itu hanyalah rindu.
Sebenarnya
kau tahu, prihal menunggu tak ubahnya dengan rasa secangkir kopi yang menagih
gula untuk diaduk kembali. Namun kau tak peduli, bahkan kau sanggup menjadi
kemarau yang bersikeras terjaga hingga larut menunggu hujan tanpa kepastian.
Lantas hujan yang menjadi penantianmu hanya bayangnya yang merintik di kepala
dan mengalir di kelopak matamu. Tinggallah Rindu dalam dahaga temu yang menjadi
menu waktu yang terus-menerus menawar getir pilu padamu.
Kau
kehilangan, lantas perayaan yang menjadi kenangan tak cukup juga mengubah
perasaanmu. Padahal kau tak berpura-pura sadar. Namun segenap hati yang terus
bicara atas pesakitan tak mengubah alam pikiranmu untuk tetap berpegang teguh,
menunggu. Bebanmu yang begitu berat, tapi kau tak pucat memahatnya meskipun
tidurmu tak lagi nyenyak.
Kau
selalu bersedia siap dengan berjuta harap akan segera cepat kau temui sebuah
jawab. Namun yang kau dapat hanyalah menatap bayangan yang menetap membuat
bibirmu gagap berucap. Kau tak menemukan cara apapun untuk menyelamatkan
perasaanmu yang kehilangan alamat. Sungguh, kau bisa sesabar itu hidup dalam
bujuk semu merasakan nasib senasib angin.
Ketidahtahuannya
tentang dirimu yang kerap membantah prihal melupakan, tak juga sanggup
membuatmu menghindar dari harapan yang sejak lama terabaikan. Pahit perpisahan
tak lagi jadi pertimbangan, bahkan janjinya yang hilang tak kau beri nama
penghianatan. Sungguh, kisahmu tak kau sebut malang meski kau telah hidup
berjalan pincang terpatahkan harapan. Kau selalu membicarakannya padaNya,
tentang harapan yang cemas dan kerinduan yang mengangankan pertemuan.
Kerinduan
yang kau rasakan sama persis dengan cuaca yang membekukan peluk ketika dingin
dan melelehkan airmata saat kemarau. Kerinduan dan harapanmu yang telah menyatu
itu seringkali bertentangan dengan pikiranmu yang sudah bosan. Namun hatimu
masih menguatkan hingga monolog perundingan pun tak berkesudahan, sebab kau tak
mampu memberi keputusan untuk langkah yang terasingkan tujuan.
Kau
tak peduli dengan pertengkaran hati dan pikiranmu. Rindu memang tak kenal
waktu. Hanya mampu diucap oleh mata ketika yang datang hanya sebatas wajahnya
yang merona lalu hilang. Pada bayangnya itu pula kau salah mengeja makna sehingga
tanpa sungkan kau meminjam kesedihan berkepanjangan.
Sudah
terlalu lama kau menderita. Penderitaan yang ada kau jadikan indah. Matamu yang
tak pernah lelah berkaca-kaca, merasakan nasib senasib angin. Namun semua itu
justru membuat rindu dan prihal menunggumu betah menginap dalam sajak doa yang
kau harapkan keajaiban waktu dari-Nya.
Tanjungpinang, 24 Februari 2017
Bersambung.....
Jumat, 17 Februari 2017
SENASIB ANGIN (SENJA)
Bolehkah sejenak aku
masuk ke duniamu?
Sudah lama kaujatuh
cinta pada senja, pada semua pernik langit yang melukiskan keindahan di kala
mentari perlahan surut di ujung cakrawala dan menawarkan kebahagian. Begitu pun
kaumenyempatkan diri untuk sendiri menghadiri senja hampir setiap hari.
Sepertinya kau sedang memahami tentang teori kebencian, impian, kenangan juga
kerinduan. Namun semua yang terpapah membuat hatimu berdenyut seolah-olah
bernanah. Lantas dalam pikiranmu melogikan fakta, tetap berdiri, dan berbicara
diam dengan segelintir tanya tentang sebuah nama yang kausemat dalam doa.
