ANALISIS DONGENG “Kisah Telaga Bidadari”
Unsur-unsur yang
dianalisis adalah Unsur Instrinsik:
1.
Tema
2.
Latar
3.
Alur/Plot
4.
Tokoh dan Penokohan
5.
Sudut Pandang
6.
Gaya Bahasa
7.
Amanat
Hasil dari
analisis berdasarkan unsur-unsur instrinsik di atas:
1.
Tema
Dongeng
ini menceritakan bagaimana kisah terjadinya dari awal sampai akhir pernikahan
dari seorang manusia (Awang Sukma) dengan seorang bidadari (Putri Bungsu)
2.
Latar
a. Hutan
Di dalam hutan
yang belantara pada saat Awang Sukma mengembara..........
b. Telaga
Di
sebelah telaga yang jernih dan bening di bawah pohon yang rindang..........
3.
Alur/Plot
Maju, karena di dalam
dongeng ini secara garis besar menceritakan tentang sebuah rencana dimasa yang
akan datang.
4.
Tokoh dan Penokohan
a. Awang
Sukma
·
Seorang pemuda yang
perkasa dan tampan bergelar Datu di tempat dia tinggal.
·
Sebagai seorang pencuri
selendang salah satu dari 7 bidadari
yang pada saat itu sedang mandi di telaga.
·
Sebagai ayah dari
Kumalasari.
·
Baik hati, penolong,
dan pembohong.
b. Putri
Bungsu
·
Baik hati, penyayang, dan
pemaaf.
·
Salah satu dari 7
bidadari kayangan.
·
Sebagai seorang
bidadari yang baik.
·
Sebagai bidadari yang
kehilangan selendangnya.
·
Sebagai seorang istri
dari seorang pemuda yang gagah perkasa (Awang Sukma).
·
Ibu dari Kumalasari.
c. Kumalasari
·
Anak dari buah pernikahan
Awang Sukma dan Putri Bungsu.
5.
Sudut Pandang
Di dalam dongeng “ Kisah Telaga Bidadari” ini
terdapat sudut pandang orang ketiga, karena di dalam penulisan ini pengarang
hanya menceritakan apa yang terjadi seperti halnya penonton hanya melihat sebuah
pementasan drama. Pengarang sama sekali tidak mau masuk dalam pikiran si
pelaku.
Intinya, hanya dapat melihat apa yang diperbuat
orang lain dan dengan melihat perbuatan tersebut kita bisa menilai kehidupan
jiwanya, kepribadiannya, dan jalan pikirannya si pelaku. Pembaca hanya bisa
membei penafsiran cerita berdasarkan kejadian, dialog, dan perbuatan para
tokoh.
6.
Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam penceritaan dongeng
ini adalah hiperbola selain itu juga ada bahasa sangat sederhana seperti yang biasa kita gunakan
dalam kehidupan sehari-hari sehingga setiap para pembaca mudah memahami isi
dari maksud ceruta tersebut.
7.
Amanat
Dongeng ini memberi pelajaran yang sangat berarti
dalam penceritaannya. Di dalam dongeng ini mengajarkan kita bagaimana caranya
bahwa menyimpan sesuatu yang bukan hak milik kita pada suatu saat nanti pasti
terungkap. Karena apabila kita menginginkan sesuatu yang baik haruslah dengan
cara yang baik.
LAMPIRAN OBJEK PENELITIAN
Dahulu kala,
ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma
mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam
kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon
yang sangat besar.
Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma
diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang
Sukma berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang
jernih dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan
buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga hidup dengan
riangnya. "Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan
keindahan yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma. Keesokan
harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara
riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang
Sukma mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat
ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air.
"Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma. Tujuh gadis
cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan
selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga.
Salah satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma.
"Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon
itu," gumam Datu Awang Sukma.
Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang
masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah
seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam
kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya.
"Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi
tinggal bersama hamba," bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu
menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka
tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang
Sukma.
Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan
Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah
perkasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian
lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari.
Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia. Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas
lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha
mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu
yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa kira-kira isinya ya?"
pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak
gembira. "Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun
didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi
ia pun sangat sayang pada suaminya.
Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan.
"Kini saatnya aku harus kembali!," katanya dalam hati. Putri Bungsu
segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayinya.
Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan minta maaf
atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu.
Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda,
dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik," kata Putri Bungsu kepada
Datu Awang Sukma." Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke
angkasa. "Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan
masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan
seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri Bungsu. Putri Bungsu
segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang
Sukma menatap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara
ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.