Masih dalam periode senja
kelabumu tanpa episode baru. Suatu hari di Februari kala senja yang terus
kauhadiri hampir setiap hari, menyapamu dengan merdu, dan kembali menawarkan
kebahagian. Tanpa penolakan seribu alasan, sebuah kejadian yang sudah terbiasa
kaurasakan nasibnya senasib angin. Kausambut dengan harapan yang jelas sudah
kautahu bakal semu. Kaumemang tak bergerak kemanapun akan tetapi; hati dan pikiranmu
tetap berlayar melintasi samudera kebencian sekadar bertujuan menjemput
kenangan yang menjadi impian bakal terulang.
Masih juga dalam
periodemu yang sama dengan episode serupa. Antara ada dan tiada, rindu masih
terus mengunjungi hati dan pikiranmu yang sudah tak tertanggungkan lagi rasanya.
Senja pun mengingatkanmu untuk tetap tidak lupa memberi kesempatan pada hati
dan pikiranmu untuk berlayar kembali di sore hari. Kaupun pasrah dan berserah,
membiarkan senja mengatur skenario drama kosongmu yang setiap harinya
disaksikan lembayung jingga hingga langit menua renta tak sanggup kaucegah. Kautersenyum,
juga sesekali menitikan airmata, dan yang kaurasakan hanya nasib senasib angin.
Masih dalam periode
yang sama tanpa episode yang berbeda. Teorimu mulai rapuh dan dalam sekejap
hatimu runtuh, mulai merangkai aksara menjadi bicara tentang tanya besar antara
hati dan pikiranmu yang janggal. Pertanyaan yang ada tak satupun mampu kaujawab
dengan sederhana. Kauhanyut dalam mega rindu akan kenangan yang bergelombang,
memintamu berlayar kembali melintasi samudera kebencian. Kau tak bisa
menolaknya, hingga jiwamu menyebrang jauh dalam angan pertemuan yang kau rindukan.
Pertemuan yang selalu kau harapkan itu adalah pertemuan yang kau sendiri tak
tahu pada siapa kau akan bertemu, entah seseorang di masa lalu atau akan ada orang
baru.
Alangkah hebatnya senja
mengajak hati dan pikiranmu berlayar tak bernahkoda. Kiranya kau akan tersesat
di setiap harinya, namun kau selalu kembali dengan selamat menyambut pekat
malam yang dahsyat. Semoga kau terus bahagia sebagai pelakon senja drama kosong
lembayung jingga, hingga periode kelabumu usai dan kau tata episode baru sampai
menuju surge.
Aku pamit untuk kembali
keluar dari duniamu, terima kasih telah mengizinkanku masuk sejenak untuk merasakan
hal yang sama, merasakan nasib senasib angin.
Tanjung Batu, 16 Februari 2017
Bersambung.......
*Tulisan ini ditulis
untuk orang-orang yang menyukai senja dan menikmati setiap pernak-pernik langit
jingga. Ada sebagian dari mereka yang menceritakan kepada bahwa betapa
berartinya senja di dalam hidupnya yang mampu membuat hidup menjadi damai,
tenang, dan membahagiakan meskipun terkadang hanya sebatas kerinduan dan
khayalan. Bagi mereka senja adalah tempat menuangakan rasa yang tak berujar
kata belaka. Senja tak pernah mengingkari janji bahwa Ia selalu kembali. Sungguh,
senja tetap hadir meskipun terkadang badai berusaha menghalanginya, Ia tetap datang
tepat waktu dan pergi tanpa ragu. Begitulah senja, indah tanpa perhiasan,
mengagumkan, mendamaikan segala rasa serta melapangkan pikiran dan
mengajari kita untuk tetap bersyukur padaNya.
Minggu, 29 Januari 2017
MENGENAL KARENA TAKDIR, MENCINTAI KARENA JODOH
Semua ini tentang cinta yang akan menjadi bagian setiap tulisan-tulisanku.Tentang cinta yang meminta kita untuk tetap diam. Tentang cinta yang meminta kita untuk tetap mencintaiNya. Kita punya waktu untuk menjadi akrab dan berdampingan, tapi tidak untuk menceritakan tentang cinta yang sedang kita rasakan. Ada sikap yang terkadang membuat kita nyaman, saling bertatap muka, dan membagi cerita untuk saling menguatkan satu sama lain. Kita percaya bahwa sesungguhnya cinta bukan dari mana kita bertemu dan bagaimana kita bersama, tapi dari cara kita mendekat kepadaNya si pemilik cinta. Seandainya jodoh pasti akan kita temukan sebuah jalan untuk menuju rumah yang kita impikan bersama dalam doa karena kita adalah kata yang belum ada rupanya. Pernikahan pun hanya sebuah wacana yang selalu kita bicarakan ketika menghadapNya untuk sebuah rencana masa depan. Dan semoga kita membicarakan hal yang sama.
Cinta
yang aku rasakan memang tanpa kepastian namun itu bukanlah sesuatu yang
menghalangiku untuk tetap merasakan cinta. Lihat saja dari tatapan kita ketika
berpapasan, ada sesuatu yang tak bisa kita hindari, sesuatu yang belum kita
mengerti, namun menjadi sesuatu yang begitu berarti. Ah…sudahlah, mungkin itu
hanya firasatku tapi ada benarnya juga -bisa sajakan kita saling mencintai tapi
gengsi- karena perbedaan angka dalam jumlah yang tidak sama atau mungkin hanya
aku saja yang merasakan cinta tersebut. Entahlah, aku tidak punya jawaban yang
tepat untuk semua itu jika ada orang lain yang bertanya tentang kita.
Aku
tidak ingin banyak berkomentar tentang cinta yang sedang aku rasakan. Saat ini
yang aku lakukan hanya berusaha dengan segala kemampuanku menyelesaikan semua
yang sudah dimulai. Biarkanlah kita bergerak untuk saling mendekat dengan bekal
doa dan berharap Allah menjaganya, meskipun belum tentu aku yang kausebut di
dalam doamu. Namun aku tidak takut, aku tetap berusaha memantaskan diri sampai
tiba hari yang memersatukan kita. Aku akan terus berusaha sebisaku, semoga
Allah meyakinkan hatimu untuk menerjemahkan cinta dalam bentuk pernikahan
meskipun dengan segala perbedaan yang ada. Bagiku bukanlah suatu masalah besar
untuk memersiapkan diri sebagai dua anak manusia yang saling mengenal karena
takdir dan mencintai karena jodoh.
Saat ini kita memang tidak beruntung, jika benar kita adalah sesuatu yang diinginkanNya maka kauharus menunggu lama. Maafkan aku yang membuatmu sekiranya ragu karena aku tidak pernah mengatakan cinta. Kauperlu tahu alasannya, aku tidak ingin mengotori hati kita hanya karena cemburu yang tidak pantas digugat. Aku ingin kita menjadi hati yang siap tanpa gugatan, bukankah itu adalah pengalaman disaat kita saling berbagi cerita tentang cinta di masa lalu. Cinta yang sempat membuat kita hilang arah dan berpikir patah hati adalah hukuman. Oleh karena itu, aku tidak ingin cinta yang sedang aku rasakan ini membuat kita merasakan hal yang sama seperti di masa lalu.
Apalah artinya cinta
jika terlalu tergesah-gesah mengatakannya, justru di antara kita ada yang
kecewa?
Cinta
bukanlah sekadar kata-kata romantis yang tersusun dengan sistematis pun tidak
mengenal usia. Cinta, cukup kau dan aku yang menjadi bukti jika diberi
kesempatan untuk menjadi kita. Begitulah cinta yang masih kurahasiakan padamu.
Cinta yang sama sekali belum pernah kukatakan bahwa aku mencintaimu karena aku
ingin membuktikan kesetian cintaku kepada Allah terlebih dahulu sebelum aku
menghalalkanmu dalam sumpah kita atas cinta dan kesetian dihadapan penghulu. Oleh
karena itu aku menitip rasa ini kepada Allah agar nanti aku pun siap, andai
kita berjodoh pasti akan bertemu dan duduk bersama di kursi bak Raja dan Ratu
sejagad atau pun di antara kita hanya sebagai tamu yang datang memberi doa
restu.
Langganan:
Postingan (Atom)


